Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Pak Mahfud Arifin Yth,

Usai ditetapkan menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf di Jawa Timur, Anda, mengeluarkan target menghimpun suara sebesar 65-75%, untuk kemenangan Jokowi-Ma’ruf di Jawa Timur.

Anda mengklaim, target suara ini bukan berandai-andai. Dengan lawan tetap seperti Pilpres 2014, Anda berharap bisa mencapai 65 sampai 75% suara dari suara total di Jawa Timur.

Target ini Anda tegaskan usai menerima SK di Kantor DPD PDIP Jatim Jalan Kendangsari Surabaya, Rabu (19/9/2018). Tekad Anda ini, untuk mendorong Jokowi memimpin kembali dua periode dengan Pak Ma’ruf Amin.
Perlu Anda ketahui, pasangan Jokowi-Kalla dalam Pilpres 2014 di Jatim meraih suara 53,17 persen atau 11.669.313 suara dari total suara sah 21.946.401. Sementara pasangan Prabowo-Hatta mendapatkan 46,83 persen atau10.277.088 suara.

Patokan target perolehan suara ini mengingatkan saat saya memimpin bidang usaha harian Surabaya Post, periode tahun 1989-1999.

Saya analogikan target Anda memperoleh suara di kisaran 65-75% merupakan target penjualan dalam bentuk total atau gelondongan. Maksudnya, itu perolehan total di 38 Kabupaten-kota se Jawa Timur.


Pak Mahfud Arifin Yth,

Dalam ilmu pemasaran, penentuan target penjualan mesti memperhitungkan data historical. Nah, tahun 2014 lalu, Capres yang Anda dukung meraih suara 53, 17 persen. Kini Anda akan menaikan target antara 12-22%.

Angka ini sama dengan Anda janji menambah perolehan suara sekitar 4,6 juta. Akal sehat saya, target yang tidak logis. Apalagi, kini posisi Jokowi, adalah incumbent yang mudah ditelisik kekurangan dan kelemahan selama menjabat presiden lebih empat tahun.

Sementara Prabowo, mendapat dua amunisi baru dibanding Pilpres 2014 lalu. Pertama, didukung bakal cawapres muda, energik, cerdas dan berduit. Kedua, ulama-ulama alumnis 2012 dan GNPF-Ulama. Ulama ulama ini mendapat support darei pentolan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab.

Akal sehat saya mengatakan, dalam mengejar target perolehan, Anda tidak cukup hanya menghitung dari data penjualan sendiri, tetapi juga perlu menghitung tingkat persaingan dan kondisi pasar yang bakal Anda bidik.

Hal utama daam mengkaji capaian target realistis adalah membaca data Historical.

Dalam Pilpres 2019, menurut saya, Anda tidak cukup hanya menggunakan data rekapitulasi Pilpres 2014 saja. Tetapi Anda harus mengkalkulasi perolehan suara cagub yang didukung Jokowi dalam Pilkada serentak 2018 lalu.

Saat dilakukan rekapitulasi Pilkada serentak 2018 di Jatim, perolehan suara paslon (pasangan calon) Khofifah-Emil 10.465.218 suara (53,55%). Sedangkan paslon Gus Ipul-Puti 9.076.014 suara 46,45% atau selisih 7,11%.. Perbedaannya tak jauh dengan Pilpres 2014 lalu..


Pak Mahfud Arifin Yth,

Sekali lagi saya menyampaikan kepada Anda urusan target dalam hitungan bisnis. Prinsip yang diakui oleh kebanyakan direktur penjualan,target penjualan merupakan sebuah pekerjaan yang susah-susah gampang.

Artinya, meskipun target penjualan bisa dilakukan dengan cara yang bebas, namun terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar target penjualan tidak sampai menjadi bumerang (terlalu tinggi) bagi perusahaan itu sendiri.

Dalam kasus prediksi penjualan di sektor bisnis, target penjualan yang terlalu tinggi pun acapkali tidak akan mendatangkan keuntungan yang bagus bagi perusahaan.
Pemaknaannya, target penjualan yang terlalu tinggi dan sama sekali tidak masuk akal justru akan mengakibatkan terjadinya demotivasi dan hilangnya semangat bersaing (fighting spirit) dari para sales sebuah perusahaan.

Nah, pebisnis selalu membuat penentuan target-target penjualan yang pas sesuai dengan porsinya yaitu tidak rendah dan tidak juga terlalu tinggi. Untuk itu, Anda bila ingin mencapai target pas, Anda harus memahami tentang faktor-faktor lain yang terdapat pada Capres yang Anda dukung dan capres pesaing.

Faktor pertama adalah trend produk yang Anda dukung, bisakah Anda membaca ada kenaikan? Paling tidak dari track record Jokowi, dalam menjalankan nawacita sejak terpilih menjadi presiden 2014 lalu. Apakah Anda yakin, record capres Jokowi, menunjukan kinerja produk yang bermanfaat seluruh rakyat Indonesia?

Kedyua, potensi suatu area dapatkan Anda maksimalkan, sehingga produk akan berkembang dengan baik. Contoh, kini pemilih pemula ada sekitar 100 juta tingkat nasional dan tingkat Jatim hampir 50 persen dari warga Jatim yang memiliki hak suara.

Berdasarkan pengelompokan usia pemilih yang ada delapan kelompok, pemilih usia di bawah 17 tahun dan sudah nikah (14-16 tahun) sebanyak 719 pemilih. Kemudian usia 17-25 tahun 4.927.761 jiwa. Lalu usia 25-30 tahun 2.953.168 dan pemilih berusia di atas 30-40 tahun 6.448.581

Faktor lain adalah distributor atau di politik relawan dan mesin politik partai pendukung Anda. Apakah masih kompak?. bila sudah tidak kompak, capres yang Anda dukung bisa mengalami kerugian, yaitu kehilangan kesempatan penjualan produk tertentu di area terntentu. Misal, kawasan Arek, Pantura, Madura, Tapal Kuda, Mataraman dsbnya.

Eksistensi relawan diperlukan untuk meraih capaian target. Bila tidak, bisa berakibat jelek yaitu suatu area yang seharusnya bisa Anda kelola / cover dengan baik, tetapi karena tidak ada relawan militan, maka area tersebut akan bisa dimasuki / di-cover oleh kompetitor yang menerapkan coverage system yang baik.

Masalahnya, bisa saja produk capres yang Anda dukung tidak bisa berkembang baik di area tertentu tersebut.

Pengalaman saya dalam menghadapi ini adalah Anda harus memiliki coverage system yang baik dan sales target yang jelas. Mengingat ini adalah salah satu key performance indicator (KPI) untuk menilai kualitas dan performa sebuah relawan-relawan Jokowi di Jawa Timur yaitu area-area tertentu yang sudah Anda kenali sebagai kantong-kantong suara Jokowi.

Berdasarkan pengalaman saya, sales team, akan mengalami kebingungan untuk melakukan proses distribusi dan penjualan yang tinggi, karena tidak semua salesman / sales team mampu membuat breakdown sales target dengan baik. Nah, ini pekerjaan rumah Anda.


Pak Mahfud Arifin Yth,

Ini pengalaman saya juga bahwa dalam menyusun target penjualan ada beberapa aspek yang harus diperhatikan.

Pertama, Anda harus menentukan target yang spesifik. Misal, pemilih pemula, pemilih ulama, wanita dan sebagainya. Dan ada di kabupaten-kota mana saja. di Surabaya, berapa yang bakal Anda bidik. Artinya bila Anda ingin meraih suara 65-75%, maka perolehan suara di Surabaya, harus bertambah.


Kedua, Anda harus memiliki target measurable (Dapat Diukur)
Artinya, Anda dapat mengukur dengan mudah apakah sebuah target penjualan di satu kabupaten telah tercapai atau belum?.

Ketiga, target yang attainable (Dapat Diraih) tidak dalam awang-awang.
Artinya Anda harus menentukan target penjualan dengan yakin akan mampu Anda raih. Misalnya, di tengah persaingan seperti munculnya bakal cawapres muda, Sandiaga Uno, Anda merubah target. Padahal capres yang Anda dukung, memiliki bakal cawapres ulama senior berusia tua.

Keempat, target Anda harus realistis. Maklum, kadang pemimpim perusahaan yang ambisius mengharapkan hasil penjualan yang spektakuler. Apakah Anda termasuk ketua tim sukses Jokowi, yang demikian? walahualam.

Kelima target penjualan harus berada dalam lingkup Time bounded atau dibatasi Oleh Waktu. Kampanye berlangsung 7 bulan. Nah ini waktu yang berharga bagi Anda untuk meraih suara

Berhubung menyangkut waktu, saran saya, jangan sampai target penjualan telah Anda susun, namun Anda tidak tahu kapan target penjualan itu dapat tercapai. Apakah saat pencoblosan 19 April 2019, semua tPS telah diisi oleh saksi-saksi dari Anda? Inilah salah satu pengalaman susah-susah gampangnya mengejar target realistis. Acapkali pengusaha digoda target yang muluk-muluk.


Pak Mahfud Arifin Yth,

Pengalaman saya lainnya, ada manajer penjualan yang terlalu ambisius yaitu mematok target sangat tinggi. Ini untuk menyenangkan saya saat itu. Artinya saya dianggap bisa di ABSin (Asal Bapak senang). Padahal saya orang lapangan yang suka blusukan di pasar dan kantor instansi kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.

Soal ungkapan “Asal Bapak Senang” (ABS), sering digunakan sebagai sindiran atau ungkapan sarkasme untuk sebuah atau sejumlah laporan dari bawahan untuk para bos atau pejabat.

Artinya, ada laporan yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan, tapi tertulis dan direkayasa agar bagaimana si pejabat mau tersenyum.

Kini dalam politik, acapkali ungkapan ABS mudah dijumpai. Padahal, awalnya ABS tidak berbau atau bertujuan politik.

Pengalaman peliputan saya tahun 1990-1989an, ada beberapa lingkungan kerja, yang pegawainya suka berpenampilani ABS. Cara ini agar dirinya tidak dipinggirkan atau didepak bos.

Dan saya menemukan tidak sedikit juga individu ambisius sebuah perusahaan yang berharap jalan suksesnya dimuluskan. Perbuatannya adalah menjilat dan berusaha menyenangkan atasan, termasuk mengiyakan semua opini dan permintaan pimpinannya.

Sementara Jokowi, presiden yang tidak suka menerima lapora ABS dari jajarannya.

Nah, terkait data yang saya miliki bahwa Pilpres 2019 ini sangat ketat dank eras, saran saya sebaiknya Anda membuat target realistis. Feeling saya, suara untuk capres yang Anda dukung akan tergerus. Berapa persen, saya tidak berani berandai-andai.

Maklum, hasil temuan saya di provinsi Jawa Timur, terutama setelah capres Jokowi menganulir tokoh Madura, Mahfud MD, pulau Madura, tampaknya allout menolak diajak memilih capres yang Anda dukung.

Akal sehat saya mengatakan bahwa dalam politik yang kini makin berhinggar binger, termasuk munculnya politik identitas, saya tidak berani menjamin suara Jokowi di Jatim dalam Pilpres 2019 ini mencapai 53%. Apalagi suara sampai 65-75 persen dari total suara yang memiliki hak pilih.

Feeling saya ini bersifat subyektif. Tetapi akal sehat saya yang menggunakan literature terbaru, Prabowo-Sandiaga, bukan Prabowo-Hatta Rajasa. Kata orang Medan, ini politik bung. Apalagi Anda, belum berpengalaman kelola partai politik.

Anda adalah pensiunan Polri berpangkat Inspektorat Jenderal. Hal penting yang perlu saya sampaikan di politik, tidak ada hirarki terstruktur rigid seperti di kepolisian. Jadi, meski ada Ketua Timses Capres Jokowi-KH Ma’ruf, bisa saja di tengah jalan, tidak direken oleh relawan-relawan yang berpengalaman mengelola ‘’bisnis’’ Pilkada.

Harapan saya, semoga Anda, saat menjadi tim sukses pemenangan Jokowi di Provinsi Jawa Timur, tidak membikin “ABS” capres Jokowi. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)