Indonesia Belum Khawatir 329 WNI di Iran

surabayapagi.com
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan aktor-aktor yang terkait dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel bertanggung jawab atas pembunuhan 'beberapa ribu' orang selama protes.

Korban Tewas Simpang Siur. Ada yang Sebut 3.090, 5.000 hingga Lebih dari 12.000 jiwa Tewas

 

Baca juga: Pemerintah Iran Anggap Pendemo Ayatollah "Musuh Tuhan”

 

SURABAYAPAGI.COM, Tehran - Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI Tehran terus memantau situasi keamanan dan kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Iran yang dilanda aksi demo besar-besaran. Saat ini, Kemlu RI mencatat ada 329 WNI di Iran.

"Jumlah WNI saat ini yang tercatat 329 orang dengan konsentrasi utama di kota Qom," kata Plt Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, kepada wartawan, Minggu (17/1/2026).

Heni mengungkap kondisi terkini di Iran. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran mengeluarkan imbauan kepada seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Republik Islam Iran untuk meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, kondisi Iran saat ini membuat evakuasi ratusan WNI belum diperlukan.

"Berdasarkan asesmen KBRI dan dengan memperhatikan kondisi di lapangan saat ini belum diperlukan evakuasi. Namun demikian persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontigensi terus dilakukan. KBRI berkomunikasi dengan simpuls WNI di Tehran dan sekitarnya," jelasnya.

 

Pernyataan Ali Khamenei

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan aktor-aktor yang terkait dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel bertanggung jawab atas pembunuhan 'beberapa ribu' orang selama protes anti-pemerintah. Demonstrasi berujung ricuh itu terjadi selama beberapa minggu di Iran.

"Mereka yang terkait dengan Israel dan AS menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang selama protes yang mengguncang Iran selama lebih dari dua minggu," kata Khamenei seperti dilansir Al-Jazeera, Minggu (18/1/2026).

Dia menuduh kedua negara itu terlibat langsung dalam kekerasan tersebut. Dia juga menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai 'kriminal'.

"Pemberontakan anti-Iran terbaru berbeda karena presiden AS secara pribadi terlibat," ujarnya.

Otoritas Iran semakin menunjuk jari ke kekuatan asing atas kerusuhan tersebut dan menuduh rival geopolitik lama, terutama Israel dan AS, sebagai pihak yang memicu ketidakstabilan dan mengarahkan operasi di lapangan. Khamenei memperingatkan meskipun Iran akan menghindari eskalasi di luar perbatasannya, mereka yang dianggap bertanggung jawab akan menghadapi konsekuensi.

Ayatollah Ali Khamenei juga menuduh Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertanggung jawab atas kematian warga yang terjadi selama gelombang protes di negara tersebut.

 

Jumlah Korban Tewas

Baca juga: Ayatollah Khamenei Digoyang Demo, Putra Shah Iran Provokasi

Kelompok hak asasi manusia (HAM) di Amerika Serikat, HRANA, menjadi salah satu lembaga paling aktif dalam melaporkan korban tewas di unjuk rasa Iran.

HRANA pada Jumat (16/1) melaporkan korban tewas di Iran mencapai 3.090 kematian, dengan 2.885 orang di antaranya merupakan demonstran.

"Kami menuduh presiden Amerika Serikat bertanggung jawab atas korban jiwa, kerusakan, dan tuduhan yang dia ajukan terhadap bangsa Iran," kata Khamenei kepada kerumunan pendukungnya dalam pidatonya, Sabtu (17/1), melansir AFP.

"Ini adalah konspirasi Amerika," katanya menambahkan.

Ia menambahkan bahwa tujuan Amerika adalah menelan Iran dan kembali menempatkan Iran di bawah dominasi militer, politik, dan ekonomi.

Sejak akhir Desember, Iran membara karena gelombang demonstrasi. Menurut pemberitaan media pemerintah, fasilitas sipil hingga pertokoan terbakar dalam demo itu.

Menurut laporan media dan lembaga pemantau HAM, korban tewas selama demonstrasi berlangsung telah mencapai lebih dari 3.000 orang.

Selain itu, intelijen Israel memperkirakan sekitar 5.000 orang tewas, sementara media Iran International yang berbasis di Inggris menyebut korban tembus lebih dari 12.000 jiwa.

Seperti diketahui, beberapa negara sudah menyerukan warga negaranya untuk meninggalkan Iran. Salah satunya pemerintah India, yang menyerukan warganya segera meninggalkan Iran yang dilanda aksi demo besar-besaran. Menurut kelompok hak asasi manusia, penindakan keras pemerintah terhadap protes massal itu telah menewaskan ribuan orang.

Baca juga: Kiat Miliarder China Hindari Otoritas Negaranya

Dilansir kantor berita AFP, Kamis (15/1), Kementerian Luar Negeri India memperkirakan biasanya ada sekitar 10 ribu warga negara India di Iran.

"Warga negara India yang saat ini berada di Iran (mahasiswa, peziarah, pebisnis, dan turis) disarankan meninggalkan Iran dengan alat transportasi yang tersedia," kata Kedutaan Besar India di Tehran, ibu kota Iran, dalam sebuah unggahan di media sosial pada Rabu (14/1) malam waktu setempat.

Pemerintah Polandia lewat Kementerian Luar Negeri juga menyeru warganya segera meninggalkan Iran.

 

Permintaan Netanyahu ke Trump

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menunda serangan militer apa pun terhadap Iran. Hal ini diungkapkan oleh para pejabat AS di tengah meruncingnya ketegangan antara Iran dan AS.

Dilansir Al Arabiya, Jumat (16/1), seorang pejabat senior AS mengatakan kepada media terkemuka AS, New York Times, bahwa Netanyahu meminta Presiden Amerika menunda rencana serangan tersebut.

Seorang pejabat senior Arab Saudi mengatakan kepada AFP bahwa Saudi, Qatar, dan Oman juga telah memimpin upaya untuk membujuk Trump agar tidak menyerang Iran, karena khawatir akan "dampak buruk yang serius di kawasan itu". n jk/afp/aj/int/rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru