Nurhaci, Kaisar Paling Gigih dan Tekun Mencapai Tujuan

Napak Tilas Kekaisaran Dalam Dinasti China Kuno (11)
SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Nurhaci, lahir 21 Februari 1559 dan meninggal 30 September 1626, merupakan pendiri Dinasti Qing, Nurhaci lahir dari keluarga bermarga Aisin Gioro yang memegang kepemimpinan keturunan turun-temurun dari suku Jurjen atau Ju-chên.

"Nurhaci, jika digambarkan dirinya merupakan sosok kaisar yang paling gigih dan tekun dalam berusaha untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuannya" kata sejarahwan.

Awal kisah Nurhaci menjadi sosok Kaisar Taizu, merupakan keturunan Mongke Temur menghabiskan masa mudah sebagai prajurit di bawah pimpinan Jenderal Dinasti Ming, Li Chengliang di Fushun. Tidak hanya menjadi prajurit, Nurhaci juga menekuni budaya dan bahasa mandarin. Singkat cerita, dia secara resmi naik tahta sebagai Khan Dinasti Jin Akhir di tahun 1612 dan melabeli nama keluarganya (marga) Aisin Gioro.

Dalam pertempurannya, Nurhaci dikenal sebagai sosok kaisar yang menerapkan system politik "persamann drjat" sebagai taktik Nurhaci untuk menarik simpati dan dukungan dari orang-orang yang ditaklukkannya. Tidak hanya itu, ketika ia berhasil menumpas peperangan, Nurhaci melarang keras para prajuritnya menjarah harta benda milik masyarkat kota yang ia telah kuasai dan Nurhaci juga tidak memperbolehkan prajuritnya menculik wanita atau bahkan memisahkan istri dari suami dan anaknya. Menurut Nurhaci yang boleh dilakukan oleh prajuritnya yakni hanya membunuh siapa-siapa saja yang melawannya saat itu.

"Kegigihan ini tergambar dari keberhasilan Nurhaci menumpas wilayah Dinasti Ming dan berhasil menguasai Liaoning" imbuh sejarahawan.

Berbicara mengenai Dinasti Ming, Nurhaci sangat dibenci oleh dinasti ini bahkan pihak istana berniat akan membunuh Nurhaci. Namun, sebelum pertempuran dimulai, berita tentang rencana pembunuhan Nurhaci terdengar hingga telinganya, dan ia mengatur strategi sedemikian rupa hingga Nurhaci berhasil menghancurkan satu persatu pasukan Ming. Pertempuran ini dinamakan pertempuran Sarhu, pertempuran ini juga sekaligus menjadi pertempuran besar dalam kehidupan Nurhaci.

Tidak hanya gigih, Nurhaci juga jenius. Hal itu terbukti dari starategi pertempuran yang ia gunakan saat melawan Dinasti Ming di pertempuran Sarhu, yang mana saat itu pasukan Ming membagi pasukannya dan hal tersebut menjadi celah Nurhaci untuk mengalahkan Ming dengan tetap mempersatukan pasukannya.

Daripada duduk diam menunggu datangnya musuh, Nurhaci memilih untuk mendahului musuh dengan mencegat mereka di jalur mereka masing-masing dan mengalahkan mereka satu per satu. Hasilnya, pasukan Ming yang berjumlah banyak yang saling terpisah itu musnah dalam waktu yang singkat, dan Nurhaci kembali dengan membawa kemenangan yang besar.

"Jika musuh membagi pasukannya menjadi sepuluh bagian, maka medan pertempuran akan terbagi menjadi sepuluh tempat, oleh karena itu jika kekuatan pasukan sendiri dikumpulkan menjadi satu maka musuh yang saling terpisah dapat di hancurkan" kata sejarahwan mengutip perkataan Nurhaci.

Selain sifat gigih dan jenius, Nurhaci juga seorang pendendam. Tahun 1582, ayah Nurhaci, Taksi, dan kakeknya, Giocangga dibunuh dalam sebuah serangan di Gure oleh seorang Kepala Suku Jurchen lainnya yang menjadi rival mereka, Nikan Wailan ("Nikan Wailan berarti "sekretaris orang Tionghoa" dalam bahasa Jurchen, walaupun demikian keberadaannya diragukan beberapa sejarawan). Tahun berikutnya, ia menyatukan suku-suku Jurchen di sekitar wilayahnya.

Tahun 1584, saat berumur 25 tahun, Nurhaci menyerang Nikan Wailan di Tulun (juga merupakan wilayah Xibin sekarang), untuk membalaskan dendam ayah dan kakeknya, yang pada waktu itu hanya mewariskan 13 buah baju pelindung kepadanya.

Dari tahun 1599 sampai dengan 1618, Nurhaci melanjutkan ekspansi penaklukan keempat suku Hulun. Tahun 1599, dia menyerang Hada dan berhasil menaklukkannya pada tahun 1603. Kemudian pada tahun 1607, Hoifa ditaklukkan, diikuti oleh Ula pada tahun 1613 dan akhirnya Yehe dan Kepala Sukunya, Gintaisi, pada "Pertempuran Sarhu" tahun 1619.

Pada tahun 1599, Nurhaci memerintahkan dua penerjemah, Erdeni Bagshi dan Dahai Jarguchi untuk menciptakan huruf Manchu dengan mengadopsi tulisan Mongol. Tahun 1606, ia diberi gelar Kundulun Khan oleh Bangsa Mongol.

Tahun 1916, Nurhaci Khan mendirikan dinasti Jin (aisin gurun), yang terkadang disebut Jin Akhir sebagai rujukan pada dinasti Jin-nya suku Jurchen yang sudah ada pada abad ke-12. Ia membangun sebuah istana di Mukden (kiniShenyang,Liaoning). Nama "Jin Akhir" kemudian diganti dengan nama "Qing" oleh anaknyaHuang Taiji setelah kematiannya pada tahun 1926. Walaupun demikian, Nurhaci tetap sering disebut sebagai pendiri Dinasti Qing.

Sebagai informasi, Nurhaci wafat akibat luka-luka yang dideritannya dari pertempuran Ningyuan. Setelah 110 tahun kematiannya, ia diberi gelar penghormatan yaitu Chengtian Guangyun Shengde Shengong Zhaoji Liji Renxiao Ruiwu Duanyi Qinán Hongwe Dingye Gao Huangdi. Selain gelar tersebut, Nurhaci juga mendapat gelar anumerta Kaisar Taizu dari Dinasti Qing.