•   Rabu, 18 September 2019
Ekonomi NKRI

Masyarakat Ekonomi Kelas Bawah Jadi Biang Keladi Lesunya Industri Ritel Nasional

( words)
Presiden Jokowi saat meresmikan Lulu Hypermarket, gerai asal UEA yang berlokasi di Cakung, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. | Setkab.go.id


SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Asosiasi Pemasok Pasar Ritel Indonesia (AP3MI) menyebut performa sektor ritel dalam negeri yang terpuruk adalah karena melemahnya konsumsi yang terjadi pada kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Keterpurukan ritel papan atas itu bisa diketahui dari kinerja toko tradisional yang mewakili rakyat ekonomi menengah ke bawah yang juga sama terjerembabnya. Di sisi lain, data penjualan korporasi ritel sendiri sebetulnya meningkat.

Terkait hal ini, Penasehat AP3MI Yongky Susilo mengungkapkan, berdasarkan catatannya, kinerja toko tradisional sendiri diketahui terus menurun hingga 4 persen sampai enam bulan pertama tahun 2019 ini. Mula-mula, hal ini dianggap bisa mencerminkan kondisi lesunya ritel modern.

Walau begitu, ditemukan anomali pada ritel modern. Catatan penjualan ritel modern yang merepresentasikan masyarakat ekonomi menengah ke atas, sejatinya meningkat 9 persen pada periode yang sama. Fakta ini membuat Yongki sempat bingung.

Soalnya, di tengah kondisi konsumsi yang tetap tumbuh 5,01 persen pada empat bulan pertama tahun 2019, sektor ritel malah terkesan lesu dan tidak dinamis. Setelah diselidiki lebih jauh, Yongki menemukan rupanya rumah tangga masyarakat ekonomi menengah ke bawa, sangat mengendalikan jumlah konsumsi mereka.

"Oleh sebab ituglobal office menanyakan, kalau konsumsi Indonesia meningkat lima persen, mengapa banyak perusahaan terkesan tidak jualan?" ungkap Andry.

Berita Populer