SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Isu perubahan yang diusung paslon nomor urut 01, Anies Baswedan-Muhaimin atau Cak Imin, tampaknya menggiurkan sebagian rakyat Indonesia. Tapi ada yang meragukan isu perubahan itu melawan status quo di pemerintahan Jokowi? Kita tunggu!
Terbaru, ada Relawan Anies-Muhaimin Bersatu Untuk Nasional (Rambun) Grilya Sergap deklarasikan. Tampaknya dukungannya terhadap paslon nomor urut 01 ini mengaum. Total, dirilis sudah 1.132 simpul pejuang perubahan yang telah bergabung bersama Timnas AMIN.
Baca juga: Pilkada Melalui DPRD, Ada Cagub Setuju, Murah!
Ketua umum Timnas Rambun, Rambun Sumardi menyebut deklarasi ini bertujuan untuk memenangkan Anies-Muhaimin demi adanya perubahan untuk Indonesia.
Akal sehat saya berkata perubahan itu lawannya status quo. Apakah pengikut Jokowi, semuanya dalam kondisi status quo ? Merujuk dari situasi tertentu saat ini, kayaknya ada keadaan kompleks.
Catatan jurnalistik saya, pada awal jadi presiden, jokowi suka tampil sangat sederhana. Ia senang blusukan mengunjungi rakyat kecil di pasar, di sawah, di tempat pelelangan ikan, dan sebagainya.
Rakyat biasa, yang mayoritas dari penduduk negeri ini, terpesona. Apalagi Jokowi juga rajin memberi bantuan kepada rakyat kecil sebagai bentuk dari jaring keamanan sosial. Tapi menjelang masa jabatannya berakhir, ia malah mengutak atik kekuasaannya. Semula Jokowi berwacana tetap bisa berkuasa di periode ketiga. Usahanya ini gagal.
***
Sejumlah relawan atau pembantu-pembantu Jokowi, saya catat saat itu ganti memainkan isu lain yaitu perpanjangan masa jabatan, 2 atau 3 tahun. Alasannya, ekonomi Indonesia hancur, karena pandemi Covid-19 . Dalihnya Jokowi, perlu menuntaskan proyek-proyek strategis nasional seperti hilirisasi dan pemindahan ibu kota negara, IKN.
Opsi ini pun tak berhasil. Lalu muncul opsi memajukan Gibran Rakabuming, yang baru dua tahun 10 bulan menjadi wali kota Solo. Gibran, terkesan "dipaksa" menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Prabowo Subianto.
Saat si anak terbentur pada persyaratan bahwa seorang cawapres harus berusia setidaknya 40 tahun, seorang mahasiswa melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi yang meminta agar ketentuan undang-undang itu diubah. Ini seperti semacam drama membuat situasi status quo.
Maka itu, Anies tampil dengan jargon perlunya suatu perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun demikian, beberapa elite partai dan relawan mempertahankan kekuasaan tetap berada dalam kendali Jokowi.
Inikah status quo? Konon elite partai dan relawan diuntungkan oleh situasi saat ini.
Anies saya catat capres yang ingin melawan kelompok-kelompok yang ingin mempertahankan status quo.
***
Saya pernah membaca hasil penelitian di Universitas Hebrew Yerusalem baru-baru ini yang menyodorkan suatu pernyataan kepada orang-orang: "Saya percaya internet membuat orang lebih mudah bergaul" atau "Saya percaya internet membuat orang lebih terisolasi".
Sekali lagi, peserta percobaan harus menilai apakah kalimat itu benar secara tata bahasa. Mereka butuhkan waktu lebih lama untuk memutuskan kebenaran tata bahasa itu jika mereka tidak setuju dengan pernyataannya. Tanpa kita sadari, pendapat kita bisa menyingkirkan respons otomatis kita.
Semua ini menunjukkan bahwa kita suka memegang erat pendapat kita. Memang benar, tapi bukan berarti pendapat itu tetap bertahan selamanya. Kita lebih mudah berubah daripada yang kita kira.
Kemudian muncul tes terbesar: pandangan tentang Presiden Trump sebelum dan sesudah pelantikannya.
Baca juga: Atlet Berprestasi, Bonus dan Jaminan Hari Tuanya
Trump saat ini punya approval rating terendah dari seluruh Presiden AS sejak Perang Dunia II. Anda mungkin menduga ini mencerminkan bahwa orang-orang yang tidak memilih Trump semakin tidak menyukainya setelah dia jadi presiden.
Tapi bukan itu yang terjadi. Tim Laurin menemukan bahwa hanya beberapa hari setelah pelantikan, orang-orang yang sama merasa lebih positif tentang Trump.
Satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa keyakinan mereka akan Trump ditingkatkan karena pidato pengukuhannya. Tetapi menurut Laurin saat bicara kepada BBC di acara All the Mind, bukan itu masalahnya.
"Ternyata, bahkan orang-orang dalam penelitian kami yang mengatakan Trump tampil buruk pada saat pelantikan dan membenci penampilannya, sikap mereka berubah ke arah yang positif.
Kita mungkin berusaha merasionalisasi hal-hal yang sulit diubah, tetapi setelah massa yang kritis mendorong gagasan, orang akan berhenti mencari pembenaran untuk status quo. Mereka akan merasa bahwa beramai-ramai. mereka bisa membuat perubahan dan mulai menyuarakan perubahan. (BBC, News, Indonesia, 9 Juli 2018).
Ya perubahan yang ditawarkan Anies dan Cak Imin, masih dalam pikiran. Tapi di Amerika banyak orang berhenti mencari pembenaran untuk status quo. Mereka membuat perubahan dan mulai menyuarakan perubahan. Demikian juga Anies dan Cak Imin.
***
Saya juga mencatat ada gagasan besar Anies Baswedan tentang pendidikan nasional sebagai investasi besar tidak bisa dianggap remeh. Pendidikan itu mahal, tapi kebodohan atau bahasa beliau, ignorance jauh lebih mahal. Itu yang disampaikan secara gamblang oleh Pak Anies Baswedan.
Keduanya memang membawa isu - isu perubahan. Saya baca ada isu perubahan yang realistis dan otopis dari capres Anies. Ada permainan kata untuk mempengaruhi pikirannya tentang perubahan. Bahasa praktisnya, Indonesia harus berubah. Setelah Jokowi harus ada perubahan. Apa semua isu perubahan yang diusung Anies bisa dikerjakan? Mari kita tunggu kalau Anies terpilih jadi presiden 2024. Ada juga isu perubahan yang realistis yakni terkait kemiskinan dan biaya hidup. Dalam dokumen visi, misi dan program kerja , AMIN mengusung visi 'Indonesia Adil Makmur untuk Semua'.
Baca juga: MBG, Siapa yang Berani Kritik
Salah satunya isi dari visi misi Anies-Cak Imin yaitu penerapan upah minimum. Hal ini tertuang dalam Misi 2 poin 3 tentang pemerataan ekonomi.
"Menerapkan upah minimum yang adil dan sesuai dengan kondisi daerah tanpa memberatkan para pemberi kerja," dikutip dari dokumen visi misi tersebut.
Anies-Cak Imin juga ingin menciptakan 15 juta lapangan kerja baru. Hal ini tertuang dalam Misi 2 poin 2 tentang penciptaan lapangan kerja berkualitas. Ini kayaknya isu perubahan baru janji kampanye. Anies dan Cak Imin ingin melampaui kinerja Jokowi.
Catatan saya, periode pertama menjabat presiden, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat sepanjang 2015-2018, yang saat ini dijabat kader PKB, bisa menciptakan lapangan kerja baru mencapai 10,34 juta. Dengan demikian, target penciptaan 10 juta lapangan kerja baru Presiden Joko Widodo pada 2015-2019 telah tercapai.
Juga mengenai pembangunan IKN Anies Baswedan menilai akan menciptakan ketimpangan baru.
Tapi kemudian Anies bilang pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tengah dilakukan di Pulau Kalimantan bukan suatu yang harus menjadi prioritas.
Bagi seorang jurnalis, ini cara politisi membangun argumentasi narasi populis. Apalagi Anies menyodorkan argumentasi bahwa IKN merupakan kepentingan elite, bukan rakyat.
Pesannya, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) lebih banyak dirasakan untuk aparatur negara daripada masyarakat. Maka itu, program perubahan, ia lebih mementingkan penguatan sarana mendasar untuk rakyat, seperti pendidikan dan kesehatan. Mengingat
fasilitas kesehatan dam pendidikan akan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia; sedang IKN hanya dirasakan oleh aparat negara.
Narasi perubahan sektor pendidikan dan kesehatan menurut akal sehat saya isu perubahan yang populis. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Moch Ilham