SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, yang menjabat sejak 21 Agustus 2024, mulai diterpa isu keretakan. Ia menekankan bahwa tidak ada isu musyawarah nasional luar biasa (munaslub) Partai Golkar.
Senin (4/8) Wakil Ketua Umum (Waketum) Golkar Meutya Hafid menepis kabar tersebut.
Baca juga: Legislator Golkar, Masih Kritik MBG
Meutya Hafid menjelaskan, isu Munaslub ini disebarkan dan ditujukan memecah soliditas Partai Golkar yang saat ini tengah fokus mengawal pemerintahan Prabowo, baik di eksekutif maupun legislatif. Meutya mengatakan seluruh kader Golkar saat ini tengah fokus mengawal program Prabowo.
"Partai Golkar tengah fokus mengawal berbagai kebijakan dan program Presiden Prabowo Subianto. Kami ingin seluruh program Bapak Presiden dapat berdampak langsung ke masyarakat serta tersampaikan dengan baik. Tidak ada rencana untuk mengadakan Munaslub," ujar Meutya kepada wartawan, Senin (4/8/2025).
"Munculnya isu mengenai Munaslub dan isu lain yang beredar kemungkinan untuk memecah Partai Golkar yang tengah solid untuk mendukung dan mengawal program Presiden Prabowo Subianto di eksekutif maupun legislatif. Bahkan kami meyakini seluruh kader Partai Golkar di pusat sampai ke tingkat desa tengah fokus mengawal program-program Bapak Presiden yang berdampak positif bagi masyarakat," ujar Meutya yang juga Menteri Komunikasi Digital RI.
Munculnya isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk menggantikan posisi Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, sudah dibahas dengan pihak Istana ditanggapi
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan RI, Hasan Nasbi. Ia mengaku belum mengetahui isu tersebut.
Nusron Dukung Kepemimpinan Bahlil
Bahlil juga menampik isu adanya keretakan di tubuh partai berlambang pohon beringin tersebut.
"Masa mau dipercaya berita yang enggak ada sumbernya?" ujar Bahlil dalam keterangannya di Jakarta, seperti dilansir Antara, Minggu (3/8).
Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian Partai Golkar Nusron Wahid membantah tegas isu istana menyetujui penyelenggaraan Munaslub Partai Golkar. Nusron juga menepis rumor dirinya terlibat dalam upaya penyelengaraan munaslub dan memastikan ia tetap mendukung kepemimpinan Bahlil Lahadalia di Golkar.
Informasi yang tak memiliki sumber jelas itu juga menyebut restu disampaikan gamblang kepada Nusron Wahid, politikus Golkar yang juga Menteri ATR/Kepala BPN. Nusron dipanggil menghadap Hambalang dan Munaslub mengganti Bahlil dari kursi Golkar-1 digelar sebelum pergantian tahun. Isu tersebut pun dibantah dengan tegas Nusron Wahid.
Menanggapi hal itu, Nusron Wahid menegaskan tidak tahu menahu soal isu munaslub yang dikaitkan dengan dirinya.
Tak Ada Pembicaraan di Istana
Bahkan Nusron menegaskan, di Istana tidak pernah ada pembicaraan mengenai pergantian kursi ketua umum Partai Golkar.
Baca juga: Koalisi Permanen Dinilai Utopis
"Sampai hari ini tidak pernah ada pembicaraan di lingkungan Istana kepada saya, atau kepada pihak-pihak lain di lingkungan Partai Golkar yang membicarakan tentang munaslub,” tegas Nusron.
Pada kesempatan berbeda, politikus senior Partai Golkar Nurdin Halid juga membantah adanya rencana munaslub.
"Isu Munaslub Golkar itu hoaks. Itu isu murahan yang tidak perlu direspons. Isu Munaslub itu dikembangkan oleh orang-orang frustasi yang mencoba kasak-kusuk untuk meraih kekuasaan," kata Nurdin Halid dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (1/8).
Dia menegaskan fokus utama pembahasan yang melibatkan dirinya dan kelompok kerja di Golkar adalah persoalan-persoalan strategis yang menyentuh kepentingan rakyat, bukan konflik internal partai. Seperti, topik tentang pengentasan kemiskinan, bagaimana mewujudkan swasembada pangan, swasembada energi, hilirisasi, dan bagaimana menyukseskan 3 juta rumah untuk rakyat miskin.
Sebelumnya, beredar isu adanya Munaslub Partai Golkar mencuat ke publik, disertai spekulasi nama Nusron Wahid ikut terlibat dalam komunikasi dengan Istana untuk menggulingkan kepemimpinan Partai Golkar saat ini. Istana disebut sudah merestui Ketua Umum Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia diganti.
Jika Munaslub Terealisasi
Menurut Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie, kondisi Golkar akan lebih baik jika Munaslub itu terealisasi.
Baca juga: Partai Golkar Kota Pasuruan Gelar Musda Tahun 2025, H.M. Toyib Terpilih Secara Aklamasi
“Lebih cepat lebih baik dengan pencopotan dan pemakzulan Bahlil sebagai Ketua Umum Golkar. Tanda-tanda Bahlil akan ditendang, salah satunya Prabowo no respect lagi berjabat tangan (dengan Bahlil) saat hendak ke luar negeri beberapa waktu lalu,” kata Jerry kepada RMOL, Kamis, (31/7).
Lanjut dia, Bahlil merupakan sosok yang paling setia ke Jokowi ketimbang dengan Prabowo.
“Dia (Bahlil) naik juga kan bukan secara resmi harusnya Munas Bulan Desember sebelum bulan tersebut dia sudah take over dari Airlangga Hartarto. Baru dia belum sempat duduk di posisi KSB bahkan pimpinan pusat hanya modal Bendahara DPD Papua sudah memegang Golkar,” jelasnya.
Sambung Jerry jika para sesepuh Golkar seperti Agung Laksono, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie dan Akbar Tanjung sudah setuju maka Munaslub pasti dilakukan waktu dekat.
“Saya pikir Bahlil bakal menjadi batu sandungan 2029 jika tak diganti. Tetap saja hatinya pada Jokowi walaupun suara kencangnya ke Prabowo. Dia tetap akan mendukung Gibran 2029 bersama PSI. Harusnya Golkar dipimpin oleh Ketum tegak lurus mendukung Prabowo dan kebijakannya,” beber dia.
Masih kata Jerry, kualitas Bahlil memimpin Golkar jauh dengan senior-senior sebelumnya di tangan Wahono, Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie, Harmoko, Sudharmono, Setya Novanto dan Airlangga Hartarto.
“Dari 12 Ketum partai berlambang beringin ini hanya Bahlil yang paling lemah, banyak bikin blunder dan gaduh, asbun (asal bunyi),” tandasnya.
Informasi yang diterima redaksi restu disampaikan gamblang kepada Nusron Wahid, politikus Golkar yang juga menteri ATR/Kepala BPN. Nusron dipanggil menghadap Hambalang dan Munaslub mengganti Bahlil dari kursi Golkar-1 digelar sebelum pergantian tahun. jk/erc/cr3/rmc
Editor : Moch Ilham