Kasih Karunia

Iri Hati

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya pulang dari Gereja, Minggu (17/9/2023) mendengar ada seorang jamaah wanita ngrasani  seorang pendeta naik mobil Ferrari ke Gereja.

Kakak saya bilang, jemaah  itu iri hati. Dalam bahasa aslinya, Iri hati memiliki arti kecemburuan,  Kebencian terhadap orang lain, atau kecurigaan terhadap seseorang yang lain. Amsal 14:1 dimana Amsal mengkontraskan kebaikan dengan keburukan. Rumah orang fasik, meskipun dibangun begitu kuat dan tinggi, akan mengalami aib dan akhirnya lenyap. Kemah suci orang yang tulus, meskipun dapat dipindahkan dan hina, selalu mendapat kasih karunia dan penghiburan, dan akan ditegakkan selamanya.

Baca juga: Yakobus 4:7

Orang yang iri hati bisa melakukan apa saja. Dia bisa memfitnah bahkan sampai membunuh, karena hatinya dipenuhi dengan kebencian/iri hati.

Yesus betul mengerti sakitnya penolakan. "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya" (Yohanes 1:11). Yesus dikhianati oleh salah satu kerabat terdekatnya (Yohanes 6:71).

Dimana kita menghadapi kesakitan hati akibat hubungan yang rusak, kita perlu membawa beban kita kepada-Nya (1 Petrus 5:7). Ia menangis dengan mereka yang menangis (Yohanes 11:35; Roma 12:15), dan Ia "turut merasakan kelemahan-kelemahan kita" (Ibrani 4:15).

Hubungan yang rusak dapat menghadirkan berbagai macam emosi negatif.

Orang Kristen mengerti bahwa emosi sesaat bukan pemimpin yang baik. Yesus Kristus telah memberkati kita dengan setiap berkat rohani dan telah membuat kita layak diterima dalam DiriNya (Efesus 1:3,6). Penerimaan-Nya jauh lebih agung dibandingkan penolakan dari pihak lain karena itulah kepastian, bukan sekedar harapan belaka. Kita tahu Allah menerima kita karena Firman Allah menyatakan demikian, dan dengan menerapkan kebenaran tersebut pada iman kita, hati dan kehidupan kita diubahkan.

Ingat. Semua orang pasti merasakan sakitnya hubungan yang rusak pada waktu yang berbeda. Kita pasti disakiti dan dikecewakan karena kita hidup di dunia yang heterogin. Respon kita terhadap kesakitan dan kekecewaan itulah yang dapat menguatkan jalan kita dengan Tuhan. Allah berjanji akan menemani kita melewati kekecewaan dalam kehidupan ini (Ibrani 13:5), dan Ia ingin kita tahu bahwa pemeliharaan-Nya nyata. Kasih karunia dan penghiburan-Nya adalah milik kita ketika kita beristirahat di dalam Dia.

Setiap anak Allah yang lahir baru memiliki berkat dalam Kristus, tetapi kita harus dengan sadar menggunakan berkat-berkat itu. Hidup dalam kekelaman dan rasa tertolak akibat hubungan yang rusak bagaikan memiliki satu miliar di rekening tabungan kita, namun hidup seperti orang miskin karena tidak pernah melakukan penarikan. Dan kita juga tidak mungkin menggunakan apa yang tidak tahu kita miliki. Jadi, setiap orang percaya perlu "bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus" (2 Petrus 3:18) dan "berubahlah oleh pembaharuan budimu" (Roma 12:2). Kita perlu menghadapi hidup ini dengan pemahaman yang benar tentang berjalan dalam iman.

Baca juga: Tahun Baru Masehi

Sebagai orang percaya kita tidak terperangkap oleh kegagalan di masa lalu, atau penolakan orang lain, atau kekecewaan. Kita dikenal oleh hubungan kita dengan Allah. Kita adalah anak-anakNya, yang dilahirkan kembali dalam pembaruan hidup, yang dilengkapi oleh setiap berkat rohani, dan diterima dalam Kristus Yesus. Kita memiliki iman yang mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4).

Allah telah menyediakan kesempatan yang unik bagi setiap kita untuk melewati "segala sesuatu" dalam kehidupan ini. Kita dapat berusaha melewatinya dengan kekuatan pribadi dan apa yang disebut "kedagingan" oleh rasul Paulus, atau kita dapat melewatinya dengan kuasa Roh Kudus. Itulah pilihannya. Allah telah menyediakan perlengkapan baju perang, tetapi kita harus memilih untuk mengenakannya (Efesus 6:11-18).

Kita mungkin mengalami kekecewaan dalam kehidupan ini, namun kita adalah anak sang Raja, dan penolakan yang kita alami adalah penderitaan yang sementara jika dibandingkan dengan kemuliaan yang kekal. Kita dapat tertindas oleh keadaan itu, atau kita dapat mengklaim warisan sebagai anak Allah dan berlangkah ke depan dalam kasih karunia-Nya. Seperti Paulus, kita dapat "melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku " (Filipi 3:13).

Mengampuni orang lain juga merupakan bagian penting dalam proses pemulihan. Menolak melepaskan kepahitan atau menyimpan dendam hanya meracuni roh kita.

Baca juga: Dekorasi Rumah Jelang Natal

Benar, kita mungkin disalahi, dan ya, memang sakit, namun ada kebebasan dalam mengampuni. Pengampunan adalah anugerah yang dapat kita berikan karena kita telah terdahulu menerimanya dari Tuhan Yesus Kristus (Efesus 4:32).

Betapa menghibur hati karena kita mengenal Allah yang berfirman, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). Allah selalu dekat untuk menghibur orang percaya. "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami" (2 Korintus 1:3-4). Allah, yang tidak dapat berdusta, telah berjanji mendampingi kita melewati semua percobaan yang kita alami: "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau" (Yesaya 43:2).

Yesus betul mengerti sakitnya penolakan. "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya" (Yohanes 1:11). Yesus dikhianati oleh salah satu kerabat terdekatnya (Yohanes 6:71; baca juga Mazmur 41:9). Dimana kita menghadapi kesakitan hati akibat hubungan yang rusak, kita perlu membawa beban kita kepada-Nya (1 Petrus 5:7). Ia menangis dengan mereka yang menangis (Yohanes 11:35; Roma 12:15), dan Ia "turut merasakan kelemahan-kelemahan kita" (Ibrani 4:15).

Kita perlu menghadapi hidup ini dengan pemahaman yang benar tentang berjalan dalam iman. (Maria Sari)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru