Model pembangunan rezim Joko Widodo dinilai sebagian pihak tidak direncanakan secara matang. Foto: SP/IST

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Model pembangunan ekonomi rezim Joko Widodo dilakukan tanpa perencanaan yang matang dan terkesan dilakukan demi kepentingan pemilu.

Begitu kata Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sudirman Said di Media Center BPN, Jalan Sriwijaya 35, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (9/1).

Dia kemudian menguraikan agenda pembangunan ekonomi Jokowi yang dikebut dan semua akan diresmikan di tahun politik. "Supaya bisa menjadi upacara peresmian, maka dipaksa selesai lebih cepat, dipaksakan pembangunan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan," jelas mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu.

Tak hanya dilakukan dengan pendekatan pragmatis, pembangunan ekonomi di era Jokowi juga meminggirkan pendekatan teknokratik.

Sudirman menjelaskan bahwa fundamental ekonomi suatu negara dibangun dalam jangka waktu yang panjang. Karenanya, butuh kajian ilmiah terhadap kondisi, potensi, masalah dan isu-isu strategis yang dihadapi Indonesia dalam jangka waktu ke depan.

"Industrialisasi itu tidak mungkin dikelola secara short term, berganti-ganti pemimpin itu tidak mungkin. Saya bayangkan bila membangun food security atau kedaulatan pangan kemudian energi dan manufaktur tidak dikembalikan kepada teknokrat tadi, maka kita akan terus berjalan di tempat," jelasnya.

Hal ini juga diamini oleh Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Ia mengatakan pemerintah saat ini terlihat terlalu cepat mempersiapkan pemilu untuk mempertahankan kekuasaan. Sehingga pengelolaan kabinet dan pemerintah amburadul. "Pemerintahan ini nuansanya kemenangan, niatnya untuk re-election," ujarnya.

Fahri mengaku tak bermaksud membela rival Jokowi yakni Prabowo Subianto. "Saya enggak bisa mengkritik Pak Prabowo karena dia bukan pemerintah, tapi jasa dan jejaknya dalam negara besar sekali, termasuk memperkenalkan orang namanya Jokowi, bahkan Ahok juga, bahkan yang saya dengar bukan memperkenalkan tapi juga membiayai," tutur Fahri.

Fahri melanjutkan, kebijakan pemerintahan Jokowi juga tak didasari janji kampanye awal. Justru, kata dia, Prabowo malah mengantar sosok bernama Jokowi sebagai politikus sukses. "Makanya tim Prabowo tagih saja (janji), pasti kelimpungan dia," tandas Fahri.

Sementara itu, pengamat politik Rocky Gerung melihat elektabilitas capres petahana Jokowi saat ini keropos karena timnya sendiri. "Saya melihat Pak Jokowi dikeroposi timnya sendiri. Karena tiap kali para buzzer menyerang saya elektabilitas pak Jokowi turun nol koma sekian persen per detik, karena menyerang personal, pembully, pemfitnah," ujar Rocky.

Rocky heran saat ini petahana kerap menyerang. Apalagi, elektabilitasnya juga turun dan tak mungkin lagi dicegah. Dia menambahkan, pada 17 Januari nanti petahana sudah tak punya bekal dalam duel debat capres cawapres.

"Apa yang mau ditampilkan dalam debat nanti? Seluruh prestasi yang diklaim oleh rezim hanya pertumbuhan 5 persen, di bawah SBY. Kalau di bawah yang sebelumnya berarti tidak lulus," kata Rocky. "Jalan tol? Siapapun bisa membangun jalan tol bedanya gratis atau enggak. Jadi konsep jalan tol itu tugas negara membangun jalanan," tutup Dosen Filsafat tersebut.