Catatan Politik, Dr. H. Tatang Istiawan

Satu minggu ini, rakyat Indonesia digegerkan oleh pernyataan Prabowo Subianto, yang mengutip Novel “Ghost Fleet”. Ketua Umum Gerindra ini sepertinya mengintepretasikan novel fiksi yang ditulis oleh P.W Singer dan August Cole, seolah sebuah penelitian ilmiah atau ramalan peramal masa depan sekelas John Naisbitt atau Mama Lauren.  Padahal dua penulis ini berlatarbelakang think tank kebijakan luar negeri AS yang berbasis di Washington.  Novel  yang memiliki tebal sebanyak 400 halaman ini diterbitkan pada 30 Juni 2015 oleh Houghton Mifflin Harcour di New York, Amerika Serikat. Buku berjudul 'Ghost Fleet' adalah sebuah novel tentang perang masa depan yang di dalamnya ada cerita Indonesia sudah tidak ada alias bubar atau diperingatkan dapat hancur pada tahun 2030. Tulisan yang bukan inti dari novel fiksi ini, Anda kutip untuk Pidato di depan kader Gerindra dalam acara Konferensi Nasional dan Temu Kader Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Rabu (18/10/2017).  "Di negara-negara lain, mereka telah membuat studi, di mana Republik Indonesia telah dinyatakan tidak lagi pada tahun 2030," kata Prabowo, mengacu pada Ghost Fleet. Sebuah klip video dari pidato ini kemudian diposting ke halaman Facebook resmi partai politik Prabowo pada 18 Maret 2018. Postingan ini menarik kritik dan ejekan.  Termasuk dari Singer, yang memposting di Twitternya. Demikian juga publik di Indonesia tak sedikit yang tercenggang. Apalagi dikaitkan image, Prabowo politisi  Pengagum Bung Karno. Prabowo, juga pernah disoroti pernah memiliki berkewarganegaraan Yordania. Dengan peristiwa ini, benarkah Prabowo Subianto, yang pernah gagal menjadi Presiden RI pada Pilpres 2014, masih patriotism-nasionalisme Indonesia ? Ada apa politisi sekelas Prabowo, mau mencukil novel fiksi untuk disampaikan kepada publik secara berapi-api?. Berikut catatan Politik, Wartawan Surabaya Pagi, Dr. H. Tatang Istiawan

 

 

Pak Prabowo,

Anda ini perlu belajar sastra lagi, seperti saat muda dulu. Mengapa? Sebuah buku memiliki 2 jenis yakni fiksi  dan buku nonfiksi. Pada buku-buku seperti novel dan kumpulan cerpen, penulisnya mampu menciptakan alur cerita yang sangat menarik, sampai-sampai kita terbawa pada alur yang diceritakan. Maklum, untuk menulisnya, memang dibutuhkan pengetahuan yang luas dan juga daya imajinasi yang bebas. Hal ini berbeda dengan Non-fiksi .

Novel fiksi, yang saya pelajari saat sekolah dulu merupakan buku yang berisi cerita yang sifatnya imajinatif. Tidak membutuhkan pengamatan dalam pembuatannya dan tidak tidak perlu dipertanggungjawabkan, karena ide ceritanya berasal dari khayalan atau imajinasi penulisnya. Sedangkan bahasa yang digunakan biasanya bahasa kiasan atau konotatif. Acapkali pembaca novel fiksi diajak untuk masuk ke dalam cerita itu dengan bahasa yang tidak biasa.

Ada Studi yang menunjukkan bahwa membaca fiksi meningkatkan theory of mind. Ini merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali keyakinan dan keinginan diri sendiri. Sekaligus juga memahami bahwa orang lain dapat mempunyai cara pikir, kemauan, dan cara pandang yang berbeda. Dengan kata lain, pembaca fiksi akan semakin mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain sekaligus lebih mampu berempati.

Maka itu, bagi sebagian orang,  membaca novel,  tidak lagi menganggap novel sebagai bacaan yang memboroskan waktu. Terutama bagi anak muda yang sekolah atau menjadi mahasiswa. Kini, sata pun pada saat usia  dibawah Anda tujuh tahun, saya menyatakan lebih bermanfaat  membaca buku-buku nonfiksi, seperti manajemen, biografi, spiritualitas, psikologi, pengembangan diri, dan lainnya.

Bagi saya, buku Non-fiksi. Ia merupakan buku yang berisi kejadian sebenarnya dan bersifat informatif. Dalam buku nonfiksi, membutuhan pengamatan dan data dalam pembuatannya, sehingga dapat dipertanggungjawabkan isinya. Bahasa yang digunakan biasanya bahasa denotatif atau bahasa sebenarnya. Dengan demikian,  pembaca dapat langsung memahami maksud dari isi buku. Dan buku nonfiksi dibuat berdasarkan pengamatan dan data-data.

Maklum buku Non-fiksi, memiliki isi yang selalu ada fakta-fakta. Tak heran, buku nonfiksi sering dijadikan sumber informasi oleh para pembaca. Tapi mengapa Anda, berani menjadikan novel fiksi ‘’Ghost Fllet’’ sebagai sumber informasi dan Anda publikasikan melalui pidato yang berapi-api di depan kader Gerindra, di Sentul Bogor, Oktobber 2017 lalu?

 

Pak Prabowo,

Apakah Anda tahu bahwa penulis novel 'Ghost Fleet', Peter Warren Singer, minggu lalu mengunggah foto Anda sambil berceloteh?.

Singer, menulis bahwa 'Ghost Fleet' sebuah novel tentang perang masa depan yang di dalamnya dilukiskan Indonesia sudah tidak ada alias bubar.

"Pemimpin oposisi Indonesia mengutip #GhostFleet dalam pidato kampanye berapi-api," tulis Singer lewat akun Twitter @peterwsinger seperti dikutip detikcom, Kamis (22/3/2018).
Singer juga mencantumkan tautan sebuah media berbahasa Inggris, yang memberitakan tentang Prabowo mengutip novelnya. Singer menyebut ini sebagai hal yang tak terduga.
"Ada banyak liku dan perubahan tak terduga dari pengalaman buku ini, tapi ini mungkin mengambil bagiannya..," tulis Singer lagi.

Novel 'Ghost Fleet' memang menceritakan perang antara Amerika Serikat dan China. Singer juga me-mention rekannya yang ikut menulis 'Ghost Fleet', August Cole.
"Fiksi, bukan prediksi kan?"* balas August Cole. Nah, piye kalau begini.

Beda dengan buku yang ditulis John Naisbitt, tentang Megatrends. Ini sebuah buku bestseller skala internasional. Buku ini ditulis tahun 1982 dan telah diterjemahkan dan diterbitkan di 57 negara. Buku ini berisi sejumlah perkiraan tentang masa depan. Tema yang diangkat berkisar seputar ekonomi, industri, dan perkembangan informasi.

penjabaran Megatrends berkisar perubahan di informasi ekonomi yang berfokus global ekonomi. Naisbiit menyoroti semakin tingginya peran teknologi dalam kehidupan manusia. Ini artinya, soal masa depan bisa diprediksi, berdasarkan pengalaman masa lalu dan masa sekarang. Beda dengan novel yang ditulis Singer dan Cole.

 

Pak Prabowo,

Saya mencatat, sejak Pilpres 2014 berlalu, Anda menempatkan diri sebagai oposannya pemerintahan Jokowi. Tak salah, sebagai partai oposisi, Anda bersama pengurus partai Gerindra  sering mengkritik, menentang, dan melawan kebijakan pemerintahan Jokowi.

Selain itu, oposisi  tercatat bersinonim dengan antagonisme, dan antithesis. Semuanya  bermakna ‘bertentangan’. Jadi, bisa jadi posisi Anda yang oposan  juga melakukan koalisi dengan sesama oposan yang saya catat selama ini PKS dan PAN.

Pertanyaannya, oposisi Anda ini kepada penguasa yang sekarang memimpin negeri ini, atau Anda tidak memiliki kebanggaan pada negeri ini?

Bagi orang-orang  patriosme-nasionalis yang mendalami ajaran Bung Karno, tokoh yang Anda kagumi, bisa tak simpati dengan Anda. Terutama momen menjelang Pilpres 2019, Anda mencukil bagian kecil dari novel fiksi berjudul 'Ghost Fleet' dan dipidatokan lalu diviral.

Sebagai pengagum Bung Karno, saya pikir Anda tahu bahwa Soekarno dianggap paling mewakili semangat patriotisme dan nasionalisme generasi muda Indonesia di masanya (masa kemerdekaan). Patriotisme Soekarno, martabat dan identitas diri sebagai bangsa merdeka sangat penting.

Bahkan Proklamator Kemerdekaan Indonesia lainnya, Bung Hatta pernah mengutip pandangan Prof. Kranenburg dalam Het Nederlandsch Staatsrech, “Bangsa merupakan keinsyafan, sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsyafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsyafan tujuan bertambah besar karena persamaan nasib, malang yang sama diderita, mujur yang sama didapat, dan oleh karena jasa bersama. Pendeknya, oleh karena ingat kepada riwayat (sejarah) bersama yang tertanam dalam hati dan otak”.

Nah, Indonesia sebagai Negara yang berdaulat adalah terdiri bangsa yang percaya atas kesamaan nasib dan tujuan. Apakah Anda bagian dari bangsa Indonesia?

Tekait pilihan Anda yang pernah mencalonkan diri sebagai Presiden tahun 2014 dan rencananya akan mendeklarasikan capres 2019 pada bulan April ini, mengapa Anda tidak mencoba menjadi seorang Patriotisme Buta (Blind Patriotism).

Patriotisme seperti ini Anda mesti memiliki keterikatan kepada bangsa dan Negara Indonesia tanpa mengenal toleran terhadap kritik seperti dalam ungkapan : “right or wrong is my country” yaitu benar atau salah, apapun yang dilakukan bangsa harus didukung sepenuhnya.

Atau memilih menjadi Patriotisme Konstruktif  yaitu keterikatan kepada bangsa dan negara  tetap menjunjung tinggi toleran terhadap kritik. Terutama untuk  dapat membawa perubahan positif bagi kesejahteraan bersama.

Nah, dengan mencukil bagian kecil dari novel fiksi 'Ghost Fleet' tentang bekas Negara Republik Indonesia, dimana patriotism nasionalisme Anda?  Benarkah Anda  Masih Patriotis-nasionalisme Indonesia? Hanya Anda yang bisa menjawabnya.

 

Pak Prabowo,

Anda mungkin tidak mengira bahwa pidato Anda tentang Indonesia bubar pada tahun 2030 membuat kehebohan sampai ke belahan dunia yang lain. Cole dan Singer, penulis novel fiksi ini juga tidak menduga karya fiksinya Anda jadikan rujukan. Apakah ini bagian dari pra-kampanye Anda menjelang Pilrpes 2019?

Bisa jadi, kekagetan Cole dan Singer semakin mempertegas bahwa apa yang ditulisnya tidak berdasarkan kajian, _namun murni hanya fiksi dan fiksi._Jadi, Tidak ada kajian ilmiah yang mengatakan Indonesia bisa bubar di tahun 2030. Mengapa Anda sampai mencukilnya? Apakah Anda ingin mencari perhatian publik terkait rencana ikut capres 2010?

Bisa jadi, patriotis nasionalisme Anda diragukan. Artinya, sampai kini, publik baru mengenal Anda memiliki  pengalaman militer dalam operasi militer di Irian dan Timur Laste. Publik belum pernah tahu Anda memimpin sebuah kementerian di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Dengan kejadian seperti ini ini, bisa jadi, publik termasuk saya  tidak yakin Anda rajin membaca buku, melakukan kajian-kajian secara mendalam dan berdiskusi dengan para cendekiawan. Terutama sebelum melemparkan pendapatnya di hadapan publik, seperti pidato yang mencukil tentang Indonesia bubar tahun 2030.

Maka itu saya bisa menebak mengapa Golkar yang tahun 2014 berkoalisi dengan Anda, kini merenggangkan diri. Bisa jadi ada ketidak cocokan dalam perjuangan berbangsa dan bernegara menjelang tahun 2030 ini?

Yang saya catat, Aburizal Bakrie, saat masih menjadi ketua umum Partai Golongan Karya  sudah menegaskan bahwa Golkar tidak akan menjadi partai oposisi, seperti partai yang Anda pimpin. Ia memiliki kesadaran bahwa  dalam demokrasi Pancasila tidak ada partai oposisi. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)