•   Senin, 18 November 2019
Peristiwa Politik

Ketua MUI: Indonesia Islam Wasatiyyah, bukan Khilafah

( words)
Wakil Presiden terpilih 2019-2024 yang juga Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla saat halal bihalal bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) ke-47 di Jakarta. SP/atre


SURABAYA PAGI, Jakarta - Wakil Presiden terpilih Ma’ruf Amin, mengingatkan semua anak bangsa bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk. Dalam konteks kebangsaan, menurut Ma’ruf, Islam menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kesepakatan (darul mitsaq).

Dalam konteks kebangsaan kita, Islam wasatiyyah itulah yang kemudian bisa menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia secara bersama karena memang Indonesia ini bukan hanya kita, tapi Indonesia ini berkita-kita. Jadi bukan hanya satu ’kita’. Oleh karena itu, Indonesia itu adalah ’berkita-kita’, majemuk," jelas KH Ma’ruf, di Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (17/7/2019). Acara ini bertajuk halalbihalal Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang menginjak usia 47 tahun.

Dakwah tanpa Permusuhan
Dalam awal sambutannya, Ma’ruf yang masih menjadi Ketua Umum MUI, mengingatkan soal dakwah tanpa permusuhan.

“Pertama saya sampaikan selamat milad kepada DMI yang ke-47. Ini umurnya sudah cukup tua, tidak remaja lagi. Umur 47 itu tapi belum tua ya? Tapi tidak muda," tambahnya.

Ketua Umum MUI ini menambahkan tentang cara berpikir Islam wasatiyah yang menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin). Ma’ruf juga menjelaskan soal cara berdakwah yang sukarela dan tanpa paksaan.

"Ingat, dakwahnya membangun mawadah warohmah. Tidak saling membenci dan saling bermusuhan. Itulah kenapa ulama membangun paradigma ukhuwah Islamiyah," jelasnya.

Khilafah Salahi Kesepakatan
KH Ma’ruf mengatakan Pancasila dan UUD 1945 adalah titik temu kesepakatan nasional. Ia juga menyinggung soal khilafah yang tertolak di Indonesia.

"Karena Islam bukan hanya khilafah, juga ada kerajaan, buktinya Saudi Arabia. Keamiran juga Islami. Republik juga Islami, (seperti) Indonesia, Mesir dan Turki. Jadi kalau soal keislaman semua Islami," ungkapnya.

"Kenapa khilafah ditolak di Indonesia, saya bilang bukan ditolak, tapi tertolak. Karena menyalahi kesepakatan," lanjut Ma’ruf.

Di akhir sambutannya, Ma’ruf mengajak seluruh anak bangsa yang berbhineka untuk kembali kepada prinsip dan gerakan Islami sesuai Islam wasatiyah.

"Oleh karena itulah Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang wasatiyah. Maka kita halalbihalal ini marilah dalam bernegara ini kembali kepada prinsip cara berpikir maupun gerakan Islam seperti ciri-ciri Islam wasatiyah," ucapnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyapa wakil presiden terpilih Ma’ruf Amin, sebagai suksesornya.

"Yang saya hormati, Bapak Profesor Doktor Kiai Ma’ruf Amin, Ketua Umum Majelis Ulama, dan juga terpilih menggantikan saya nanti," ujar JK yang disambut tepuk tangan hadirin.

JK, yang juga Ketua Umum DMI, mengatakan tugas dan tujuan DMI adalah meningkatkan ibadah dan ibadah sosial dengan lebih baik. Ia juga menyinggung soal peningkatan pelayanan dalam beribadah.

"Itu tugas Dewan Masjid. Bagaimana meningkatkan ibadah tapi dengan cara meningkatkan fasilitas, pengorganisasian, pelayanan masjid yang lebih baik," harapannya.

Tingkatkan Pelayanan Masjid
Menurut JK, mengurus masjid bukanlah sesuatu yang remeh temeh. Ia meminta adanya pelayanan yang baik di masjid untuk meningkatkan ibadah.

"Jangan lupa, bukan kita mempercantik masjid, bukan kita ramai-ramai, tidak. Tapi meningkatkan ibadah fardu dengan cara memperbaiki masjid, sound system-nya, arsitekturnya, pelayanannya, meningkatkan mutu dainya, itulah cara kita beramal. Bukan ramai-ramai kayak begini, kumpul-kumpul kayak begini saja, tapi meningkatkan ibadah," ucap JK.

JK juga menceritakan pembicaraannya dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud yang menurutnya kagum dengan banyaknya jumlah masjid di Indonesia yang mencapai hampir satu juta masjid. Namun, menurutnya, masjid bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga kemampuan melayani.

"Intinya, tugas DMI meningkatkan ibadah, baik ibadah fardu, tapi juga sosial sehingga dengan cara memperbaiki fasilitas masjid dengan kerjasama seluruh masyarakat, sehingga tercermin suatu masjid yang besar. Kita bukan bangga akan jumlah, tapi bangga akan kemampuan melayani," tutur JK. n jk/erk

Berita Populer