Kasih Karunia

Matius Tentang Puasa

surabayapagi.com

"Hormatilah orang yang berpuasa"

 

Baca juga: Yakobus 4:7

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kalimat berbau slogan yang saya temukan di sebuah mall di Surabaya. Sebagai orang beriman, saya maklumi. Bagi saya menghormati orang yang sedang berpuasa tentu baik adanya. Namun, akan baik pula jika kita mau melihat dari sisi lain yaitu Hormatilah pula orang yang tidak berpuasa. Antara lain dengan tidak melarang mereka makan dan minum.

Narasi ini saya diskusikan dengan saudara ipar yang muslim.

Saya katakan bukankah puasa adalah salah satu cara untuk mengendalikan diri? Kalau semua situasi dirancang sedemikian rupa untuk mendukung puasa kita, lantas di manakah letak pengendalian diri tersebut?

Saudara saya menganguk angguk.

Saya cerita kisah Yesus padanya. Agar tidak salah intepretasi, saya kutip Al kitab. ".. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. – Matius 4:2

Ketika Yesus berpuasa di padang gurun, Dia tidak melarang iblis untuk datang dan mencobai-Nya (Matius 4:1-11).

Baca juga: Tahun Baru Masehi

Yang Yesus lakukan justru  menguatkan hati-Nya agar tidak jatuh ke dalam godaan.

Rasa lapar yang besar tidak menjadi alasan Yesus untuk menyerah terhadap iblis, yang menyarankan Dia mengubah batu menjadi roti.

Saya berdiskusi, bila kakak yang berpuasa tidak terganggu dengan orang-orang yang bebas makan dan minum, artinya kakak sudah berhasil menguasai diri dan hawa nafsu itu sendiri.

Dalam Matius 6:18 dikatakan bahwa orang lain tidak perlu tahu kalau kita sedang berpuasa. Cukuplah hanya Bapa di surga yang tahu—dan dari Dialah, kita akan mendapatkan upah. Tentunya, upah dari Tuhan jauh lebih berharga daripada upah yang diberikan dunia.

Baca juga: Dekorasi Rumah Jelang Natal

Kalau kita sengaja menunjukkan perbedaan agar orang lain tahu kita sedang puasa, saat itulah kita sudah menerima upah, yaitu hormat atau pujian dari sesama. Hanya sebatas itu.

Saya dan kakak ipar saya sepakat berpuasa sembari berharap dihargai orang sama saja dengan berusaha mengendalikan orang lain. Saya dan kakak ipar tersenyum. Saya sepakat dengan kakak ipar, berpuasa hanya untuk mendapat pujian orang lain adalah puasanya orang yang munafik.

Dan, ini bisa terjadi kalau kita lupa akan tujuan kita berpuasa. Kita lupa Tuhan menghendaki agar puasa kita menjadi sarana kasih bagi sesama, bukan memaksa saya yang nasrani memaklumi dan menghormati kakak ipar saya yang muslim. Karena saya bersaudara dengan kakak suami saya. Maria Sari

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru