Melongok Sentra Wisata Kuliner Binaan Pemkot (8)

Dibiarkan Mati Perlahan, SWK Lidah Kulon tetap Berjuang Mandiri

Rombong di SWK Lidah Kulon yang terpaksai dibuang karena rusak. Oleh Dinas Koperasi, beberapa aset rusak itupun tidak ada perawatan. SP/Anggadia Muhammad

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Diantara nasib beberapa Sentra Wisata Kuliner (SWK) yang tidak terurus, mungkin SWK Lidah Kulon bisa menjadi acuan gagalnya pemerataan di SWK yang dibina oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Karena berdasarkan pantauan Surabaya Pagi di lokasi dari SWK Lidah Kulon, Kamis (10/6/2021), kondisi SWK Lidah Kulon harus masuk ke dalam gang kurang lebih 100 meter. Dari jalan raya SWK yang telah beroperasi belasan tahun ini tidak tampak, selain tertutup bangunan juga tidak ada petunjuk apapun untuk pengendara motor jika terdapat SWK di wilayah itu.

Selain itu SWK Lidah Kulon ini berada di depan Kelurahan Lidah Kulon dan SMAN 13 Surabaya yang otomatis penghasilan dari SWK ini tergantung oleh dua instansi tersebut.

Bu Sri, sebagai salah satu pedagang yang paling lama menjelaskan bahwa SWK ini dibiarkan mati begitu saja. Pendapat Bu Sri berdasarkan fakta. Karena kebutuhan utama dalam SWK, yakni rombong, meja dan kursi, nyaris jarang mendapatkan bantuan atau perhatian dari Pemkot Surabaya dan jajarannya, yakni Dinas Koperasi dan UKM Surabaya.  

"Rombong itu sudah rusak mas, liat itu dibelakang sudah podho dibuangi sama orang-orang. Gitu yah gak ada yang merhatikan ngecek ke lokasi. Padahal kita-kita ini sudah disini, 10 tahun lebih. Tapi baru dapat bantuan Rp 1,2 juta awal tahun ini. Kursi ini semua yang ada disini swadaya pedagang sendiri, mas," keluh kesah bu Sri kepada Surabaya Pagi, Kamis (10/6/2021).

Selain itu, ia bercerita tidak ada bantuan promosi yang diberikan pemkot kepada SWK Lidah Kulon. Praktis, para pedagang disana hanya mengandalkan acara dari kelurahan dan SMAN 13 Surabaya.

"Ga ada bantuan promosi apapun. Hiburan musik Electone kayak ditempat lain juga disini gak ada. Kalo minggu ya tutup. Mau njuali siapa? Sepi. Kalo hari biasa cuma ada pegawai kelurahan sama guru-guru di SMAN 13 Surabaya," ungkapnya.

Benar adanya, saat Surabaya Pagi melongok ke belakang SWK Lidah Kulon yang terhampar rumput liat setinggi lutut kaki orang dewasa, beberapa rombong yang rusak ditumpuk dan dibuang. Ada juga beberapa kursi dan rombong yang yang dibiarkan tak terawat hingga kayunya keropos di sudut area SWK Lidah Kulon.

 Nampak juga mayoritas pedagang sudah mengganti rombongnya karena rombong yang diberikan Pemkot kebanyakan rusak. Hanya nampak Bu Sri yang menggunakan rombong pemberian dari Pemkot karena ia mengaku tak punya biaya, meski kondisinya mulai reyot.

"La sekarang suamiku supir bemo, aku jualan disini ya kondisinya begini, kursi meja beli sendiri ga ada uang mas buat bikin rombong baru", ujar Bu Sri, berkaca - kaca.

Dikonfirmasi secara terpisah, Andi, selaku pendamping SWK Lidah Kulon membenarkan bahwa belum ada bantuan untuk meja dan kursi. Padahal, ia selalu melaporkan dan mengajukan untuk meja dan kursi ke Dinas Koperasi dan UKM Kota Surabaya.

"Sudah tak laporkan 32 set meja kursi untuk (SWK) Lidah Kulon, Cuman sentra di Surabaya ini sudah banyak. Jadi sistem plotnya ini dibagi-bagi. Wacananya, nanti untuk sentra Lidah Kulon ada. Cuma gak tau kapan. Masih mau dianggarkan," kata Andi, saat dihubungi Surabaya Pagi melalui sambungan telepon.

Andi juga menyampaikan agar langsung ke dinas Koperasi untuk mengetahui informasi lebih detail.  "Kalo sampean mau lebih detail, datang saja ke Dinas Koperasi saja mas," jawab singkat Andi. ang/cr2/rmc