•   Sabtu, 14 Desember 2019
Ekonomi Global

Kamis Sore ini, Rupiah Menguat Lagi

( words)
Ilustrasi Mata Uang SP/BJtm


SURABAYAPAGI.com – Rupiah Kembali menguat setelah melemah pada Rabu (10/7/2019) kemarin. Pada spot perdagangan Kamis sore ini (11/7/2019). Rupiah berada diposisi Rp 14.067 per Dollar AS, menguat 0,46% dibandingkan penutupan rabu, Rp14.132 per Dollarnya.

Kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mengapresiasi Rupiah diposisi Rp14.089 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.152 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada dalam rentang Rp14.060 per dolar AS hingga Rp14.108 per dolar AS.

Pada sore hari ini, hampir semua mata uang Asia menguat terhadap dollar AS. Baht Thailand menguat 0,16 persen, Dolar Singapura menguat 0,23 persen, dan Rupee India menguat 0,24 persen dan Yuan China menguat 0,08 persen, Peso Filipina menguat 0,38 persen, Yen Jepang menguat 0,4 persen, Ringgit Malaysia menguat 0,44 persen, dan Won Korea Selatan menguat 0,69 persen.

Berbeda dengan mata Uang Asia Lainnya, hanya dolar Hong Kong saja yang terlihat stagnan terhadap dolar AS. Tak ada berubahan signifikan yang menempatkan Dollar Hongkong senilai 7,82 perdollar AS nya pada sore ini (sumber:UTC)

Mata uang eropa juga mengalami hal yang sama, Euro menguat 0,2 persen terhadap dolar AS, poundsterling Inggris menguat 0,25 persen terhadap dolar AS. Bahkan, dolar Australia juga menguat 0,25 persen terhadap dolar AS.

Dilansir dari cnnindonesia, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan bahwa penguatan nilai tukar rupiah disebabkan oleh pernyataan Gubernur The Fed, Jerome Powell dalam kongres, rabu (1/07) yang mengatakan akan memangkas suku bunga acuannya pada rapat komite pasar federal terbuka (FOMC) akhir bulan ini. Di dalam pidatonya, Powell menyebut bahwa pemangkasan suku bunga acuan Fed Rate dalam waktu dekat dapat membantu meminimalisir dampak dari guncangan terhadap ekonomi di masa depan.

"Langkah itu sejalan dengan janji Powell bahwa The Fed akan bertindak sesuai dalam merespons dinamika perekonomian AS maupun global. Di mana, saat ini ekspansi ekonomi AS terancam oleh perang dagang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia," terang Ibrahim, Kamis (11/7).

Berita Populer