•   Senin, 22 Juli 2019
Ramadhan

Abu Bakr Ash-Shiddiq

( words)
Dr. H. Tatang Istiawan *)


Pesan Ramadhan (7)

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sampai hari keenam puasa, jumlah dermawan yang memberi makan buka puasa di masjid dan jalan-jalan, masih banyak.
Janji Rasululah, mereka akan mendapat pahala. Termasuk panitia buka puasa. Mengingat, mereka digolongkan ke dalam orang yang menolong dalam kebaikan.
Rasululah bersabda, sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.”
Seorang baduwi bertanya kepada Rasulullah, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya juga kepada para sahabat; “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”
Abu Bakr Ash-Shiddiq berkata, “Saya.”
Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”
Dan Abu Bakar berkata, “Saya.”
Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”
Kembali Abu Bakar mengatakan, “Saya.”
Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.”
Abu Bakar menjawab, “Saya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim, no. 1028).
Abu Bakar Ash-Shiddiq, dicatat sebagai khafilah Islam pertama setelahnya Rasulullah Wafat,. Beliau. adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar serta dipercayai sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi.
Dalam sejarah Islam, Abu Bakar berarti ‘ayah si gadis’, yaitu ayah dari Aisyah istri Nabi Muhammad SAW. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah’), yang kemudian diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah (artinya ‘hamba Allah’).
Sejarah juga mencatat namanya adalah Abdullah bin Abu Quhafah (Abu Quhafah adalah kunya atau nama panggilan ayahnya). Gelar As-Sidiq (yang dipercaya) diberikan Nabi Muhammad SAW, sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq.

*) Penulis adalah Pembelajar Agama Islam secara Otodidak

Berita Populer