Koleksi terbaru untuk musim gugur dari Elie Saab di Paris Fashion Week 2016.

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Para pecinta mode dunia pasti menanti-nanti acara pekan mode di Paris. Acara yang mepresentasikan karya berbagai desainer ini digelar tiap 6 bulan sekali.

Ratusan editor mode, asisten, stylist, model dan kumpulan penikmat mode akan memadati ibu kota Perancis untuk melihat apa yang bakal populer di tahun depan.

Dari 4 kota mode di dunia, Paris mendapat kehormatan sebagai tuan rumah acara penutup festival mode Internasional yang berlangsung di "The Big 4" atau 4 besar kota mode dunia (London, New York, Milan dan Paris).

Bersamaan dengan pekan mode yang digelar di New York, London, dan Milan, Paris Fashion Week adalah acara puncak dari pameran karya desainer handal.

Nama resmi dalam bahasa Prancis untuk pameran busana ini adalah Semaine des Createurs du Mode. Sesuai dengan namanya yang begitu prestisius, pekan mode tahun ini akan digelar di Carrousel du Louvre, sebuah pusat perbelanjaan mewah di Paris.

Biasanya, acara ini akan diwarnai oleh 100 pertunjukan busana yang digelar di sepanjang kota dan diikuti oleh berbagai desainer, baik amatir maupun kelas atas.

Rumah mode ternama seperti Chanel, Christian Dior, Givenchy dan masih banyak lainnya juga turut memeriahkan acara ini. Tujuan acara ini adalah untuk menunjukan industri fashion yang sedang populer pada musim ini dan tren yang akan muncul ke depan.

Paris Fashion Week terbagi dalam 3 kategori, yaitu Men's Fashion yang akan memamerkan koleksi fashion untuk pria, Haute Couture, dan yang terakhir adalah Prêt-à-Porter.

Istilah Haute Couture ini sangat dilindungi di Perancis sehingga hanya rumah mode yang memenuhi kriteria tinggi dengan seleksi ketatlah yang mengklaim dirinya memiliki koleksi Haute Couture atau koleksi adibusana.

Sementara Prêt-à-Porter atau pakaian dengan ukuran standard dan siap pakai ini merupakan pameran rumah mode paling modern selama Paris Fashion Week.

Keanekaragaman budaya di Paris selalu menjadi sorotan publik. Banyak desainer dari seluruh dunia - contohnya Elie Saab dari Lebanon dan Issey Miyake dari Jepang memilih Paris sebagai rumah pertunjukan mereka.

Aksen etnik juga selalu muncul dalam busana yang dipamerkan, seperti pakaian dari bulu ala Rusia yang ditampilkan dalam Impasse de la Defense atau sabuk anyaman gaya Yunani dan motif cerah dari Afrika yang mendominasi The Louvre.

Sejak didirikan pada tahun 1973 Paris Fashion Week telah menjadi rujukan pecinta mode dan menjadi ajang bagus untuk promosi bagi desainer atau rumah mode.

Paris menjadi salah satu kota metropolitan di dunia mode dan kerap menjadi lokasi yang pas untuk sebuah pesta yang mewah.

Asal-usul Paris Fashion Week

Pada awal berkembangnya industri mode, dunia fashion di Perancis telah menjadi pemenang berkat keanggunan dan keindahannya. Kepopuleran dunia fashion di Perancis ini terkenal berkat peragaan busana yang berlangsung pada bulan Agustus di tahun 1914.

Pemimpin redaksi Vogue dari Amerika, Edna Woolman Chase, menyadari bahwa pekerjaan di atelier Perancis sangat macet karena keterlibatan Perancis dalam Perang Dunia I.

Pada saat itu Paris adalah lampu utama fashion sehingga tanpa desain Perancis untuk dibeli atau disalin, tidak akan ada mode di Amerika. Ini juga berarti tidak ada yang mengisi halaman Vogue.

Chase mencoba mengatasi hal ini dengan mendorong para pembuat pakaian terbaik untuk menunjukan desain mereka sendiri pada sebuah acara amal di ballroom Ritz-Carlton.

Chase juga membujuk wanita kelas atas untuk membeli tiket dan menonton pertunjukan tersebut. Dia membawa model ke toko penjahit dan mengajari mereka cara berjalan di atas catwalk.

Sayangnya, beberapa dekade kemudia banyak rumah mode kelas atas Perancis yang tutup karena perang dunia ke 1. Pada tahun 1943, tepatnya saat perang dunia ke II, kondisi rumah mode semakin berada pada titik kritis.

Saat Perang Dunia Kedua, para pekerja mode tidak bisa sampai ke Paris yang merupakan ibukota mode karena pendudukan Nazi di kota ini.

Dalam upaya mengalihkan perhatian dunia dari mode Perancis, humas Eleanor Lambert menerbitkan Press Week di New York untuk menampilkan perancang Amerika yang sebelumnya ditolak atau diabaikan oleh jurnalis mode yang telah dibutakan oleh dunia fashion di Paris yang begitu cerah.

Press Week berjalan sukses bahkan mengalahkan Vogue. Majalah fashion ini mulai menampilkan lebih banyak lagi desainer Amerika di majalah mereka yang sebelumnya didominasi Prancis.

Paris Fashion Week dimulai pada tahun 1973 dan Milan mengikuti tahun 1979. Lebih dari satu dekade kemudian, London bergabung dengan sebuah acara yang dipentaskan di sebuah tempat parkir di London Barat.lx/kmp