SURABAYAPAGI.com, Surabaya - BNNK (Badan Narkotika Nasional Kota) Surabaya menggerebek seorang pengedar di Rusun Sombo Simokerto Surabaya. Kendati berhasil meringkus sang pengedar, namun penggerebekan itu tidak mudah. Sebab, giat yang mereka lakukan justru mendapat reaksi negatif dari penghuni rusun. Negosiasi alot pun terjadi, hingga warga rusun memilih mundur dan melepaskan sang pengedar dibawa Tim BNNK Surabaya.
"Sebelum berangkat, saya sudah ingatkan anggota agar memenuhi kuota personil sesuai SOP. Dan alhamdulillah, personil yang bergerak kesana cukup banyak. Sehingga kepungan warga tidak sampai melukai anggota kami," kata Kepala BNNK Surabaya, AKBP Suparti, Senin 5/3.
Penyergapan itu sendiri dilakukan Tim BNNK Surabaya pada Kamis 1/3 sekitar pukul 20.40 Wib. Target mereka ada Muclish, pria 43 tahun yang menempati Blok I No 116 rusun tersebut. Muclish dipantau dalam satu minggu terakhir karena diduga mengedarkan narkoba jenis sabu.
"Dan benar, saat kami dobrak kamarnya, dia sedang menimbang sabu itu," beber Suparti.
Dari tangan Muclish sang pengedar, petugas BNNK Surabaya akhirnya berhasil menyita sejumlah barang bukti. Diantaranya 6 poket sabu seberat 2,08 gram, satu timbangan digital, satu HP dan uang hasil transaksi narkoba sebanyak 500 ribu.
Mantan Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya ini menambahkan, rusun Sombo memang sudah dikenal menjadi sarang peredaran narkoba. Sejumlah pengedar juga seringkali ditangkap di rusun tersebut. Baik oleh BNN maupun kepolisian. "Kami juga sering melakukan rehabilitasi pecandu narkoba yang berasal dari rusun itu," tandasnya.
Sementara itu Muclish Sudah satu bulan terakhir, mengaku menjadi pengedar narkoba jenis sabu. Namun siapa sangka, bisnis haram pria 43 tahun itu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Setiap meracik sabu yang hendak di tempat tinggalnya di Rusun Sumbo Blok i No. 166 Surabaya, dia menungu istrinya berangkat bekerja. Namun kini, bisnisnya pun terbongkar, pasca dirinya ditangkap BNNK Surabaya.
"Saat istri saya bekerja, saya siapkan sabu yang saya beli berikut timbangan dan klip plastiknya. Saya kemas dalam paket hemat sesuai pesanan," aku Muclish di Kantor BNNK Surabaya.
Bapak dua anak itu mengaku, jika sabu itu ia beli dari seseorang di Jalan Kunti Surabaya. Setiap 0,5 gram, dia membelinya dengan harga 600 ribu. Biasanya, sabu 0,5 gram itu, ia racik menjadi 10 poket kecil. Hasilnya, 10 poket itu terjual 1 Juta. Praktis, Muclish mendapat keuntungan 400 ribu setiap mengedarkan 0,5 gram sabu.
Selain melayani pesanan pembeli dari luar rusun, Muclish tidak menampik jika warga di rusun tersebut kerap membeli sabu kepadanya. "Tapi kebanyakan, pesanannya dari orang luar rusun. Saya biasa mengantarnya sendiri ke pembeli," dalih pria yang juga sudah memiliki satu cucu ini.
Di rusun itu sendiri, pria asal Sampang Madura ini hanya tinggal bersama istrinya. Sementara dua anaknya yang sudah menikah, tinggal di tempat lain. "Selama ini, saya bekerja serabutan. Saya mencoba bisnis (sabu) ini, agar dapat penghasilan tambahan. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari," sebutnya.
Suparti menambahkan, Muclish diduga kuat menjadi pengedar jaringan Jalan Kunti Surabaya. Dalam pemeriksaan, Muclish mengaku mendapat sabu itu dari seseorang berinisial Y, yang saat ini tengah diburu. "Kami masih identifikasi siapa orang yang disebut tersangka itu. Kami jaringan ini bisa kami bongkar," paparnya. Alq
Editor : Redaksi