Para wisatawan bermain dengan hiu paus di pantai Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

SURABAYA PAGI, Gorontalo - Hiu paus baru kembali datang lima bulan terakhir setelah sebelumnya sekitar dua tahun lalu sempat menghilang. Menurut para nelayan, jika tak ada hiu paus yang datang desa tersebut sangat sepi selain aktivitas nelayan mencari ikan. Tak ada lagi keriuhan pengunjung wisatawan dari berbagi daerah apalagi luar negeri yang berdatangan.

Rasa penasaran terhadap ketenaran pantai di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo akhirnya terobati. Ini setelah melihat sendiri betapa pengunjung di lokasi pantai yang menjadi tempat wisata hiu paus itu yang tak pernah sepi.

Bahkan jika akhir pekan pengunjung membeludak. "Jika akhir pekan lebih dari 200 pengunjung datang ke lokasi ini," kata Akbar Huloli, salah satu penjual jasa sewa perahu untuk melihat hiu paus dari dekat, Minggu (1/7/2018).

Saking padatnya ratusan nelayan pun berinisiatif membuat empat pangkalan yang bisa dikunjungi wisatawan yang menyewa perahu. "Sejak ikan hiu paus ini datang migrasi ke sini lagi kami tak melaut apalagi ombak sedang tak bersahabat," kata dia.

Saat ini, ratusan tamu dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar dan Palu tak pernah absen untuk melihat langsung hiu paus itu. Orang-orang dari Maluku, Ternate hingga Papua juga berdatangan. Belum lagi dari luar negeri seperti Australia dan Belanda.

Namun ketika hiu paus itu pergi puluhan perahu hanya berjejer kosong, diparkir di bibir pantai. Belasan warung yang biasanya menjajakan beragam jajanan pun tutup.

Tapi, suasana kembali bergairah setelah sekitar 7 ekor hiu paus itu kembali datang. Desa di pesisir pantai selatan Gorontalo itu kembali terkenal apalagi ketika ribuan foto beredar luas di media sosial.

Puluhan hingga ratusan orang datang setiap hari untuk melihat dari dekat hiu paus (Rhincondon typus) yang muncul di perairan dekat kampung nelayan itu. Desa itu menjadi obyek wisata hiu paus yang kian kesohor.

Menurut sejumlah nelayan yang melayani wisatawan dulu hiu paus itu sempat mencapai 17 ekor. Namun, sekarang kadang terlihat ada 5 dan kemudian menjadi 7 ekor. "Kami hanya memberikan makan kulit atau kepala udang. Mereka jinak dan mendekat dan bisa dipegang," ujarnya.

Seorang pengunjung Suryani mengaku awalnya takut setelah hiu paus itu mendekat. "Ternyata jinak dan coba dipegang tapi diam,"katanya.

Kehadiran hiu paus itu membuat kehidupan nelayan bergairah. Banyak nelayan setempat beralih profesi, mereka berhenti melaut dan menyewakan perahu untuk para pengunjung dengan harga Rp75.000 untuk setiap 3 penumpang. jk/01