Sdr Budi Santoso, Klemens, Aris dan Pendeta Roni Suwono,

Anda semua adalah Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa yang bertempat tinggal di Surabaya. Selama saya mengenal Anda lebih 11 tahun (untuk Budi dan Klemens) dan dua tahun untuk Aris dan Roni, kondisi ekonomi Anda sekarang ini, saya nilai berkecukupan, dibanding tahun 2006. Penilaian ini antara lain rumah yang Anda miliki sekarang berada di kawasan elite Surabaya Timur dan Selatan serta bermobil mewah. Beberapa investor malah mendapat informasi, Budi dan Aris, membeli rumah di Singapura.

Hasil undercover saya selama satu tahun lebih, Anda semua adalah aktivis gereja. Satu malah pengkhotbah dari satu gereja ke gereja lain yaitu Ronny Suwono. Sedangkan, Klemens Sukarno Candra, orang Tionghoa asal Sumbawa yang sudah memeluk Islam.

Diantara Anda, Ronny besan bos Ciputra Surabaya Sutoto Yacobus, tertua. Lainnya tergolong anak muda. Saya amati kehidupan ekonomi Anda terlalu cepat menumpuk kekayaan. Terutama untuk anak muda seusia Anda, kepala 4.

Diantara Anda berempat, hanya Budi Santoso, yang berpenampilan, seperti “pengemis”. Maklum, Budi pengagum konsep “ kai pang”, orang kaya yang berlagak pengemis.

Sdr Budi Santoso, Klemens, Aris dan Pendeta Roni Suwono,

Dalam pertemuan di Rumah Makan Boncafé Jl. Raya Gubeng, akhir tahun 2017 lalu, Budi menyebut dirinya pengagum kaipang. Sebagai orang pribumi saya tak faham itu kaipang. Saya mencoba membuka mbah Google, baru tahu bahwa kaipang itu gaya hidup para pengemis. Kini di Taiwan, malah ada partai Kaipang.

Menurut sejarahnya, pada masa Dinasti Song, beberapa orang "pengemis" membentuk suatu perkumpulan untuk melindungi sesama "pengemis" yang juga sekaligus untuk menghantam kekuatan Jin (Jin kelak menjelma menjadi Later Jin dan Qing). Manuver serupa juga ditujukan saat berhadapan dengan penguasa Yuan-Mongol.

Para Kai Pang adalah orang yang mengharapkan iba orang lain untuk dapat membantunya. Dengan mendapat bantuan dari orang lain itu, barang bantuan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup bahkan memperkaya diri. Dan dalam kehidupan kelompok tersebut penuh dengan pesta pora dan kemewahan. Mereka, setiap berkumpul makan-makan.

Nah, dalam keseharian bergaul dengan mereka, sering saya mendapati bos Sipoa bergaya Kai Pang. Penampilan di luar, selalu merasa kurang walaupun dalam taraf ukuran kehidupannya sebenarnya normal bahkan berlebih. Kecuali Aris Birawa, yang necis dan mobilnya unik, membedakan dirinya dengan Budi Santoso dan Klemens serta Roni.

Mereka sering mengeluarkan keluhan “Utangku banyak.” Pengakuannya jarang diong (berpesta atau hidup hira-hura, red). Tapi asset pribadinya berlimpah ruah. Ada sejumlah rumah, ada mobil, dan ada aset.

Sdr Budi Santoso, Klemens, Aris dan Pendeta Roni Suwono,

Selama melakukan investigasi, saya amati Budi Santoso yang jago dalam memutarkan uang kastemer. Klemens yang menjaga kantor. Sedangkan Aris, yang suka bercuap-cuap “kami ini pengusaha yang mau membantu wong cilik” bertugas membuat jalan di tanah rawa (infrastruktur). Sementara Ronny Suwono, pengutip uang kastemer (rakyat) berlagak agen property khusus Sipoa.

Diantara Anda berempat yang jago menggunakan logika dagang adalah Budi Santoso. Setiap bertemu, nada bicaranya selain bicara soal blessing atau berkat dari Tuhan, juga hitung-hitungan investasi bidang tanah menggunakan dana orang lain.

Yang dimaksudkan orang lain adalah duit investor, duit rekanan dan duit rakyat. Semua uang masuk digunakan untuk modal kerja. Berapa pun uang yang masuk mulai angsuran pembeli apartemen RAW (Royal Afatar World) Rp 10 jutaan sebulan sampai miliaran. Dana miliaran ini berasal dari pemilik duit yang tergiur dengan iming-iming bunga tinggi (investor) tanpa ribetdengan urusan OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Saya hitung, minimal penawaran bunga (lisik) yang diberikan budi untuk mengajak orang berduit berinvestasi di Sipoa, 10-20%, satu bulan. Belum yang terjebak pada sistem buy back.

Pemikiran Budi Santoso, fokus pada modal dalam artian cashflow yang bergerak. Artinya, ia menginvestasikan uang publik ke tanah. Investasi tanah ini ada yang masih namanya pribadi, masih SHM dan masih dibayar sebagian. Meski demikian, lahan itu diakui sebagai asetnya untuk dipromosikan dengan nama keren.

Misalnya, tanah LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) di Juanda (Tambak Oso) seluas 10 Ha. Tanah ini dipromosikan sebagai ‘’Hong Kong in Surabaya’’. Tanah seharga Rp 196 miliar, baru dibayar Rp 21 miliar. Perantaranya H. Antok. Makanya saat Sipoa tak bisa melunasi, yang repot melobi pimpinan LDII adalah H. Antok.

Rusdi Hasan Tumbelaka, bos Sipoa tertua (mertua Aris) menginginkan pada pembangunan kawasan “Hong Kong in Surabaya” harus tidak boleh ada “lalat” satu ekor pun. Konsepnya ini agar bisa mengundang turis asing dan pendatang orang Tionghoa dari luar Surabaya.

Konsep ini boleh menggunakan nama keren, tetapi kenyataannya, tanah 10 ha, sampai Budi dan Klemens ditahan di Polda Jatim, masih terbengkalai. Bahkan sudah dipagari seng oleh pengurus LDII. Tanah ini yang ditawarkan ke Agung Wibowo. dan Agung ditawarkan ke Muchsin. Kemudian Muchsin ditawarkan ke seorang kontraktor.

Saat saya hubungi melalui telepon 08223582628, pada hari Kamis (31/05/2018), Muchsin yang dikenal di kalangan pengusaha Tionghoa, mengaku pernah ditawari, tetapi ia tidak berminat. Padahal, di kalangan pengusaha property, lahan itu disebut sudah dibeli Muchsin dengan uang panjar sebesar Rp 50 miliar. Kemudian oleh Muchsin ditawarkan kerjasama kepada kontraktor bernama R. Tetapi kontraktor ini tidak tertarik. Kini dengan menghilangnya Agung Wibowo, Mochsin, pengusaha berusia lansia, mengalami kerugian sebesar Rp 50 miliar.

Sdr Budi Santoso, Klemens, Aris dan Pendeta Roni Suwono,

Pada pertengahan tahun 2017, saya pernah diajak bos-bos Sipoa membahas pemecahan proyek Apartemen RAW yang dikelola oleh PT Bumi Samudra Jedine. Ikut rapat Niken, wanita berambut keriting yang dipercaya menjadi kepala kastemen service. Ada juga Santoso Tedjo, yang dalam penyamarannya diposisikan oleh Budi Santoso, Direktur Utama PT Sipoa Legency Land.

Pada saat itu hitungan Niken, uang yang masuk tinggal Rp 225 miliar dari Rp 500 miliar. Menyusutnya pendapatan ini, karena kastemer menarik dananya, setelah melihat lokasi lahan 6 ha di Waru, dekat kampus STIE Mahardika (dekat jalan tol) masih berupa hamparan tanah. Dan tidak ada tanda-tanda pembangunan blok-blok apartemen RAW.

Semua bos Sipoa tidak ada yang mau menjelaskan kemana larinya uang Rp 225 miliar. Hanya Niken, yang berani terbuka. Menurut Niken, sebagian dana ada yang masuk ke rekening pribadi Budi Santoso. Termasuk pembeli borongan seorang pengusaha berduit.

Menurut penelusuran saya selama 12 bulan pada internal Sipoa maupun PT Bumi Samudra Jedine, uang kastemer RAW, digunakan untuk membeli tanah di Juanda dan Bali. Sebagai gantinya, bos-bos Sipoa mengajak satu perusahaan BUMN. Bahkan perusahaan BUMN ini telah dilakukan penandatanganan Memory of Understanding (MoU). Kemudian foto MoU disebarkan ke kastemer. Termasuk di ruang tunggu kantor Sipoa dipasang spanduk bertuliskan kerjasama pembangunan apartamen Sipoa, bersama satu perusahaan BUMN. Ternyata kerjasama ini batal, sehingga sampai November 2017, pembangunan tidak berlanjut.

Sampai bulan Januari 2018, Klemens Sukarno, menggambarkan telah melakukan lobi dengan dua BUMN. Tetapi hasilnya pun masih nihil. Dua perusahaan BUMN yang sudah meninjau lokasi, tak mau meneruskan rencana pembangunan Apartemen RAW.

Makanya, bos-bos Sipoa mengundang semua kastemer untuk diajak berunding dengan tawaran pindah lokasi ke proyek Sipoa di Tambak Oso, selain mau menandatangani penyerahan unit mundur satu tahun dengan bonus, AC dan TV. Semua kompensasi ini mayoritas ditolak kastemer. Ternyata saya usut, penawaran ini bagian dari strategi bisnis Budi Santoso Cs, yaitu buying time, mengolor-olor waktu sampai menemukan investor baru. Maklum, duit kastemer sudah digunakan untuk macam-macam keperluan, termasuk membeli tanah rawa yang “digoreng” kemudian dijual lagi dengan harga berlipat-lipat (spekulan tanah).

Sdr Budi Santoso, Klemens, Aris dan Pendeta Roni Suwono,

Kepribadian Anda semua sudah saya kenali selama 11 tahun (saya mengenal Budi dan Klemens, sudah sejak tahun 2006 tetapi hubungan intensif baru 2016, saat saya melakukan investigasi reporting).

Budi Santoso, saya anggap berkarakter pendiam dengan mata bak seorang harimau, misterius. Dalam mengambil keputusan, ia termasuk lihai dan licik. Lihai, karena urusan kewajiban membayar ia menyebut blessing. Tentang sifat licik, terjadi pada urusan tanggungjawab, Budi Santoso, selalu tidak mau mengambil keputusan. Bahkan sering tidak ikut rapat direksi. Malahan mulai juni 2017, saat banyak gugatan, Budi mengambil cuti. Tetapi dibekakang masih mengurus proyek apartemen bersama Aris Birawa.

Dari bulan ke bulan, dari minggu ke minggu, saya menyelami, ‘’kekuatan’’ modal finansial (kumpulan uang publik) tampaknya tidak di dukung dengan keputusan yang jernih (nawaitu atau mens rea). Serta support SDM bidang properti yang baik, dan tanpa management yang baik. Ada kecenderungan one man show. Makanya dana dari publik menyusut, sehingga cashflownya terganggu atau merusak dan memperkecil modal.

Anda semua bukan anak konglomerat, kecuali Aris anak orang kaya lama (OKL) yang dikenali sebagai pemain dunia perbankan plat merah. Maka itu, beberapa pengusaha property bertanya kepada saya, motif apa Anda membuka bisnis properti dengan mengutip dana publik puluhan miliar.

Sdr Budi Santoso, Klemens, Aris dan Pendeta Roni Suwono,

Beberapa pengusaha property dan pertanahan memprediksi Anda akan jatuh sebelum Pilpres tahun 2019 (ternyata tahun 2018 sudah meletus didemo ratusan kastemer dan kemudian ditahan). Indikasinya ada tiga. Pertama, Anda berani memberi bunga tinggi kepada investor. Kedua, Anda, tidak memodali sendiri property Sipoa. Ketiga, mayoritas modal dari publik (investor dan kastemer).

Keempat, Anda bukan orang property (tidak dikenali di kalangan pengusaha REI Jatim), Anda bukan anak pengusaha property, sekelas Melinda Tedja (Pakuwon) Teguh Kinarto (pengusaha Properti di Malang yang dekat dengan Gubernur Basofi Sudirman), Ir. Ciputra (Ciputra) dan almarhum Bambang Wiyanto (Sinar Galaxy). Kelima, Anda lebih condong sebagai spekulan tanah ketimbang pengembang. Keenam, bidikan pasar orang awam (SIPOA) tidak feasible, karena selama ini pelayanan rumah untuk orang kecil domain Perumnas dan Kementerian Perumahan. Makanya, semua broker rumah tak mau menawarkan semua proyek Sipoa.

Selama 12 bulan saya menyelam di dalam manajemen Sipoa, saya pun ketar-ketir, perahu yang sudah diakui Budi Santoso goyang sejak pertengahan tahun 2016, mulai oleng berat. Saya menilai Budi Santoso dkk, sepertinya kurang memperhitungkan risk management sekaligus lemah dalam analisis feasiblility study.

Adalah Aris Birawa, yang tukang bicara ceplas-ceplos. “Pak Tatang, kita ini bersyukur. Dulu tak membayangkan bisa punya proyek yang banyak. Puji Tuhan,” jelasnya. Aris tak pernah mau jujur, uang dari mana bos Sipoa bisa memodali sejumlah proyek property di Surabaya, Sidoarjo dan Bali. Justru saya makin tahu setelah membaca laporan keuangan dari bagian keuangan. Dari Laporan Keuangan ini, ternyata Anda semua tak pernah menggelontorkan dana pribadi ke proyek-proyek Sipoa Grup. Dana pendanaan proyek Sipoa justru dari publik (investor, kastemer dan mitra bisnis). Selain dari Bank, khususnya BTN.

Pada pertengahan tahun 2017, saat Anda semua berlibur ke Jepang dan Hong Kong, saya membaca laporan keuangan pada 11 PT (perseroan terbatas) dari 21 PT. Ternyata hampir semua PT, amsyong (remuk di dalam).

Maka itu, saya memberi sinyal dan usulan kepada Budi Santoso dan Klemens, untuk dipikirkan program restrukturisasi perusahaan sampai penataan ulang (re-enginering) PT-PT yang kurang profitable. Tetapi usulan ini, Anda abaikan. Kewajiban ke kastemer RAW, Anda serahkan ke Niken, bagian kastemer servive, untuk dilakukan tawar menawar memperpanjang waktu (buying time) saja. Tidak ada opsi mengembalikan dana orang awam atau membangun blok-blok apartemen.

Anda malah melakukan diversifikasi proyek perumahan dengan badan hukum jovan (ini juga merayu rakyat kecil). Padahal Anda punya tangggungan besar di proyek yang menyedot uang ribuan rakyat di RAW. Akhirnya, kini Anda masuk bui, karena dilaporkan ratusan kastemer yang telah membentuk paguyuban. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)


Tatang Istiawan (Tokoh Pers Jawa Timur)