PEMILU 17 April 2019 belum menjadi pembelajaran berdemokrasi secara luber dan jurdil sebagai asasnya. Fakta telah menimpuk dan menumpuk di ruang publik tentang tontonan penyelenggara yang menyoblos-nyoblos sendiri, memasukkan ke kotak-kotak sendiri, dan selanjutnya menghitungnya penuh senyum kemenangan. Ragam dokumen C1 diperebutkan dan pelakunya diviralkan seperti pesakitan dan kaum terpelajar membungkamkan diri atas “selembar dusta”. Bahkan ada sosok cendekia menafikannya sebatas urusan kecilnya persentase pelanggaran yang berbalut oleh khalayak sebagai kecurangan. Beribu data dan asumsi dapat dibangun untuk menyatakan bahwa kecurangan hanyalah “serbuk” yang tidak mengotori sekantong bahan adonan jajan pasar.

Sekilas itu menjadi kebenaran dan kemudian orang mengumumkan bahwa “kekalahan harus diterima dengan lapang dada sebagai bentuk kedewasaan berdemokrasi”. Isu dan fatsun berekonsiliasi dihembuskan dengan lambang konstitusi yang harus dijunjung tinggi sambil melupakan bahwa “maling suara tidaklah signifikan”untuk menggugurkan pesta berbiaya supermega. Sebuah logika yang menjustifikasi bahwa pelanggaran kecil hanyalah “dosa mini” yang dengan mudah mendapatkan ampunan. Pencuri suara rakyat ditoleransi karena pengungkapan terus-menerus atas kejadian itu dipandang mendelegitimasi pelaksaan coblosan dan itu menghina wibawa negara.

Kaum cerdik pandai lantas mengikutinya sambil menyibukkan diri rapat-rapat akademiknya karena tidak mau peduli atas realitas mengenai “penistaan daulat rakyat”. Ketahuilah bahwa rakyat sejatinya telah lelah menahan nafas atas imaji tentang pemimpin yang amanah, bersih, cerdas, bukan yang culas dengan memangsa kehendak berdemokrasi. Apalagi situasinya terus bergulir dengan unggahan lama yang dihidupkan kembali mengenai “pindahnya ibu kota negeri” sambil menyelisik korupsi yang tiada henti. Lebih dari itu isu banjir juga tidak pernah lelah menyesakkan kita semua. Wilayah Jatim seperti Lamongan dan Gresik tidak kunjung rampung mengatasinya. Banjir benar-benar menjadi bencana tahunan yang meski ganti kepemimpinan tidak pernah sedikit “menepikan diri”. Lamongan dan Gresik sudah berkali-kali kepala daerahnya berganti tetapi banjir itu tampaknya belum pernah mau mengalah. Terus merangsek menunjukkan kuasanya.

Kini kabar semakin santer soal OTT KPK dan hakim terkena di samping ada pengusaha serta politisi di hari-hari sebelumnya. Sampai di sini kesabaran menempuh jalan pengharapan meski panjang tetaplah dikuat-kuatkan. Sabar yang tiada batasnya. Ini berbeda dengan pandangan umum yang menyatakan “sabar itu berbatas”. Demokrasi yang menghasilkan kepemimpinan yang antikorupsi terus ditunggu sampai kapan pun. Itulah tekad yang disemat oleh seluruh warga negara, meski Mahkamah Agung memperkenankan seorang mantan koruptor menjadi legislator. Sebuah posisi kenegaraan yang penuh martabat demokrasi, sehingga untuk memanggilnya selalu penuh harkat: kepada dewan yang terhormat. Begitulah nisbat yang dapat dipetik pesannya bahwa pemilih siap berlama-lama menanti kehadiran wakilnya yang tidak korupsi. Kesabarannya mengikuti laras cerita One Hundred Years of Solitude – Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marques, Novelis asal Colombia dan Penerima Nobel Sastra 1982.

Sungguh kasus yang menimpa para penguasa, termasuk hakim-hakim yang kena rasuah, sudah cukupmemberikan keperihan. Meski sebagian pihak tetap kukuh pada pendirian bahwa “wakil rakyat” yang dibopongnya tetaplah orang “suci”, sang pendharma sejati. Selama undang-undang tidak melarangnya janganlah buru-buru menghakimi “korupsi yang dibagi-bagi”.

Sungguh. Fenomena korupsi yang “diimani” seperti “jalan untuk mengabdi” dalam demokrasi memanglah unik. Keunikan yang ikhwalnya menghantarkan kepadakehancuran sebuah peradaban yang mengabsahkan “aji mumpung” sebagai kemuliaan, termasuk kampanye dengan menggunakan fasilitas negara, apapaun wujudnya. Pemaknaan ini mengingatkan saya pada cerpen The Spider’s Thread” (1961) yang ditulis Ryunosuke Akutagawa (1892-1927). Dia adalah pengarang terkemuka Jepang dan namanya diabadikan sebagai penghargaan sastra paling bergengsi di negaranya.

Cerpen Jaring Laba-laba telah menjadi bagian dari Sehimpun Cerpen Terbaik Dunia Sepanjang Masa yang dikompilasi oleh kurator Anton Kurnia (2016). Ceritanya:saat itu hari masih pagi di surga. Sejenak sang Buddha berdiri di tepi Kolam Teratai, melalui celah terbuka di antara dedaunan yang menutupi permukaan air, tiba-tiba terpampang sebuah pemandangan. Matanya tertumbuk pada seorang lelaki bernama Kandata yang berada di dasar neraka bersama para pendosa lainnya. Kandata semasa hidupnya adalah seorang perampok kelas berat yang telah banyak berbuat kejahatan; membunuh, membakar rumah dan hanya memiliki satu kebaikan. Suatu kali saat dia berjalan di tengah hutan belantara, dilihatnya seekor laba-laba sedang merayap di tepi jalan. Dengan cepat ia mengangkat kakinya bermaksud hendak menginjaknya, namun tiba-tiba ia berpikir: ah tidak, tidak. Sekecil inipun dia mempunyai nyawa. Alangkah memalukannya bila aku membunuhnya tanpa alasan. Dia pun membiarkan laba-laba itu tetap hidup.

Ketika memandang ke neraka, sang Buddha teringat bagaimana Kandata telah menyelamatkan seekor laba-laba. Sang Buddha dengan tenang mengambil seutas jaring laba-laba dan dijatuhkannya benang itu ke dasar neraka yang terhampar di antara bunga-bunga teratai yang berwarna seputih mutiara. Perampok ulung itu, Kandata tengah terbenam di dalam genangan darah, tak bisa berbuat apa-apa selain berjuang agar tak tenggelam di kolam seperti seekor kodok sekarat. Namun saatnya telah tiba. Hari ini Kandata mengangkat kepalanya secara kebetulan dan menatap langit di atas Kolam Darah. Dia melihat seutas jaring laba-laba berwarna keperakan yang menjulur ke arahnya dari arah surga yang tinggi. Melihat itu Kandata bertepuk kegirangan untuk merangkak. Jika semuanya berjalan lancar dia bisa mencapai surga. Itu berarti dia akan terbebas dari Gunung Jarum dan Kolam Darah. Adapun soal memanjat jaring itu bagi mantan perampok ulung bukanlah hal yang asing baginya.

Kandata telah memanjatnya dan Kolam Darah tampak tersembunyi di balik kegelapan dan Gunung Jarum sependar samar-samar di bawahnya. Kandata berteriak nyaring kegirangan setelah bertahun-tahun terpuruk di dasar neraka. “Berhasil”, teriaknya. Akan tetapi, tiba-tiba dia memandang ke bawah jaring itu dan melihatnya para pendosa lain ternyata ikut berduyun-duyun memanjat penuh semangat menggapai jejaknya, naik dan terus naik bagaikan upacara para semut. Saat itulah Kandata terbelalak dengan mulut ternganga. Bagaimana mungkin jaring laba-laba yang tipis ini dapat menahan sebanyak itu, sementara untuk menahan beban tubuhnya sendiri sajanyaris putus. Jika jaring itu sampai putus, dia akan jatuh kembali ke dasar neraka setelah berhasil mencapai titik pengharapan. Kini ratusan bahkan ribuan pendosa merayap naik dari kegelapan Kolam Darah dan memanjat sekuat tenaga. Kandata pun menghardik dengan suara lantang: “hai, kalin para pendosa, jaring laba-laba ini milikku. Siapa yang memberimu izin naik mengikutiku? Turun! Turun!”.

Tepat pada saat itulah, seutas jaring tipis itu, yang sejauh ini tak menunjukkan tanda-tanda akan putus, tiba-tiba putus tepat di titik Kandata tengah bergantung. Tanpa sempat menjerit, dia meluncur deras ke arah kegelapan, terus melayang, berputar dan berputar. Setelah semuanya usai, hanya sisa jaring laba-laba surga itu saja yang tampak bergoyang berkilat-kilat, bergantung di langit tak berawan. Ya … sambil berdiri di tepi Kolam Teratai di surga, sang Buddha menatap dari dekat semua kejadian tadi. Saat itu hari beranjak telah menjelang siang di surga.Jangan terlambat untuk berbuat maslahat dan jangan nafikan kecurangan atau mencurangi suara rakyat, sekecil apapun itu sambil memungkuskan pihak yang dicurangi sebagai orang yang tidak siap kalah. Tahukah bahwa esensinya bukan soal menang-kalahnya tetapi soal sikap membenarkan “mengambil yang bukan haknya”, itu adalah nista. BERPUASALAH.

Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)