Pemkab Diminta Waspadai Peredaran Daging Glonggongan

SURABAYAPAGI.com, Sumenep - Wakil Ketua Komisi II DPRD Sumenep, Badrul Aini meminta pemerintah kabupaten setempat mewaspadai peredaran daging sapi glonggongan di pasar tradisonal menjelang lebaran.
"Kami harap pemerintah daerah tidak berpangku tangan, harus aktif melakukan pengawasan, utamanya beredarnya daging glonggongan," kata Badrul Aini, Kamis (23/5/2019).
Menurut Badrul, beredarnya daging gelonggongan sangat merugikan konsumen. Sebab, daging gelongongan memiliki kadar keasaman (PH) rata-rata 6,25. Sedangkan daging normal hanya me gandung PH sekitar 5,5-5,8.
"Masyarakat rugi, karena dagingnya mengandung air, atau beratnya bertambah," jelasnya.
Politisi asal kepulauan ini menambahkan, jika cara masakannya tidak sempurna bisa-bisa membahayakan pada kesehatan. Salah satunya yang mengkonsumsi bisa terkena diare.
Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan, Sumenep, Bambang Heriyanto mengaku telah melakukan pencegahan dengan cara melakukan pengawasan secara optimal di sejumlah pasar tradisional.
"Hingga saat ini untuk di Kabupaten Sumenep, kami pastikan aman dari daging glonggongan," katanya.
Dari itu, pihaknya meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya daging yang membahayakan kesehatan tersebut. Sebab, pemerintah daerah setiap hari terus melakukan pemantauan terhadap daging yang dijual dipasaran.
Daging yang terjual di pasar merupakan sapi yang dipotong sendiri oleh pedagang dan sapinya pun hasil ternak dari para petani atau peternak lokal. Bukan daging yang telah diproses secara tidak benar, seperti meminumkan air sebelum sapi disembelih.
"Masyarakat tidak perlu khawatir akan daging berbahaya itu. Daging yang dijual dipasaran semuanya daging sehat dan hasil ternak," tegasnya.
Kendati demikian, paparnya, para konsumen tetap harus lebih berhati-hati saat hendak membeli daging sapi. Konsumen harus bisa membedakan daging sapi sehat dan daging glonggongan, karena perbedaannya sangat mencolok.
Kalau daging sapi glonggongan itu biasanya mengeluarkan air secara terus menerus. Sehingga para pedagang biasanya tidak menggantung daging tersebut seperti daging yang sehat, karena khawatir ketahuan.
"Baunya pun seperti anyir dan warnanya lebih mengkilat. Daging tersebut sebenarnya sangat bahaya bagi kesehatan konsumen. Kalau habis makan daging glonggongan itu bisanya mengalami diare dan bisa berakibat kematian," pungkasnya. (haz)