Kos-kosan Bebas di Surabaya Makin Berani

Bertarif Rp 1,5 Juta hingga Rp 3,6 Juta, Kos Mewah di Sekitar Bekas Gang Dolly DilengkapiLift. Diduga untuk Lancarkan Prostitusi

Fauzan BCH, Farid Akbar, Ahmad Najih,
Tim Wartawan Surabaya Pagi

Bagai jamur di musim hujan, kos-kosan bebas di kota Surabaya tampaknya tak terkendali. Bahkan, pemilik kos-kosan itu sudah bekerja sama dengan aplikator penyedia kamar hotel dan penginapanonline, seperti RedDorz, OYO, dan Airy Rooms. Perkembangan ini yang membuat warga tak sadar, jika kos-kosan bebas itu mulai diwarnai dengan dugaan praktik prostitusi terselebung. Si perempuan bisa “dieksekusi” langsung di kamar kos yang juga berfungsi hotel. Pasalnya, pengelola kos-kosan itu juga melayani menginap harian layaknya hotel. Praktik ini mirip di wisma-wisma Gang Dolly yang ditutup Walikota Surabaya Tri Rismaharini, 2014 silam. Selain itu, kos-kosan bebas juga ditengarai menjadi tempat tumbuh suburnya pasangan yang belum resmi menikah alias pasangan kumpul kebo.
------------------

Persepsi Gang Dolly sebagai tempat prostitusi di Surabaya tampaknya masih kuat, meski sudah ditutup lima tahun lalu. Dulu Dolly disebut-sebut prostitusi yang konon terbesar di Asia Tenggara, yang lebih besar ketimbang lokalisasi Geylang di Singapura dan Phat Pong di Thailand. Nah,saking kuatnya praktik prostitusi kala itu, transaksi seksual di kawasan ini susah dihapus.

Indikasi ini dikuatkan dengan menjamurnya kos-kosan bebas di sekitar bekas Dolly. Mulai Putat Jaya, Dukuh Kupang hingga Petemon. Di sana banyak bermunculan kos-kosan bebas dengan tarif rata-rata di atas Rp 1,5 juta per bulan. Fasilitas yang disediakan pun tak kalah dengan hotel. Mulai kamar dengan pendingin ruangan (AC/air conditioner), jaringan Wifi, water heater, kulkas, televisi, dapur, ruang tamu, hinga kamar mandi dalam.

Ada juga yang bertarif Rp 3,6 juta per bulan dengan tambahan fasilitas berupa kafé di dalam area kos. Selain itu, pemilik kos-kosan bahkan sudah menyediakanlift untuk mengakses setiap lantainya. Tak lupa, mereka juga melengkapi petugassecurity hingga kamera pengintai (CCTV) untuk keamanan kos-kosan.

**foto**

Seperti di kos-kosan di kawasan Dukuh Kupang, Surabaya. Tempat kos dengan bangunan lima lantai ini terbilang mewah dan keamanan yang sangat ketat. Sebab di gerbang depan dijaga ketat oleh security dan dilengkapi CCTV di beberapa sudut setiap lantai. CCTV juga terdapat di area parkir. Tim WartawanSurabaya Pagi mendatangi tempat ini dengan menyamar sebagai pendatang yang akan mencari kos-kosan.

Lokasinya tidak jauh dari kampus Universitas Wijaya Kusuma (UWK) dan Polsek Dukuh Pakis. Dengan mengaku sebagai pencari kamar kos, Tim menemukan pengakuan menarik dari salah satu penjaga kos di Jl. Dukuh Kupang XIV. Disebutkan minggu lalu, kos-kosan ini dirazia oleh aparat keamanan dan sekitar 10 pasangan mesum digelandang. Ironisnya pasangan yang terjaring razia ini dari kos khusus putri.

“Area sini sering kena grebek mas, sekitar semingguan lah ada razia di sini kena razia Satpol. Sekitar 10 orang di kos khusus cewek kena. Itu saja masih bisa kecolongan,” ujar pria ini yang meminta dipanggil dengan nama Pak Jo saat ditemui Sabtu (26/10/2019) lalu.

Tim segera berlanjut ke kos yang dimaksud Pak Jo, dan benar saja ada tulisan terpampang jelas di pagar rumah, bahwa di sana menerima kos khusus putri. Sebelumnya tim juga bertanya kepada Pak Jo di mana saja kos yang bebas di Dukuh Kupang. Tim diarahkan ke salah satu kos yang terkenal dengan nama ‘kos 35’. Kos ini dihuni perempuan dengan baju minim dan kamarnya bebas.
Ketika bertemu dengan salah satu penghuni ‘Kos 35’, Tim diarahkan ke pemilik kos. Namun karena pemilik kos enggan menemui, Tim hanya memberitahu jika kos miliknya penuh dari balik pintu. Akhirnya tim Tanya-tanya kepada warga sekitar. Mereka mengatakan ‘Kos 35’ terbilang sangat bebas tidak terhitung waktu keluar masuk maupun berkunjung.

Dugaan Prostitusi
Di kos-kosan ini kawasan ini, Tim berhasil menemui salah seorang penghuni. Seorang perempuan, sebut saja Blue. Dia mengaku tinggal di tempat ini karena bisa memilih bayar harian atau bulanan. Awalnya ia mencari kos-kosan ini melalui aplikasi. “Di sini ada yang kamar untuk kos bulanan, ada yang sewa harian seperti hotel. Kalau saya memilih di hotelnya, karena setiap hari ada yang membersikan layaknya hotel,” ujar Blue yang mengaku memperpanjang sewa kamarnya hingga 8 bulan.

Tempat tersebut dia yakini aman, karena sudah koordinasi dari pemilik jika nantinya ada razia. Di tempat inilah, ia menjajakan dirinya. Tanpa tedeng aling-aling, perempuan berkulit bersih ini memasang tarifshort time Rp 400 ribu untuk berkencan selama satu jam. “Biasanya hanya menerima 4 tamu dalam sehari,” ucap Blue yang mengaku berusia 30 tahun ini.

Ketika membuka aplikasichatting seperti dikatakanBlue, user akan menemukan rekan seprofesi dengannya dengan berbagai macam harga. Lengkpanya aplikasi menyediakan pencarian secara perinci mulai dari jenis kelamin, umur dan pemeberitahuan jarak serta status.

Untuk para mereka yang “bermain” ini memiliki kode khusus yang bukan rahasia lagi seperti BO (Boking Out), C.O.D (Cash on Delivery), Langsung to the point, yang serius saja. Itu menjadi penanda dan kode di status yang mereka buat pada aplikasi tersebut. “Di sini aman, karena kita sudah koordinasi jika ada razia. Misal ada razia di Petemon, yang di sini keluar kos. Ngopi di warkop atau apalah,” sebut dia.

Gonta-Ganti Pasangan
Tim WartawanSurabaya Pagi kemudian geser ke kos-kosan elit di daerah Petemon. Tepatnya di Petemon Gang III. Di tempat ini, Tim juga menyamar sebagai pencari kos-kosan. Saat memasuki area kos, terdapat dua penjaga kos dan satu anjing penjaga. Tim langsung diarahkan ke pemilik kos yang kebetulan sedang membereksan kamar kos yang baru kosong tiga hari lalu.

Pemilik kos tak mau menyebut nama. Dari fisiknya ia pria keturunan Tionghoa. Tubuhnya tambun dan mengenakan kaca mata. Ia hanya mengatakan kos miliknya aman dan bebas alias boleh membawa tamu lawan jenis dan menginap. Hanya saja dia berpesan untuk tidak berganti-ganti membawa pasangan di kos. Ketika ditanya alasannya, dia tidak mau menjawab dengan pasti, hanya menjaga citra saja.

Menurut ceritanya, sebelumnya ada penghuni kos yang nekat membawa pasangannya menginap beberapa hari. Selama itu, penghuni kos ini gonta-ganti pasangan. Kemudian ia menegur penghuni tadi. “Yang pentig jangan ganti-ganti pasangan, dulu ada cewek yang seringkayakgitu. Sepuluh hari ganti cowok dan itunginep, besoknya ganti lagi. Saya tegur dia,” ungkap pria ini.

Dijemput Mobil
Tidak selesai disitu, Tim juga mencoba tanya warga sekitar kos yang dijaga anjing tadi. Kami langsung diarahkan ke kos besar daerah Petemon Barat. Penelusuran kami menemukan fakta dengan adanya tulisan aturan kos yang bertuliskan “Batas akhir bertamu jam 11 malam dan harap pintu / korden / jendela dibuka.” Faktanya kos-kosan ini tertutup. Tidak ada satu pintu pun yang terbuka atau korden yang terbuka seperti peraturan yang tertera di tembok kos.

Ketika tim menanyakan kepada penjaga kos mengenai kebebasan bertamu ataupun keluar masuk penghuni kos, dia menjelaskan bahwasanya bebas keseluruhannya. Hanya saja ketika larut malam gerbang akan ditutup, namun masih adap penjaga yang akan membukakan pintu gerbang. “Bebas. Tapi lek malam gerbangnya ditutup dan ada yang jaga, ntar dibukain gerbang,” ujar pria tambun memakai kaos hitam tersebut.

Pengakuan warga sekitar, kos-kosan di daerah Petemon ini jarang terjaring razia. Mereka menyimpulkan bahwa kalaupun ada razia mereka sudah pasti mendapat informasi, namun pada kenyataannya dari pengakuan Karno (nama samaran), penjaga warung yang tepat di depan kos yang memiliki peraturan tertulis batas bertamu jam 11 malam di daerah Petemon Barat, mengatakan belum pernah ada razia di kos tersebut.

Senada dengan Karno, pengakuan dari Ningsih di daerah Petemon Timur mengatakan bahwasanya kos yang dijaga oleh anjing ini setiap sore apalagi sedang hari libur mereka keluar bergantian dengan jemputan mobil. “Kalo mbak-mbak di depan situ keluarnya sore mas, sekitar jam lima baru keluar sama jemputan mobil-mobil gitu,” ungkapnya.

Respon Satpol PP
Ketika fakta-fakta itu dikonfirmasikan ke Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya, Irvan Widiyanto melalui ponselnya, Minggu (27/10/2019), ia enggan berkomentar. “No comment mas,” ujar Irvan yang mengaku ada acara tahlilan di rumahnya.

Ketika dikonfirmasi lagi melalui chat, lagi-lagi Irvan tak mau berkomentar. Termasuk ditanya soal razia yang dilakukan di kos-kosan kawasan Dukuh Kupang. “No comment,” tandas irvan. n