•   Jumat, 28 Februari 2020
Pendidikan

Kampung Ilmu, Hatinya Pendidikan di Tengah Perkembangan Jaman

( words)
Kampung Ilmu di Jalan Semarang. Foto: SP/Prila Sherly


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kesibukan terlihat di berbagai penjuru Jalan Semarang, dimulai dari para pedagang yang jual beli kardus, mebel, dan buku bekas. Semuanya tampak sibuk sendiri di tengah jalan raya yang masih sepi dengan sedikitnya kendaraan bertandang atau sekedar berlalu lalang.

Jalan Semarang yang dulunya penuh dengan para penjual buku bekas di emperannya kini tampak sepi. Beberapa pedagang telah dipindahkan ke suatu tempat yang bernama Kampung Ilmu. Sulit untuk menemukan gang kecil menuju perkumpulan toko toko buku sederhana karena tidak adanya penanda yang mencolok.

Salah seorang pedagang bernama Yudha yang telah singgah di Kampung Ilmu sekitar empat tahun lamanya untuk mencari nafkah tersebut memiliki kios di sisi paling belakang.

“Kampung Ilmu ini dulunya digagas oleh Paguyuban atau Komunitas Pecinta Buku Surabaya yang lalu diwujudkan oleh Pemerintahan Kota Surabaya. Pada akhirnya, kami semua direlokasikan ke tempat ini.” Ujar Yudha pada Jumat (14/12).

Tidak tampak banyak pengunjung yang ingin membeli atau sekedar melihat aneka buku di Kampung Ilmu. Selain karena hari kerja, namun kini juga semakin banyaknya buku yang bisa diakses melalui internet. Minat untuk membeli buku fisik menjadi sedikit berkurang karena sulit membawanya kemana mana.

“Memang tidak ramai kalau hari biasa malah cenderung sepi. Untuk ramai pengunjung hanya pada Sabtu dan Minggu. Ketika awal dan akhir semester anak sekolah maupun kuliah juga bisa ramai.” Tambah Yudha.

Ia mengaku menjual berbagai buku dimulai dari fiksi, anak anak, non-fiksi seperti pendidikan dan masih banyak lagi. Beragam buku yang dijual di Kampung Ilmu tersebut diharapkan mampu meningkatkan literasi masyarakat sekaligus dijadikan wisata pendidikan.

Suasana yang dingin dipenuhi hijau hijauan dengan tersedianya tempat untuk duduk, musholla, dan toilet sebenarnya sudah cukup nyaman. Namun, kesulitan untuk mengakses Kampung Ilmu menjadi suatu kendala yang menghadang majunya perkumpulan toko buku tersebut.

“Saya merasa dulu berjualan di tepi Jalan Semarang lebih ramai dibandingkan di dalam Kampung Ilmu. Penyebabnya karena Kampung Ilmu tidak terlihat dari jalan raya. Semoga nantinya segera ada realisasi dari pihak pemerintahan untuk terbukanya akses menuju ke tempat ini.” Ujar Karno, salah satu pedagang buku di kios barisan depan.

Ia mengaku telah lama berjualan di Kampung Ilmu dengan menjajakan berbagai genre buku baik bekas maupun baru. “Untuk ramai dan sepinya ya sebenarnya hanya cukup buat makan sehari hari. Tidak untuk kebutuhan lainnya, tapi saya bersyukur adanya relokasi di kawasan ini. Hal ini karena kami tidak harus membayar sewa, cukup iuran dengan pihak paguyuban.” Tambah Karno.

Sepinya Kampung Ilmu menjadi pertanyaan dalam benak masyarakat. Apakah buku masih cukup relevan untuk dinikmati di era serba online ini? Namun, setelah beberapa waktu segerombol siswa dan mahasiswa datang ke tempat tersebut untuk mencari referensi buku.

Kesulitan untuk menemukan referensi buku ternyata masih ada meskipun adanya perkembangan teknologi. Tidak tersedia di online maupun toko buku biasa, Kampung Ilmu memiliki semuanya. Pr

Berita Populer