•   Rabu, 11 Desember 2019
SGML

Melihat Dari Dekat Komunitas Perpus Trotoar di Babat Lamongan

( words)
Berbekal tikar dan trotoar, komunitas ini membuka lapak, untuk ikut mencerdaskan generasi penerus, dengan menyediakan bacaan buku seperti ini. (SP/MUHAJIRIN KASRUN)


Sebar "Virus" Membaca dari Trotoar Ditengah Gempuran Serba Digital

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Kecanggihan dunia serba digital yang terus membuat ketergantungan orang saat ini, tidak membuat komunitas perpustakaan trotoar di Babat Lamongan ini tergilas. Buktinya meski mempunyai keterbatasan tempat, komunitas ini selalu menebar "virus" buku ke anak-anak dan masyarakat untuk kembali mencintai membaca dan menyebarkanya. Seperti apakah perpus trotoar ini bisa terus eksis, inilah liputanya. Semua orang awalnya tidak pernah menyangka kalau komunitas perpustakaan trotoar ini bisa terus eksis, ditengah pengaruh digital. Komunitas ini dalam menyebarkan "virus" membaca ke semua orang, tak perlu mewah atau berada di sebuah gedung yang sejuk. Meski hanya memanfaatkan trotoar, komunitas ini sudah memiliki banyak anggota rutin menebar bibit-bibit membaca. Meski para anggota Komunitas Perpus Trotoar ini hanya tinggal di sebuah desa di Kecamatan Babat, Lamongan, tapi semangat dan kegigihanya perlu diapresiasi "Awalnya ini adalah kegiatan komunitas perpus trotoar dari para pemuda di Desa Patihan dan Desa Sumurgenuk, Kecamatan Babat," kata salah seorang anggota Komunitas Perpus Trotoar, Rendra Hafie kepada wartawan, Selasa (6/3/2018). Lebih jauh, Rendra mengungkapkan, Komunitas Perpus Trotoar ini berawal dari kepedulian pemuda Desa Patihan, Kecamatan Babat yang melihat kalau banyak warga mereka yang menjadi perantauan. Melihat hal ini, tutur Rendra, mereka tergugah untuk meningkatkan pengetahuan warga dengan mendirikan perpustakaan. Selain itu, kata Rendra, mereka juga ingin mengikis dominasi budaya digital yang sudah mewabah, meski mereka tinggal di desa yang jauh dari riuhnya kota. "Dari Komunitas Perpus Trotoar di Desa Patihan dan di Desa Sumurgenuk ini kemudian berkembang menjadi seperti sekarang," papar Rendra. Rendra mengatakan, dari kegiatan Komunitas desa inilah akhirnya berkembang dan bersinergi dengan Komunitas Babat Peduli untuk melebarkan sayap kepedulian akan membaca. Komunitas Perpus Trotoar, kata Rendra, mencoba untuk bergerak melawan pembodohan digital yang saat ini sudah sedemikian gencarnya. "Di saat adik-adik kita diracuni oleh tv, game dan lainya, kami mengajak adik-adik kami untuk cinta membaca," ungkap Rendra yang menyebut kalau sasaran mereka memang kebanyakan adalah anak-anak. Rendra menuturkan, saat ini Komunitas Perpus Trotoar beranggotakan 35 orang anggota komunitas dengan jumlah koleksi buku sekitar 250 judul buku. Dari 250 judul buku ini, lanjut Rendra, 150 judul buku untuk anak, 100 judul buku untuk umum dan 50 judul buku untuk dewasa. "Sebenarnya kami mengajak untuk menggiatkan kembali budaya membaca ini ke semua segmen, tapi sementara ini kita menumbuhkan minat baca dari anak-anak dulu, kurangnya literatur atau buku untuk orang dewasa menjadi salah satu kendala kami," ungkap Rendra. Untuk menjumpai komunitas inipun tidak terlalu sulit. Sesuai dengan namanya, Komunitas Perpus Trotoar ini menjadikan trotoar untuk menggelar lapak 'membaca' mereka. Dua trotoar di Babat, kata Rendra, menjadi jujugan mereka untuk menggelar lapaknya, yaitu di depan Kantor Pos Babat dan lapangan futsal Desa Patihan, Kecamatan Babat. "Kegiatan hari Minggu pagi di depan kantor pos babat, sementara untuk tempat lainnya di Lapangan Futsal Desa Patihan, Kecamatan Babat," jelasnya. Tak mudah untuk tetap bertahan dengan komunitas membaca semacam ini. Rendra mengaku, untuk bertahan komunitasnya menjual makaroni yang dititipkan di warung-warung yang ada di sekitar anggota komunitas. "Ini murni swadaya teman-teman sendiri, dari hasil penjualan makaroni ini kemudian kami belikan buku," jelasnya. Rendra juga mengaku, mereka pernah mengajukan permintaan bantuan buku ke perpusda Lamongan, tapi upaya tersebut ditolak. Untuk semakin menebarkan bibit-bibit membaca, komunitas ini juga aktif di media sosial. "Kami pernah meminta bantuan buku tapi ditolak," kata Rendra yang berharap agar pihak-pihak terkait mau memberikan support kepada komunitas perpus trotoar ini.jir

Berita Populer