Analisis Politik

Momen Bulan Bung Karno, Ingat Soekarno Juga Wartawan

surabayapagi.com
H. Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Menyaksikan live streaming peringatan puncak Bulan Bung Karno, Sabtu siang sampai sore (24/6/2023), jujur saya yang masih berusia 40 tahun, terhanyut dengan kisah perjuangan Soekarno. Kisah itu tidak hanya dilukiskan dalam tari dan lagu, juga dinarasikan oleh Jokowi, Megawati, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo.

Saya yang tak kenal Bung Karno secara fisik, baru sadar, Soekarno, bukan sekedar seorang proklamator kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Ia sosok yang hebat. Banyak hal yang sampai sekarang masih kerap diperkenalkan sebagai khas Soekarno. Selain pemikiran dan ajarannya. Soekarno adalah bapak bangsa, penyambung lidah rakyat. Bersama-sama, ketika itu, Soekarno berhasil meletakkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai bangsa Indonesia.

Baca juga: Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Presiden Joko Widodo, bicara soal pemikiran serta cita-cita Presiden pertama RI, Sukarno. Cita-cita itu terus dilanjutkan oleh generasi saat ini Jokowi, melalui pemerintahan yang dua periode.

Jokowi, dalam sambutan peringatan Bulan Bung Karno di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (24/6/2023), masih mengingatkan pesan Bung Karno tentang persatuan.

Jokowi awalnya bicara soal gagasan besar Bung Karno yang menjadi arah perjuangan bangsa. Dia mengatakan Bung Karno menginginkan Indonesia menjadi bangsa yang besar dan berperan di antara negara-negara dunia.

"Bung Karno telah memberikan arah perjuangan kita jadilah Indonesia bangsa yang besar, jadilah Indonesia mercusuar yang gemilang, yang sinarnya menginspirasi banyak bangsa dan yang tampak berkilau di tengah peta dunia. Indonesia harus menjadi bangsa besar yang kokoh yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam berkebudayaan," ucap Jokowi.

 

***

 

Mengikuti live streaming dari awal sampai bubar, saya baru sadar bahwa ada kekaguman pada Bung Karno. Citra negatif terhadap ajaran Soekarnois, langsung terkikis.

Mulalui gelaran akbar itu, saya baru disadarkan bahwa Soekarno, juga melakukan perjuangan melalui media tulisan. Ia tak ubahnya seorang wartawan.

Jujur, sudah ada sejumlah buku tentang Soekarno, sudah saya baca.

Jujur, banyak berbagai pemikiran beliau yang dituangkan ke berbagai tulisan yang menunjukan bahwa media apapun saat itu digunakan beliau sebagai alat perjuangannya.

Diantara buku yang paling monumental tentang Soekarno adalah buku “Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I“.

Isi buku ini berupa kumpulan butir-butir gagasan beliau terhadap Indonesia yang dicita-citakan. Juga ada beberapa pidato kenegaraan dari sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia.

Hal yang mencambuk saya, pidato Bung Karno yang mengatakan, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri".

Pidatonya ini terbukti. BK (Bung Karno), lewat ucapan saat itu mengingatkan ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia setelah merdeka, termasuk generasi saya. Apa ancaman itu?

Kemiskinan. Saat ini jurang antara orang miskin dan orang kaya di Indonesia semakin lebar. Hal ini terlihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai gini ratio Maret 2022.

Kepala BPS Margo Yuwono menyampaikan gini ratio pada periode ini mencapai 0,384, lebih tinggi dibandingkan September 2021 yang sebesar 0,381. Dibandingkan Maret 2021 justru sama.

Masih laporan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di Indonesia per Maret 2022 mencapai 9,54 persen, atau sekitar 26,16 juta orang.

Di Indonesia, 85 persen dari total populasi orang dewasa memiliki kekayaan kurang dari USD10.000, jauh di atas rata-rata dunia yang tanya 64 persen. Sebanyak 0,9 persen orang dewasa Indonesia memiliki harta lebih dari USD100.000, jauh di bawah angka global, 9,4 persen.

Dalam kurun waktu lima tahun, sejak 2021 hingga 2026, jumlah orang kaya Indonesia melonjak 63 persen menjadi 134.015 orang dari jumlah tahun 2021 sebanyak 82.012.

Orang kaya dimaksud adalah mereka yang masuk dalam kategori High Net Worth Individuals (HNWIs) dengan harta kekayaan lebih dari 1 juta dollar AS atau ekuivalen dengan Rp 14,3 miliar.

Menurut laporan The Wealth Report 2022 yang dipublikasikan Knight Frank per 1 Maret 2022, harta itu termasuk harta properti berupa rumah pribadi dan tangible assets lainnya.

Apakah ini hasil kemerdekaan yang diingatkan Soekarno? Anda bisa membaca realita di masyarakat .

 

Baca juga: Berharap Eks Menag Dihukum Berat

***

 

Juga dalam pledoinya ”Mencapai Indonesia Merdeka”, ia menggambarkan mengenai praktik imprealisme dan kolonialisme yang dilakukan oleh seluruh dunia terhadap Indonesia, bukan hanya Belanda, akan tetapi dikatakannya seluruh dunia telah mencicipi kekayaan negri ini dengan mengorbankan nilai kemanusiaan dan nyawa manusia, untuk membuat makmur negri penjajah. Serta keinginan merdeka yang tidak bisa ditawar lagi dan yang menarik adalah beliau meramalkan “ ketika ditengah-tengah peperangan asia timur raya akan ku merdekakan bangsaku, dan anehnya kemerdekaan Indonesia 17  agustus 1945 memang perang asia timur raya sedang berkecamuk, padahal tulisan itu dibuat pada tahun 1930-an.

Kelebihan buku "Di bawah bendera revolusi," dari segi pemilihan kata sangat mudah dicerna, karena hampir setiap karangan beliau adalah berupa percakapan antar penulis dan pembaca atau menggunakan bahasa percakapan yang ditulis, sehingga penekanan-penekanannya dapat langsung dirasakan oleh penulis dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh berbagai kalangan. Serta memiliki pemikiran-pemikiran yang masih mampu dijadikan pijakan dasar untuk melihat Indonesia di masa lalu maupun masa kini, agar menjadi tata buku masa lalu untuk menyusun tata buku masa depan.

Buku "Dibawah Bendera Revolusi" ini berisi pemikiran dan pidato Sang Proklamator, Presiden pertama kita Ir. Soekarno. Buku yang merupakan edisi pertama cetakan tahun 1964 ini menghimpun tulisan-tulisan Bung Karno dalam masa revolusi menuju Indonesia merdeka. Dalam tulisannya berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, terlihat tiga konsep yang mewarnai gaya kepemimpinannya sebelum akhirnya lengser setelah peristiwa Gestapo. Dengan nasionalisme Bung Karno mencoba membangkitkan kebanggaan akan sebuah bangsa yang besar dengan cita cita tinggi. Islamisme ditandai dengan kesadaran menggali Islam yang sebenarnya. Sedangkan Marxisme dipandang sebagai energi yang mampu melawan kapitalisme yang menjadi motor kolonialisme saat itu.

Indonesia menjadi bangsa merdeka yang mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan berkepribadian secara kebudayaan. Ini merupakan cita-cita bangsa yang selalu didengungkan oleh Soekarno.

Artinya, meskipun secara fisik kita telah terbebas dari penjajahan fisik, kemerdekaan negara bekas jajahan tidak berarti langsung menghilangkan penindasan negara penjajah. Hal yang berbeda hanyalah bentuk penjajahannya.

Jika dulu penjajahan dilakukan dengan penaklukan dan perampasan sumber daya alam dari bangsa jajahan, di era modern ini bentuk penjajahan bertransformasi menjadi penjajahan sosial-budaya, ekonomi, dan pemikiran yang lebih bersifat tak kasat mata .

Menurut beberapa pakar teori sosial, bentuk penjajahan modern Dunia Barat terhadap Timur dialamatkan pada wacana globalisasi (neo-kapitalisme), internasionalisasi, dan developmentalisme yang berlangsung lebih tersamar namun berdampak jauh lebih dahsyat ketimbang bentuk kolonialisme klasik.

Globalisasi, misalnya, bukan hanya dituding sebagai wacana yang bertujuan untuk menciptakan ketergantungan ekonomi terhadap Barat, tetapi juga sebagai jalan masuk infiltrasi budaya Barat terhadap budaya Timur. Berdasarkan fakta-fakta ini, menurut saya kolonialisasi belum berakhir.

Saya pernah membaca buku berjudul On Some Aspect of the Historiography of Colonial India, oleh sejarahwan India.

Guha, menjelaskan bahwa penindasan tidak semata-mata dilakukan oleh kelompok “luar” saja (bangsa penjajah), namun juga kelompok “dalam” (orang pribumi).

Penindasan kelompok “dalam” seperti ini tidak terlepas dari wacana ideologis yang dikonstruksikan oleh bangsa penjajah yang kemudian diadopsi oleh masyarakat lokal untuk menindas kelompoknya sendiri demi kepentingan mereka.

Baca juga: Jokowi Seperti Mulai Sindir Megawati

Maka itu saya terngiang pidato Presiden RI Pertama, Soekarno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Saya sempat bertanya-tanya apakah mungkin dan bagaimana caranya hanya dengan 10 pemuda bisa mengguncangkan dunia? Bagaimana dan Apa? Walahualam.

Catatan jurnalistik saya, mencatat sebelum membacakan naskah proklamasi, Soekarno juga menggeluti dunia jurnalistik. Bahkan pernah jadi pemimpin redaksi.

Dalam tulisan-tulisannya di suratkabar, selain menggunakan nama asli--sejauh yang berhasil diketahui--Soekarno menggunakan nama pena; Bima dan Soemini.

Bahkan saat di Surabaya, kata Rudi Hartono dalam Pena Tajam Soekarno, Bung Karno pernah aktif sebagai anggota dewan redaksi Bendera Islam, surat kabar yang kemudian hari berganti nama Fadjar Asia.

Koran yang terbit tiga kali seminggu ini bersemboyan: Melawan Imperialisme Barat! Berjuang untuk Kebebasan Bangsa dan Tanah Air.

Dari Surabaya, Soekarno melanjutkan sekolah arsitek di Bandung. Technische Hoogeschool—kini Institut Teknologi Bandung (ITB). Di Kota Kembang, dia indekos di rumah Inggit Garnasih.

Bersama kawan-kawannya, lelaki kelahiran 6 Juni 1901 ini mendirikan kelompok studi Algemene Studie Club. Dan menerbitkan majalah "Soeloeh Moeda Indonesia", pada 1926.

Majalah bulanan ini, tulis Roso Daras, dipimpin dan diterbitkan Bung Karno dengan segala biaya yang ia kumpulkan dari honorariumnya sebagai seorang arsitek.

Masa-masa ini, Bung Karno banyak melahirkan tulisan-tulisan fenomenal. Antara lain Swadeshi dan Massa Actie di Indonesia. Dan yang paling terkenal Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.

15 Juli 1928,  sebelum Peristiwa Sumpah Pemuda, edisi perdana koran Persatoen Indonesia terbit. Siapa lagi otaknya kalau bukan Soekarno.

 “Soekarno mengumpulkan donasi sebesar 500 gulden dari cabang-cabang PNI. Persatoean Indonesia ini menjadi corong PNI,” tulis Rudi Hartono, peneliti yang kini menjadi pengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (PRD). Luar biasa sosok Soekarno. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru