Baliho dan spanduk caleg yang terlihat di kampung Jojoran Gang I Surabaya, Kamis (10/1/2019). Foto: SP/Prila

Prila Sherly-Alqomar,

Wartawan Surabaya Pagi

Geliat kampanye di Jawa Timur masih terasa sepi, meski debat capres-cawapres tinggal seminggu lagi. Padahal dua pasangan calon, baik Jokowi-ma’ruf Amin maupun Prabowo-Sandiaga Uno, kerap berkunjung ke Jatim. Sementara baliho caleg dan atribut parpol juga tak semarak Pemilu sebelumnya. Inikah tanda-tanda masyarakat akan golput?

---

Jika anda putar-putar ke pusat kota Surabaya, caleg yang pasang baliho bisa dihitung jari. Atribut parpol juga tak terlihat mencolok. Justru yang menonjol billboard atau papan reklame produk yang menyeruak bak belantara kota.

Kondisi ini makin lengkap dengan senyapnya isu politik di Jatim. Yang ramai justru di media sosial, lantaran pendukug dua kubu capres kerap terlibat saling kritik dan serang.

Melihat fenomena ini. Pakar Sosiologi-Politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Mahfud Fauzi tak mengelak jika hingga saat ini dinamika Pileg dan Pilpres 2019 belum terasa di Jatim. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah lamanya waktu masa kampanye, yakni sekitar enam bulan.

“Sebenarnya beberapa akan lebih memilih untuk bergerak pada tempat tertentu yang menjadi acuannya, namun tidak muncul di permukaan. Sehingga, cenderung berfokus pada titik tersebut daripada secara besar-besaran melakukan kampanye,” kata Agus Mahfud yang diwawancarai Surabaya Pagi, Kamis (10/1/2019).

Waktu kampanye yang terlalu panjang ini, lanjut Agus, sebenarnya memiliki tujuan untuk membuat masyarakat memahami visi, misi, kinerja, dan program para calon calon legislatif (caleg) maupun pasangan capres-cawapres. Ia memprediksi geliat Pemilu 2019 akan terasa saat mendekati hari pencoblosan, 17 April 2019.

Hari Fitrianto, Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga (Airlangga) Surabaya, sependapat dengan Agus Mahfud yang mantan komisioner KPU Jatim ini. Ia memperkirakan kampanye akan ramai pada Maret mendatang.

“Kendala utama yang muncul ketika melakukan kampanye adalah logistic, sehingga mereka sudah memperhitungkan semuanya sebelumnya,” ujar Hari dihubungi terpisah.

Meski kampanye di Jatim sepi, menurut dia, tidak memengaruhi banyaknya masyarakat yang memilih golput. Pemilihan legislatif (Pileg) yang digelar bareng Pilpres, menurut Hari, juga bukan faktor sepinya kampanye.

“Sebenarnya pemilu digelar serentak ini lebih menguntungkan capres dan cawapres daripada legislatif. Namun, ketika calon legislatif menunjukkan sosok ternama dari partainya bisa jadi sangat menguntungkan,” ungkapnya.

Bergerak ke Bawah

Sementara itu, hasil survei membuktikan, parpol maupun caleg sudah bergerak ke akar rumput menghadapi Pemilu 2019. Direktur Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo mencontohkan di Surabaya.

Dari hasil penelitiannya, nama Putri Guntur Soekarnoputri di urutan kedua, setelah Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti Buana. “Itu artinya, Wisnu yang notabene Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya mulai lebih sering turun menyapa warga untuk mengampanyekan Jokowi-KH Ma’ruf Amin,” kata Mochtar, kemarin.

Untuk diketahui, Puti Guntur populer lewat Pilgub Jawa Timur 2018 lalu berpasangan dengan Cagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Pada Pemilu 2019, cucu Bung Karno ini sebagai caleg DPR RI dari PDIP di Dapil Jatim I (Surabaya-Sidoarjo).

Menurut Mochtar, Puti yang namanya di urutan kedua menunjukkan ada korelasi linier, karena survei dilakukan bersamaan momentum pileg. “Jadi hampir bisa dipastikan tingginya popularitas dan elektabilitas Mbak Puti disamping karena ingatan publik terhadap pilgub yang masih hangat, juga karena gerakan massif Mbak Puti dan tim dalam kampanye pilegnya,” papar Mochtar.

Dengan begitu, lanjut Mochtar, kemungkinan besar Mbak Puti dalam pencalegannya juga akan mendapatkan elektabilitas yang signifikan.

Survei SSC ini dilakukan 20 hingga 31 Desember 2018 di 31 kecamatan se-Surabaya dengan menggunakan 1.000 responden melalui teknik stratified multistage random sampling. Margin of error sekitar 3,1 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen. n