Serangan Covid-19 ke Indonesia, Makin Menggila

Nakes saat membawa salah satu pasien covid-19 yang tengah dirawat di RSLI Surabaya

Presiden Joko Widodo, Didesak me-lockdown tanah air. Total pasien positif Covid-19 sudah capai 1.937.652 orang. Bila tidak Dilakukan pengendalian yang tepat dan cepat pandemi Covid-19. Dikhawatirkan 2-4 Minggu ke Depan akan Mengkolapkan Indonesia

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Ternyata pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia, saat ini sudah semakin menggila. Berdasarkan lonjakan kasus yang terjadi sampai pertengahan Juni ini, sudah mencapai hampir 2 juta kasus Covid-19. Dari data per 16 Juni 2021, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan total pasien positif Covid-19 sudah capai 1.937.652 orang.

Dan dalam 14 hari terakhir, rata-rata pasien positif Covid-19 bertambah sebanyak 7.563 per hari. Sementara untuk jumlah kasus aktif Covid-19 juga terus melonjak dan belum ada tanda-tanda akan turun.

Kepala bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Masdalina Pane mengatakan jika tidak segera terkendali, diprediksi 2 minggu sampai 1 bulan ke depan fasilitas kesehatan terutama .

“Jika tak ada containment, tidak ada pengendalian yang tepat dan cepat saya bisa katakan 2 minggu sampai 1 bulan lagi kita sudah akan kolaps,” ujar Masdalina secara virtual, Kamis (17/6/2021).

Masyarakat diminta menghentikan sementara aktivitas yang tidak perlu, guna menekan lonjakan kasus COVID-19 di Tanah Air. Hal ini karena lonjakan penularan Covid-19 yang meningkat selama beberapa hari ini disebabkan mutasi virus dari India, bukan libur lebaran.

Kepala bidang pengembangan profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menegaskan lonjakan pasien yang terpapar COVID-19 dalam 10 hari terakhir ini memiliki tingkat mutasinya relatif lebih tinggi dari varian yang heboh di tahun 2020.

“Dalam situasi ini sebaiknya tidak boleh ada mobilitas lanjutan, terlebih di bulan depan umat Islam akan merayakan lebaran Idul Adha. Sebaiknya dilakukan pengetatan kembali untuk mencegah lonjakan lebih besar,” kata Masdalina.

Menurut dia, virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang berkembang saat ini merupakan varian Delta 1617.2 yang berasal dari India.

Jenis ini, kata dia, memiliki mutasi atau penyebaran yang lebih cepat walaupun virulensi atau keganasannya relatif lebih rendah.

“Varian inilah yang mendorong hampir empat provinsi di pulau Jawa kini menjadi zona merah kembali,” ujarnya

 

Sudah Hampir 2 Juta

Pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia sudah semakin menggila. Dari lonjakan kasus yang terjadi belakangan ini, sudah mencapai hampir 2 juta kasus Covid-19. Berdasarkan data per 16 Juni 2021, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan total pasien positif Covid-19 sebesar 1.937.652 orang.

Dalam 14 hari terakhir, rata-rata pasien positif Covid-19 bertambah sebanyak 7.563 per hari. Sementara untuk jumlah kasus aktif Covid-19 juga terus melonjak dan belum ada tanda-tanda akan turun.

Melihat keadaan Covid-19 di Indonesia yang semakin memburuk, sejumlah pihak menyarankan dan mendesak Presiden Joko Widodo, untuk me-lockdown tanah air. Salah satu pihak yang mengutarakannya adalah Pandu Riono selaku Epidemiolog Universitas Indonesia (UI).

"Kita harus cemas melihat kenyataan varian virus sudah berkumpul di Indonesia. Varian Delta dan Alpha sudah mendominasi," tutur Pandu, Kamis (17/6). "Harus ada keberanian melakukan karantina di wilayah yang sedang meningkat kasusnya."

Di lain sisi, jika dilakukan penerapan karantina wilayah, itu akan membuat perekonomian Indonesia kembali goyah dan terpuruk. Berkaca dari pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahun sebelumnya, membuat angka pengangguran melonjak, angka kemiskinan semakin naik, sebab pergerakan roda perekonomiannya tidak bergerak.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) di bukan Agustus 2020, menyebutkan bahwa tingginya angka pengangguran dan kemiskinan membuat ekonomi Indonesia terpuruk. Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun 2020 tumbuh -2,07 persen. Angka ini merupakan catatan terburuk sejak 1998.

Terkait dengan kekhawatiran akan kembali resesi apabila diberlakukan karantina wilayah, kemungkinan tidak akan terjadi. Hal ini dikarenakan adanya pertumbuhan PDB yang positif pada kuartal II di tahun 2021. Meski demikian, apabila karantina wilayah dilakukan dalam rentan waktu yang lama, tentu akan mempengaruhi hal tersebut dan bisa jadi kembali resesi.

 

Perketat Protokol Kesehatan

Kepala bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Masdalina, meminta agar pengawasan di lapangan untuk memantau penerapan regulasi khususnya protokol kesehatan harus diperketat. “Pengawasan di lapangan itu dibutuhkan untuk memantau apakah regulasi kita itu memang dilaksanakan dengan baik itulah tugas teman-teman di Satgas dan TNI Polri agar bisa mengawal penerapan regulasi,” tegasnya.

Masdalina pun mengatakan bahwa untuk mengatasi lonjakan Covid-19 ini bukan hanya dengan menambah kapasitas tempat tidur saja. “Karena itu strategi untuk mengatasi masalah ini tidak bisa hanya dengan terus menambah tempat tidur karena hanya pada satu titik itu akan terjadi lonjakan di mana RS dan tempat tidur sudah tidak mampu lagi mengatasinya,” paparnya.

“Maka yang harus dilakukan adalah containment di hulu jadi bagaimana caranya agar masyarakat itu tetap mematuhi protokol kesehatan tapi tracingnya kuat,” sambung Masdalina.

Meskipun, kata Masdalina, saat ini masyarakat mengalami pandemi hati. “Pada saat ini karena sudah hampir 1 tahun setengah, kita bisa memahami masyarakat juga mengalami pandemi hati, ada kelelahan di dalam mengikuti berbagai protokol kesehatan.”

“Karena itu sebenarnya kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat itu tidak tidak bisa lagi kita abaikan. Jadi memang harus keduanya berjalan bersama-sama,” imbuhnya.

Apalagi, Masdalina menambahkan bahwa Indonesia pernah mengalami penurunan kasus COVID-19 dan tidak mengalami kenaikan ketika libur panjang. “Karena kita juga pernah mengalami libur panjang yang kasusnya tidak naik, artinya model-model seperti itu yang harus kita lakukan jadi pada saat ini mungkin pembatasan mobilitas bisa menjadi solusi tapi itu tidak bisa lama.

 

Langkah Strategi Pemrov Jatim

Minggu ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai melakukan langkah strategis. Terutama untuk memutus penyebaran Covid-19, di wilayah Bangkalan dan Surabaya. Mengingat di dua wilayah ini banyak penambahan positif Covid-19. Langkah dari Pemprov Jatim antara lain mendirikan ruang karantina dan isolasi terpusat di kantor Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) Bangkalan.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa berharap, upaya ini bisa mempermudah koordinasi dan mempercepat penanganan antara kedua wilayah, Surabaya dan Bangkalan.

Pendirian tempat layanan tersebut juga sebagai lanjutan dari upaya pengetatan penyekatan yang dilakukan di kedua sisi jembatan Suramadu. Hal itu tentunya sebagai bentuk proteksi pemerintah kepada masyarakat di kedua wilayah.

"Kalau tidak dilakukan penyekatan dan swab antigen, maka mereka yang tidak merasa sakit akan melakukan aktivitasnya. Mobilitas ini berpotensi untuk menyebarkan virus Covid-19. Yang dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, bahkan Sumenep kita beri stempel yang nantinya akan menjalani swab test di BPWS," jelasnya, Kamis kemarin (16/6/2021).

Menurut Khofifah, selama ini, masih ada masyarakat yang kurang memercayai terjadinya penularan Covid-19. Inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya disiplin masyarakat dalam penerapan prokes. Karena itu kemarin, pihaknya meminta para kiai dan ulama serta tokoh masyarakat Bangkalan mengedukasi masyarakat untuk menaati protokol kesehatan (prokes).

"Saya mohon kepada para kiai dan ulama serta tokoh masyarakat bisa menyampaikan pesan tentang pentingnya menjalankan protokol kesehatan serta mengikuti vaksinasi," ujarnya usai menghadiri forum silaturahim dan dialog bersama para kiai dan ulama asal Kabupaten Bangkalan yang diselenggarakan Kemenko Polhukam, kemarin.

Pesan ini diharapkan dapat disampaikan baik di lingkungan pendidikan formal maupun non formal seperti pesantren. Khofifah menyebut, saat ini Covid-19 varian Delta B16172 telah masuk ke Jatim dan ditemukan di Bangkalan. Mutasi jenis ini, merupakan strain asal India yang lebih menular dan telah mengalami transmisi lokal.

“Tidak bisa pemerintah saja yang kerja keras atau masyarakat saja, tapi juga tokoh masyarakat, tokoh agama, TNI/Polri, ormas, dan elemen lainnya harus saling bahu membahu, mengingatkan agar tetap disiplin protokol kesehatan,” ujarnya.

 

Kondisi di Jakarta Khawatirkan

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran memberi peringatan keras terkait kondisi pandemi Covid-19 di DKI Jakarta.

Ia mengatakan Jakarta dalam keadaan tidak baik, karena kasus Covid-19 di ibu kota terus mengalami peningkatan.

"Saya titip salam kepada teman-teman wartawan, sampaikan kepada masyarakat, Jakarta sedang tidak baik-baik saja, angka Covid-19 terus naik," kata Fadil Imran di Polda Metro Jaya, Rabu (17/6).

Mantan Kapolda Jawa Timur itu menambahkan, berdasar data pasien di wilayah hukumnya, angka positif terus mengalami penambahan.

Oleh karena itu, Fadil meminta agar masyarakat, khusus warga Jakarta untuk lebih meningkatkan protokol kesehatan sehingga bisa menekan angka penularan Covid-19.

"Jumlah orang yang masuk rumah sakit makin meningkat. Mari jaga diri, jaga keluarga supaya taat prokes, supaya cepat keluar dari persoalan pandemi ini," tutur Fadil. n jk/erc/rmc