Benteng Kawattan yang dikelilingi parit.

SURABAYAPAGI.COM -Gelagat serbuan Jepang ke Indonesia sebenarnya sudah diketahui pemerintah Hindia Belanda lebih dari satu dasawarsa sebelum perang dunia ke 2. Hal ini terlihat ketika militer Belanda mulai merencanakan pembangunan struktur pertahanan di utara kota Surabaya guna melindungi pulau Jawa bagian timur dari serbuan pihak luar.


Untuk melindungi pulau Jawa sekaligus kota Surabaya, militer Belanda membangun Benteng Kawattan yang dikelilingi parit. Termasuk tiga kilometer garis pantai ke arah timur dibangun pula Benteng Kedung Cowek yang terpasang meriam-meriam artileri di dalamnya.


Menguasai pulau Jawa berarti juga menguasai perairannya. Laut Jawa memiliki arti penting karena kawasan ini merupakan perairan yang cukup tenang dan sangat cocok bagi jalur transportasi yang menghubungkan Jawa dengan beberapa pulau besar disekitarnya. Oleh karena itu tidak heran jika armada kapal perang komando bersama Amerika, Inggris, Belanda, Australia (Abdacom) mempertahankan kawasan ini mati-matian.


Begitu juga dengan lawan mereka Jepang, yang berusaha sekuat tenaga menghancurkan dominasi sekutu di pulau Jawa. Ketika drama pertempuran laut Jawa terjadi pada akhir Februari 1942, lima armada kapal pimpinan Laksamana Karel Doorman ditenggelamkan oleh Armada laut Jepang dengan sangat tragis. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan tumbangnya kelima armada laut Belanda bersama sekutunya tersebut, salah satunya yaitu lalainya intelejen sekutu dalam memberi laporan tentang area-area strategis yang memerlukan pengamanan.



Lokasi-lokasi penting yang turut mendukung kelancaran pertempuran ialah pulau Bawean. Pulau Bawean terletak di bagian timur pulau Jawa tepatnya 100 mil dari garis pantai Surabaya. Cukup strategis menurut Jepang namun sayang sekutu kurang memperhitungkan wilayah ini karena tak ada potensi yang bisa dihasilkan, padahal sebelum meletus pertempuran laut Jawa wilayah ini digunakan sebagai batu loncatan kekuatan tempur Jepang.


Pihak Belanda memprediksi armada laut Jepang akan memasuki pulau Jawa melalui timur, di perairan Bali lalu melewati perairan Situbondo dan mendekat ke Surabaya bagian timur. Disinilah peranan pertahanan meriam dan artileri yang terpasang di Benteng Kawattan.


Sedianya Benteng ini dipergunakan untuk menangkis armada laut Jepang yang akan masuk kedalam, guna melumpuhkan pertahanan Belanda dan sekutu (Abdacom) yang berada di Ujung Surabaya, ternyata prediksi tersebut salah. Jepang sangat lihai memanfaatkan sebuah daratan, sekecil apapun itu, demikian juga dengan pulau Bawean yang benar-benar menjadi pusat konsentrasi ke pulau Jawa.


Selain Bawean kawasan penting jelang pertempuran seru di perairan utara Jawa adalah Surabaya. Surabaya merupakan kota besar, pangkalan lautnya memiliki posisi istimewa seiring jatuhnya pertahanan sekutu di Asia, mulai dari Burma (Myanmar), Filipina, Malaya dan Singapura.


Di pangkalan Surabaya ini pula kapal-kapal perang sekutu biasa melakukan perbaikan jika mengalami kerusakan setelah dihajar Jepang di lautan pasifik, di pelabuhan juga disiapkan sarana pertahanan berupa pemasangan meriam-meriam artileri termasuk di Benteng Kawattan dan Benteng Kedung Cowek. Karena posisi taktis Surabaya didukung lapangan terbang Morokrembangan yang bisa mengontrol keamanan Hindia Belanda dari segala penjuru, pernah suatu ketika pesawat-pesawat Jepang dari tiga airfield sekaligus (Balikpapan, Makasar, Bali) menyerang pangkalan ini.


Ketika sekutu menginvasi kota Surabaya pada bulan Oktober 1945 (Pertempuran Surabaya 10 November 1945) Benteng Kawattan mempunyai peranannya, berfungsi sebagai pelindung kota Surabaya, menembakkan meriam kearah kapal dan pesawat terbang milik sekutu yang akan mendekat ke kota Surabaya, yang mengancam kedaulatan Republik Indonesia. Saat itu posisi Benteng Kawattan dikendalikan oleh pejuang republik dari "Pasukan Batalyon Artileri Surabaya" yang juga dibagi tugasnya untuk menempati meriam-meriam artileri di kawasan Ngagel, Gunungsari dan Tandes.


Kini Benteng Kawattan teronggok tinggal puingnya saja, akan tetapi masih nampak jelas bekas-bekas kekokohannya, seolah tak rela dilupakan dalam panggung sejarah. Saat melakukan penelusuran di kawasan ini kami disambut baik oleh warga Bandarejo. Bersama Pak Abu, sesepuh kampung, beliau menjelaskan keberadaan benteng Kawattan yang menurut warga sekitar disebut Benteng Jelebug.


Beliau tunjukkan posisi-posisi meriam berada, dan beberapa tank yang terpendam di sekitar benteng, yang sekarang entah dimana keberadaannya. Pada jaman pendudukan Jepang, Pak Abu menuturkan "Ada beberapa warga yang dijadikan Romusha, yang dipekerjakan disekitar benteng untuk mengangkut amunisi". Termasuk cerita-cerita mistis dari warga tentang keberadaan Benteng tersebut. Setelah kemerdekaan Benteng Kawattan menjadi tempat latihan TNI AL.


Selanjutnya kami sempat mampir di pos penjagaan, menurut penuturan beliau (salah satu penjaga) sewaktu era pemerintahan Suharto kawasan sekitar benteng akan dijadikan area wisata Kampung Lawas asli Surabaya, dengan memperkenalkan budaya asli (Kampung Bandarejo mempunyai keunikan tersendiri) dan tentu saja rencana objek wisata tersebut sampai sekarang belum terealisasi.



Sumber: Nur Setiawan, Pegiat Sejarah komunitas Surabaya Historical