Program S3 Manajemen Universitas Negeri Surabaya

Kampus Berdampak dan Masa Depan Pengabdian Mahasiswa

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Odjie Samroji
Odjie Samroji

i

Oleh: Odjie Samroji
Pengurus HIMA Bid. Eksternal & Pengabdian Masyarakat

Program S3 Manajemen Universitas Negeri Surabaya

 

Beberapa tahun terakhir, istilah Kampus Berdampak semakin sering kita dengar dalam berbagai forum pendidikan tinggi. Gagasan ini lahir dari sebuah pertanyaan sederhana: sejauh mana kampus benar-benar hadir untuk menjawab persoalan masyarakat?

Pertanyaan tersebut penting karena perguruan tinggi sesungguhnya tidak kekurangan kegiatan pengabdian. Hampir setiap tahun mahasiswa turun ke desa, sekolah, komunitas, hingga pelaku usaha mikro melalui berbagai program. Kegiatan berlangsung, laporan selesai dibuat, dokumentasi dipublikasikan. Namun setelah semuanya berakhir, sering kali muncul pertanyaan yang jarang kita diskusikan secara serius: apakah ada perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat?

Sebagai seseorang yang cukup lama berkecimpung dalam dunia pendidikan dan kegiatan pemberdayaan masyarakat, saya melihat bahwa tantangan pengabdian mahasiswa saat ini bukan terletak pada kurangnya semangat untuk terjun ke masyarakat. Justru sebaliknya, antusiasme mahasiswa sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana memastikan energi tersebut menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.

Di banyak tempat, pengabdian masih dipahami sebagai sebuah kegiatan. Padahal masyarakat tidak membutuhkan kegiatan. Masyarakat membutuhkan solusi. Pelaku UMKM tidak sekadar membutuhkan seminar kewirausahaan, tetapi akses pasar dan pendampingan usaha. Sekolah-sekolah di daerah tidak hanya membutuhkan motivasi belajar, tetapi juga dukungan peningkatan kapasitas guru dan literasi peserta didik. Demikian pula masyarakat yang sedang beradaptasi dengan perkembangan teknologi membutuhkan pendampingan yang lebih konkret daripada sekadar sosialisasi.

Karena itu, sudah saatnya orientasi pengabdian mahasiswa bergeser dari sekadar melaksanakan program menuju upaya menyelesaikan masalah. Pergeseran cara pandang ini penting agar pengabdian tidak berhenti sebagai rutinitas akademik, tetapi menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat.

Mahasiswa memiliki modal yang sangat besar untuk mewujudkan hal tersebut. Mereka dibekali kemampuan berpikir kritis, akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta keberanian untuk mencoba berbagai inovasi. Potensi ini akan jauh lebih bermakna ketika digunakan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Dalam konteks inilah konsep Kampus Berdampak menemukan relevansinya. Kampus tidak cukup menjadi tempat lahirnya teori dan penelitian. Kampus harus menjadi ruang lahirnya solusi. Pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi semestinya dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang dirasakan oleh masyarakat luas.

Tentu tidak mudah mengukur dampak sebuah pengabdian masyarakat. Namun setidaknya kita dapat mulai mengubah pertanyaan yang selama ini digunakan untuk mengevaluasi program. Bukan lagi berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, melainkan masalah apa yang berhasil dibantu penyelesaiannya. Bukan lagi berapa banyak peserta yang hadir, tetapi perubahan apa yang terjadi setelah program selesai.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengabdian bukanlah tebalnya laporan atau banyaknya dokumentasi kegiatan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat merasa terbantu, memperoleh pengetahuan baru, menjadi lebih mandiri, dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk berkembang.

Jika semangat ini terus diperkuat, maka Kampus Berdampak tidak akan berhenti sebagai slogan. Ia akan menjadi gerakan bersama yang mendekatkan perguruan tinggi dengan masyarakat sekaligus mengembalikan makna pengabdian kepada tujuan utamanya: menghadirkan manfaat bagi sesama. Semoga ! (Odj)

Berita Terbaru

Ekspresikan Potensi dan Lestarikan Budaya dengan Gelar Lomba Desian Batik

Ekspresikan Potensi dan Lestarikan Budaya dengan Gelar Lomba Desian Batik

Selasa, 06 Okt 2026 17:19 WIB

Selasa, 06 Okt 2026 17:19 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lamongan terus mendorong kreativitas generasi muda dan masyarakat dalam…

Tarik Minat Milenial Muda untuk Jaga Keberlangsungan Pertanian

Tarik Minat Milenial Muda untuk Jaga Keberlangsungan Pertanian

Selasa, 06 Okt 2026 17:17 WIB

Selasa, 06 Okt 2026 17:17 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Seiring dengan kemampuan swasembada pangan serta etos kerja petani yang luar biasa dimiliki Kabupaten Lamongan, Bupati Yuhronur…

Terinspirasi Kampung Malaka Jaya, Ketua Komisi A Dorong Ketahanan Pangan dari Kampung

Terinspirasi Kampung Malaka Jaya, Ketua Komisi A Dorong Ketahanan Pangan dari Kampung

Selasa, 06 Okt 2026 15:37 WIB

Selasa, 06 Okt 2026 15:37 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Dalam upaya membangun ekosistem ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga. Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko…

Ledakan di Pakuwon City Surabaya, 41 Bangunan Rusak Parah hingga 5 Orang Luka

Ledakan di Pakuwon City Surabaya, 41 Bangunan Rusak Parah hingga 5 Orang Luka

Selasa, 06 Okt 2026 15:23 WIB

Selasa, 06 Okt 2026 15:23 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ledakan keras di RM Nasi Tempong Sri Dewi di kawasan San Antonio, Pakuwon City, Surabaya, yang terjadi pada Selasa (6/10) sekitar…

Pastikan Pembelajaran Efektif, Pemkab Madiun Terus Evaluasi Sekolah Rakyat

Pastikan Pembelajaran Efektif, Pemkab Madiun Terus Evaluasi Sekolah Rakyat

Selasa, 06 Okt 2026 15:13 WIB

Selasa, 06 Okt 2026 15:13 WIB

SURABAYAPAGI.com, Madiun - Guna memastikan proses belajar dan mengajar berjalan tertib, efektif, dan sesuai dengan ketentuan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab)…

Per 2026, Pemkab Catat Serapan Pembelian Tembakau di Pamekasan Capai 42.575 Ton

Per 2026, Pemkab Catat Serapan Pembelian Tembakau di Pamekasan Capai 42.575 Ton

Selasa, 06 Okt 2026 15:07 WIB

Selasa, 06 Okt 2026 15:07 WIB

SURABAYAPAGI.com, Pamekasan - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, mencatat serapan pembelian tembakau petani oleh pabrikan pada musim tanam tembakau 2026…