TANGIS dan lelehan air mata terus mengalir di relung derita yang semakin kentara. Kabar yang berseliweran di medsos sudah sangat membanjir atas korban penerbangan. Begitulah yang lazim menghinggap di benak khalayak. Tragedi Lion Air JT 610 pada Senin pagi, 29 Oktober 2018 itu terus saja menyayatkan cerita dengan kepiluan sebagai titik jedah untuk mengingat betapa takdir lebih kuasa terhadap kebaradaan manusia. Getar dada bangsa sungguh sangat terasa menggemurukan jerit yang mengabarkan bahwa ada peristiwa yang berada dalam cerahnya langit Tanjung Karawang Jawa Barat saat itu. Udara kemudian mengabarkan dengan sontak tentang “kepulangan jiwa-jiwa manusia” kepada Sang Pencipta.

Kepulangan yang disaranai maskapai penerbangan yang memberikan sinyal angkasa tidak selalu aman tetapi bukan pula kurang anugrah. Angkasa yang memanggul segarnya udara adalah ruas dimana kehidupan menapaki jejaknya. Bumi juga meyediakan ruang untuk ikhtiar sehingga manusia memenuhi kebutuhannya. Tetapi gempa dan tanah longsor yang kerap menghampiri bukan berarti tidak menaburkan cintanya. Kesuburan tanah telah memanenkan sumber daya bagi manusia. Namun manusia sering kali mengeluh dikala bumi tidak menghadirkan panen raya seperti yang diharapkan.

Bumi selalu bersenandung dengan gunung-gunung agar teguh merengkuh hutan dengan pepohonan yang memproduksi oksigen untuk pernafasan. Beribu kali manusia tarik nafas setiap harinya dengan asupan oksigen yang nyaris tersedia begitu saja. Tidakkah manusia merenunginya bahwa tarik nafas itu lambang keagungan-Nya agar engkau mengerti betapa hidup ini bukan basa-basi. Lautan pun sering disudutkan bahwa gelombangnya menakutkan. Gulungan ombak pastilah setia menghantar setiap hal untuk sampai di pantai tujuan. Lautan juga makhluk yang suka disapa dan tidaklah elok mengotorinya dengan sampah-sampah aktivitas manusia.

Lautan tiada lelah mewartakan adanya nyawa yang terenggut sejak di udara. Itulah kemungkinan yang bisa dimengerti hingga air lautan menyongsong penuh kasih. Hanya saja menusia tidak peka atas itu semua. Siapa sejatinya yang lengah dengan pengecekan sarana teknis untuk memastikan kelaikan terbang. Untuk itulah organ negara dibentuk dengan menghadirkan institusi yang diberi mandat mengatasi. Sampai disini kita pasrah dalam dekap alam yang menyajikan realitas bahwa kematian tidak dapat ditolak dan kian membuka jalan lebar menuju keabadian.

Laut itu menarikan gelombang yang sangat santun memberi kesempatan agar manusia menganali setiap jasad yang mengapung. Jiwa-jiwa itu mengikuti perintahNya. Saya sangat teraharu atas doa yang terus diiringkan oleh seluruh anak bangsa. Ini menandakan bahwa kesedihan keluarga korban Lion Air JT 610 merupakan duka seluruh manusia. Dan kita berkesadaran bahwa jiwa-jiwa yang terbang tetapah akan hinggap dalam kosmologi kekuasaan Tuhan. Yakinlah jiwa-jiwa itu kini berkerumun dalam persemayaman surgawi. Surga terbuka bagi setiap jiwa yang datang dalam senandung pujian-pujian yang dihantar setiap saat oleh handai taulan yang mengirimnya. Inilah seperkisahan tidak adanya jiwa yang jalan sendirian karena Tuhan menempatkan jiwa-jiwa itu dalam taman sari kehidupan yang diregulasiNya. Kita di sini menindih sedih tetapi dengan bergulirnya waktu, suasana normal akan kembali. Tangis itu pupuk buncahan cahaya Tuhan esok harinya.

Percayalah bahwa peristiwa ini bukan giliran dari seleksi alam (natural selection) yang biasa diajarkan Charles Darwin (1809-1882) dalam karya pujaan kaum materialis The Origin of Species yang dipublikasikan tahun 1859. Setiap jiwa memang kepulangannya melalui medan yang beragam termasuk di 2018 ini. Deret waktunya penuh tanda tanya dengan bekal pengalaman narasi kegelisahan dari yang berdimensi ideologis, ekonomi, hankam, sampai ekologis. Bencana hidrometeorologi yang berupa banjir, tanah longsor dan angin puting beliung mendominasi lembar cerita 2017. Khalayak menyaksikan adanya gelegak penderitaan seperti dilansir BNPB dalam mengawali 1 Januari 2018. Di hari pertama 2018 saja sudah diumumkan bahwa tahun 2017 merekam kejadian, 2.341 bencana dengan liputan yang mencakup: 787 banjir, 716 puting beliung, 614 longsor, 96 kebakaran hutan dan lahan, 76 banjir-longsor. Bahkan gempa terekam mengguncang Indonesia sebanyak 6.929 kali. Bencana ini menyebabkan 377 orang menghadap Tuhan lebih cepat, 1.005 terluka dan 3,5 juta rakyat mengungsi. Rumah luluh lantak tercatat 47.442 buah dan terendam air sehitungan 365.194 buah. Ribuan fasilitas umum lainnya juga rusak.

Angka-angka yang dirajut institusi negara untuk mampu dibaca melalui kebijakan menjadikan bencana sebagai anugrah asal semua “ditirakati kanti bersihnya hati”. Angka-angka itu pun bukanlah lukisan statistikal dan laporan pertanggungjawaban termasuk dalam tragedi Lion Air JT 610, melainkan sebuah raungan yang menjeritkan hati tentang derita yang dirasa. Dalam lingkup inilah hadirnya jiwa-jiwa yang “berterbangan itu” merupakan bersitan atas nama cahaya Tuhan.Ingat cahaya ingatlah pula QS. Al-Nur (24) ayat ke-35: Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat. Yang minyaknya nyaris menyala dengan sendirinya, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah menuntun kepada cahaya-Nya, siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segala.

Terdapat berpuluh permaknaan atas ayat tetapi hikmah terhadapnya tidak akan sanggup direkam sempurna. Mencari cahaya-Nya adalah jelajah panjang kehidupan dan Hujjatul Islam Abu Hamid, Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi Al-Naysaburi, Al-Faqih Al-Shufi, Al-Syafi’i, Al-Asy’ari (450-505H), telah menuliskan ilmunya secara khusus dalam kitab Misyakat Al-Anwar, Misykat Cahaya-cahaya yang terus dicetak ulang. Dalam kitab agung Sang Imam ini, misykat adalah ceruk, lubang yang masuk ke dinding, tetapi tidak tembus sampai ke sebelahnya yang lain, guna meletakkan pelita. Di tahun 2018 ini kuhantarkan seruan meruhanikan misykat itu dalam hati yang menjadi sumbu cahaya-Nya agar hidup ini teguh bertauhid, memanggul iman-Mu ya Rabb. Semua jiwa itu menyelinap dalam cahaya Tuhan di Tanjung Karawang, karena ini adalah hamba-hamba yang menghadap atas nama takdir penentuan-Nya.

Akhirnya, untuk “menasionalisme dan mengheroismekan” peristiwa ini, pikirku menerawangkan ingatan mengenai Karawang sambil mengingat kembali puisi karya Chairil Anwar tahun 1948 yang berjudul Krawang Bekasi:

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (*)


Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)