Terduga Teroris Remaja Batu, Bisa Korban Propaganda ISIS

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ada terduga teroris. Dia Ternyata, HOK (19) yang masih berusia remaja itu sudah merencanakan bom bunuh diri. Penangkapan HOK ini dibenarkan oleh Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Aswin Siregar. Densus 88 mengamankan HOK di Dusun Njeding, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur pada Rabu (31/7) malam.

"Benar ada penangkapan oleh D88, di Batu Malang. Satu orang (diamankan)" kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Aswin Siregar, saat dikonfirmasi, Kamis (1/8). HOK, masuk generasi Z.

Baca juga: Ramadhan, Puasa, Mohon Ampunan Hingga Bikin Event

 

***

 

Post Gen Z adalah generasi yang lahir pada 2013 dan seterusnya. Gen Z, merupakan generasi yang lahir pada 1997-2012. Mereka sekarang berusia 8-23 tahun.

Dalam psikologi, remaja di rentang usia 18-24 tahun termasuk dalam fase remaja akhir atau dewasa muda.

Biasanya remaja  usia 19 tahun mulai belajar berorganisasi, mengenal banyak orang sampai  belajar mendapatkan uang walau sedikit. Pertanyaannya remaja berangan- angan bom bunuh diri tujuannya apa?

Ada psikolog yang berpendapat remaja semacam itu alami depresi.  Ini "penyakit berat" yang menjadi salah satu penyebab terjadinya bunuh diri. Ada konsep diri. Masalah konsep diri konon banyak dialami oleh remaja. Konsep diri yang kelirumembuat sebagian remaja merasa tidak diinginkan, tidak berharga dan tidak seorang pun mengasihi mereka.

 

***

 

Sudah lama banyak pejabat yang mewanti para pelajar untuk mewaspadai penyebaran radikalisme lewat media sosial (medsos).

Maklum, pesan-pesan yang bermuatan radikalisme mudah diperoleh dari konten di situs online ataupun di media sosial.

Akibatnya, banyak anak menjadi radikal atau bahkan bergabung dengan kelompok militan melalui ajakan di media sosial.

Akhir Februari lalu, tiga remaja perempuan Inggris pergi ke Suriah melalui Turki dengan melewati jalur darat. Dalam rekaman CCTV, siswi-siswi Akademi Bethnal Green ini tampak di stasiun bis hendak pergi ke Suriah.

Baca juga: Imlek di China, Mudik Terbalik, Fenomena Global

Shamima Begum, berusia 15 tahun, Kadiza Sultana, 16 tahun, dan seorang lainnya yang tidak disebutkan namanya berusia umur 15 tahun, adalah murid sekolah Bethnal Green Academy, terbang menuju Turki dari bandara Gatwick, London, Selasa (17/02).

Kabar mereka bergabung dengan kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS disampaikan oleh Pimpinan Kepolisian Metropolitan London, Richard Walton.

Kepolisian mendeteksi mereka melakukan komunikasi dengan salah seorang perempuan Inggris yang berada di Suriah Aqsa Mahmood melalui media sosial.

Aqsa meninggalkan kediamanannya di Glasgow Skotlandia, untuk bergabung dengan ISIS di Suriah pada 2013.

Sementara di Indonesia, Santoso atau Abu Wardah (44) yang disebut memimpin jaringan Kelompok Mujahidin Indonesia Timur menyampaikan dukungan terhadap pimpinan ISIS Abu Bakar Al Bahgdadi melalui media sosial YouTube.

Aksinya diikuti oleh sejumlah orang Indonesia yang mengaku berada di wilayah kekuasaan ISIS, Irak serta Suriah, dan mengajak masyarakat untuk ikut 'berjihad' bersama ISIS di negara tersebut.

Makanya, peneliti masalah terorisme darn direktur Institute for Policy Analysis of Conflict IPAC Sydney Jones dalam wawancara dengan BBC Indonesia pada Oktober lalu, mengatakan kelompok Santoso lebih menggunakan media sosial sebagai alat propaganda. Nah, jelas, media sosial itu bak pisau bermata dua.

Ada fungsi  membagikan informasi dan komunikasi dan ada yang memberikan dampak negatif.

Baca juga: Guru Madrasah Demo, Kesejahteraan Guru Belum Rampung

Suka tidak suka, sudah lama media sosial  mengiringi perjalanan kehidupan manusia, termsasuk remaja.

Ada penelitian, salah satu dampak buruk dari media sosial ialah terkait dengan mental health (kesehatan mental).

Orang yang terganggu kesehatan mentalnya akan mudah terkena fear of missing out (Fomo). Ia tidak pernah merasa puas, mudah ngelokro (lunglai) dan mudah kesepian, kemudian dampak negatif lainnya dari media sosial ialah maraknya modus penipuan di internet, sampai bunuh diri. Ibaratnya, media sosial dapat menggantikan wajah seseorang di dunia nyata.

Dalam artian ketika masyarakat belum melihat wajah seseorang, tapi sudah mengetahuinya lewatmedia sosial. Artinya wajah orang tersebut telah digantikan dengan wajah lain di dunia maya.

Catatan jurnalistik saya mencatat kematian pimpinan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi dan kekalahan yang dialami dalam perang terbuka di Suriah dan Irak bukanlah akhir dari kisah organisasi teroris yang paling brutal ini.

ISIS jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan sebuah transformasi baru, yaitu Islamic State (IS).

ISIS tidak lagi menjadikan Irak dan Suriah sebagai wilayah kekuasaan mereka, melainkan sebuah organisasi yang mendunia melalui media sosial. Itu propaganda. Hati hati hai orang tua. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru