Emil Elistianto Dardak, Calon Wakil Gubernur Jawa Timur

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Nomor Urut 1, Emil Elestiano Dardak menyebut istilah Tarzan saat debat pamungkas Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur, Sabtu (23/06).

Emil menyebut istilah Tarzan saat menanggapi pernyataan calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf tentang cara mengatasi permasalahan KTP elektronik atau e-KTP yang sering dikeluhkan masyarakat Jawa Timur.

Sebelumnya, Gus Ipul menjelaskan inovasi yang akan ditawarkan ia dan calon wakilnya Puti Guntur Sukarno untuk mempermudah layanan pembuatan e-KTP, jika ia terpilih.

Gus Ipul berpendapat bahwa salah satu caranya adalah mengambil alih wewenang dari pemerintah Kabupaten/Kota. Sebab menurut Gus Ipul permasalahan e-KTP banyak terjadi soal teknis.

"Ke depan tentu kita mengajak kabupaten untuk berkoordinasi menyelarasakan mengambil alih e-KTP. Kalau perlu kita mengambil alih untuk mempercepat penyelesaian e-KTP," ujar Gus Ipul di acara debat yang disiarkan salah satu TV nasional tersebut.

Namun ternyata Emil tidak sependapat. Dia bilang sedianya pemerintah harus paham betul permasalahan teknis. Sebisa mungkin Pemerintah Provinsi memenuhi kebutuhan pemerintah daerah tanpa harus mengambil alih wewenangnya.

"Kalau turun langsung, solusinya jangan diambil alih lihat benar masalahnya apa. Kami (kabupaten dan kota) akan merasa terbantu jika printer alat cetaknya memadai," kata dia.

Emil kemudian bercerita bahwa sebagai Bupati Trenggalek dia paham betul soal permasalahan e-KTP, mulai dari terbatasnya alat cetak dan perekaman biometrik.

Jadi kata dia, untuk mengatasi permasalahan e-KTP diperlukan upaya jemput bola. Di Trenggalek, dia mengatakan pernah ada ’Tarzan’ yang mendatangi tiap penduduk, terutama lansia untuk melakukan perekaman e-KTP.

"Sebagai pengelola Disdukcapil kita harus jemput bola. Bahkan untuk lansia dulu ada sebutan ’Tarzan’-nya daerah kita," kata Emil.

Emil mengatakan inovasi ini sebagai bentuk memotong birokrasi yang terlalu panjang untuk e-KTP.

"Masalahnya bukan alat rekamnya saja, alat cetak terbatas dan soal jarak," ujar Emil.