•   Senin, 18 November 2019
Pilpres 2019

Kena Isu Propaganda, Omzet ikut Menurun

( words)
Suasana atrium ITC Pusat Grosir di Surabaya yang menjajakan pakaian busana muslim di bulan Ramadhan, Kamis (23/5/2019) kemarin, cenderung sepi saat isu aksi 21-22 Mei 2019.


Dampak Aksi 22 Mei di Pusat Perbelanjaan di Surabaya

Hermi,
Wartawan Surabaya Pagi
Tidak menutup kemungkinan perekonomian usaha dagang juga kena berimbas akibat kerusuhan aksi 22 Mei 2019 di Jakarta. Beberapa pelaku usaha harus menutup penjualannya untuk menghindari sesuatu yang akan terjadi diluar perkiraan. Bahkan, sejak isu yang berhembus bahwa adanya aksi berkelanjutan, juga berpengaruh pada perekonomian usaha lokal di Surabaya. Meskipun di Surabaya, hingga Kamis (23/5/2019) kemarin, situasi keamanan di Surabaya aman. Namun, para pedagang merasakan penurunan omzet, menjelang Hari Raya Idul Fitri, yang biasa dimanfaatkan warga kota untuk berbelanja.
Dari penelusuran wartawan Surabaya Pagi di Pasar Atum Surabaya, ITC Pusat Grosir, dan Plaza Surabaya atau dikenal Delta Plaza, terlihat sedikit adanya penurunan dibanding dengan bulan Ramadan dan menjelang lebaran tahun 2018 lalu.
Pasar Atum Surabaya, pasar legendaris di Surabaya dan menjadi sentral kunjungan wisata maupun kunjungan pedagang dari berbagai daerah. Saat Surabaya Pagi telusuri ke para pedagang juga sepi pengunjung. Hal itu yang dialami oleh Abdullah dan Sherly penjual kain batik, kain polos, dan jas.
"Gak ada orang yang datang, kemaren juga ada yang lewat, yang biasanya ramai kalau Ramadan tahun lalu, apalagi jam-jam segini (sekitar pukul 14:00, red)," ucap Abdullah warga Kedinding ini, Pasar Atum Pabean Cantian Surabaya, Kamis (23/5/2019).
Isu Propaganda via WA
Dia mengindikasikan salah satu faktor kesepian itu, lantaran akibat adanya kerusuhan demo aksi 22 dengan tersebarnya isu propaganda ketakutan, teroris dan pengeboman seperti tahun kemaren. "Di Mall semua pada takut. Apalagi sempat ada isu yang beredar di WA, hindari mall dan pusat belanja pada 21-22 Mei. Omset berkurang padahal dulu-dulunya ramai," tandas dia.
Hal senada juga dialami oleh Yama penjual kain. Dia mengeluh lantaran usahanya belum ada pengunjung dari pagi hari. Dia terheran-heran, dan tidak mengetahui penyebabnya itu. Padahal dibandingkan tahun lalu pada bulan Ramadan, Yama mengakui punya banyak pelanggan hilir mudik berbelanja kain. "Belum laris, gak tau kenapa," sebut dia.
Di tempat Mall Lainnya, Delta Plaza Surabaya yang lokasinya bersebelahan dengan Monkasel Surabaya (Submmarine Monumemt) ini. Termasuk Mall yang diminati oleh masayarakat Surabaya. Namun siapa sangka, ada sebagian toko yang berjualan di tempat tersebut usahanya tidak terlalu signifikan perekonomiannya.
ITC Pusat Grosir
Berbeda dengan Mall Di ITC (International Trade Centre) Surabaya, pusat grosir perbelanjaan di Jalan Gembong No. 20-30 Surabaya ini. Di bulan puasa, Mall ini dipadati pengunjung apalagi dengan promonya dan bazzar ramadhan di lantai tengah bawah ini.
Salah satunya, Muhammad penjual pakaian busana muslim. Dia selama 18 hari di bulan ramadhan sudah membalikkan modalnya. Ia hanya menunggu hasil keuntungan yang bakal di perolehnya itu hingga hari raya Idul Fitri. "Khusus puasa dan menjelang lebaran ini, Alhamdulillah ramai disini. Modal sudah balik. Paling tinggal biaya stand ini hampir balik juga," ucap Mad panggilan lekatnya.
Aksi gerakan kedaulatan rakyat 22 mei kemaren di Jakarta, bagi Mad, tidak ada pengaruhnya dengan penjualan usahanya. Bahkan dia bersyukur di bulan puasa ini lantaran usahanya berjalan lancar. "Tetap ramai, gak ada pengaruhnya sama di sini aksi itu. Jadi saya bersyukur. Tinggal membalikkan biaya stand ini. 2x3 senilai 12 juta selama sebulan, hampir balik," terangnya. n

Berita Populer