Membandingkan Kebangkitan Xi Jinping dengan Kaisar

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Tak dapat dipungkiri lagi, semua orang terutama di Asia Tenggara telah mencampuradukkan kemiripan-kemiripan dengan sejarah China, seakan melihat ke masa lalu untuk mendapatkan petunjuk terhadap masa depan yang dipimpin Xi Jinping. BEIJING, Chen Hua. Para pakar sering membandingkan Presiden Xi Jinping dengan seorang kaisar. Perbincangan semacam ini semakin berkembang setelah Xi mendapat banyak pujian dalam Kongres Nasional Partai Komunis China ke-19 di Beijing dan KTT APEC di Danang, Vietnam. Banyak orang menganggap Xi sebagai salah satu pemimpin China paling kuat yang setara atau bahkan melebihi para pendahulunya, Deng Xiaoping dan Mao Zedong. Dan juga, dibandingkan Donald Trump, pemimpin Amerika Serikat, yang semakin tersingkir dalam prospek "Pax Sinica", saat China akan menjadi kekuatan besar dunia nantinya. Xi memiliki kepribadian yang sangat luar biasa. Kemunculannya hingga menjadi terkenal, pasti lebih dari sekadar mencocokkan ambisi dengan beberapa pemimpin sejarah China yang paling terkemuka. Mengingat bahwa China dulu adalah dan dapat dikatakan masih- sebuah kekaisaran, kecenderungannya adalah membandingkannya dengan kaisar-kaisar sebelumnya. Memang, banyak yang melihat bahwa "Kekaisaran China" telah dihidupkan kembali dan diperbaharui (dengan tinta merah) di bawah Xi sebagai bagian penting dalam pergeseran geopolitik ke Asia Pasifik. Tentu saja terdapat banyak tokoh sejarah teladan yang disandingkan dengan Xi. Kekuasaannya yang besar, pengaruh China yang semakin luas dan kedudukan yang kuat di negaranya telah membuat beberapa orang membandingkannya dengan kaisar terbesar Dinasti Qing seperti Kangxi, Yongzheng dan Qianlong. Xi saat ini juga dianggap memiliki kemiripan dengan Yongzheng, yang dikenal karena tindakan kerasnya terhadap aksi antikorupsi dan melakukan reformasi keuangan. Apa yang dilakukan Yongzheng juga sedang dilakukan oleh Xi saat ini. Sebagian lainnya juga percaya bahwa Xi mirip dengan kaisar Yongle dari dinasti Ming, yang mendirikan kembali Beijing sebagai ibu kota kekaisaran, melakukan proyek konstruksi yang ekstensif dan yang lebih penting adalah memerintahkan pelaut terkemuka Dinasti Ming, Zheng He, untuk menjelajahi Asia Tenggara dan sekitarnya. Melihat jauh ke belakang, satu hal dapat menunjukkan hubungan panjang antara Kerajaan Tengah dan Asia Tenggara dalam Dinasti Song dan bahkan Dinasti Tang, terutama masa yang menjadi saksi ketika I Ching melakukan perjalanannya yang terkenal ke Sriwijaya. Kemiripan yang mungkin tidak ada habisnya. Memang, masyarakat China lebih sering bercerita tentang jadwal dan kecemasan orang-orang yang suka membanding-bandingkan daripada bercerita tentang apa yang mungkin China dan XI benar-benar lakukan di ke-21. Namun, bagi Asia Tenggara, pertanyaan pentingnya adalah apakah para pemimpin dan para dinasti ini merupakan hal yang positif bagi wilayah kita? Apakah hubungan Asia Tenggara dengan China dapat menguntungkan kita? Mari jangan lupakan, dahulu ada yang disebut sistem "upeti", saat kekaisaran selalu ada di atas dan negara-negara lain sebagai sekelompok "barbarian" yang suka memohon-mohon. Penting untuk dicatat bahwa hubungan China dengan Asia Tenggara tidak pernah 100 persen berjalan ramah ataupun adil, apapun zamannya. Perjalanan Zheng He misalnya, ketika perampokan besar terjadi di Sriwijaya, di kota Palembang pada tahun 1407, berpura-pura memberantas kegiatan bajak laut China di wilayah tersebut. Dinasti Ming dan Qing, keduanya pernah meluncurkan serangan berulang ke Vietnam (1407-1427 dan 1788-1789) serta empat serangan ke Burma (masing-masing antara 1382-1449 dan 1765-1769). Tingkat perhatian yang didapat Asia Tenggara dari China juga sangat bervariasi selama berabad-abad. Fokus para kaisar di dinasti Qing sering kali pada umumnya, jika tidak secara khusus berada di daerah leluhur mereka di Asia Tengah. Sebagian besar dinasti Tiongkok cenderung bergerak ke dalam, terutama menjelang akhir zaman mereka. Apa pun pengaruh China di Asia Tenggara tentu saja dapat dikatakan masih kalah dibandingkan perjalanan penjajahan yang dilakukan negara Barat. Hal yang juga sangat signifikan ketika Revolusi tahun 1911, yang menggulingkan dinasti Qing dan monarki China didukung penuh oleh Orang China rantauan di Asia Tenggara ketika banyak di antaranya yang datang ke sana setelah Qing dipermalukan dalam Perang Opium (1839-1842 dan 1856 -1860) dan Pemberontakan Taiping (1850-1871). Intinya adalah Asia Tenggara tidak ingin adanya hegemoni. Kita lebih memilih China yang kuat tetapi masih sedikit terganggu oleh urusan internalnya sendiri. 07
Tag :

Berita Terbaru

Siswa SMA-SMK Raup Rp483 Juta dari Program Wirausaha, Ekonomi Kreatif Kian Menjanjikan

Siswa SMA-SMK Raup Rp483 Juta dari Program Wirausaha, Ekonomi Kreatif Kian Menjanjikan

Sabtu, 01 Agu 2026 17:20 WIB

Sabtu, 01 Agu 2026 17:20 WIB

SurabayaPagi, Jakarta – Sebanyak 1.173 siswa SMA dan SMK dari 45 sekolah di Indonesia membukukan pendapatan kolektif lebih dari Rp483 juta melalui program k…

Sidang Maidi, Saksi Sebut Fee Proyek di Dinas PUPR Digunakan Untuk Kepentingan Pemkot Madiun

Sidang Maidi, Saksi Sebut Fee Proyek di Dinas PUPR Digunakan Untuk Kepentingan Pemkot Madiun

Sabtu, 01 Agu 2026 13:12 WIB

Sabtu, 01 Agu 2026 13:12 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun- Saksi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Madiun menyebut hasil pengumpulan fee proyek dari para kontraktor d…

Dasco Diduga Jadi 'Makcomblang' PWI dan Hotman Paris, IAW Tuding Ada Intervensi Hukum

Dasco Diduga Jadi 'Makcomblang' PWI dan Hotman Paris, IAW Tuding Ada Intervensi Hukum

Jumat, 31 Jul 2026 21:36 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 21:36 WIB

SURABAYA PAGI, Jakarta- Indonesia Accountability Watch (IAW) melayangkan kritik tajam kepada Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Dasco disinyalir telah…

BPJS Ketenagakerjaan Malang Perluas Perlindungan bagi Pengurus Masjid

BPJS Ketenagakerjaan Malang Perluas Perlindungan bagi Pengurus Masjid

Jumat, 31 Jul 2026 19:06 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 19:06 WIB

  SURABAYA PAGI.COM, Malang - BPJS Ketenagakerjaan Malang memperluas cakupan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja sektor keagamaan dan …

KBIHU Annadliyin Sekar Madu Laren Sumbang Pembangunan Masjid Gus Dur PCNU Lamongan

KBIHU Annadliyin Sekar Madu Laren Sumbang Pembangunan Masjid Gus Dur PCNU Lamongan

Jumat, 31 Jul 2026 18:21 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 18:21 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan – Komitmen mendukung syiar Islam dan pembangunan fasilitas keagamaan terus ditunjukkan oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh …

Dishub Lamongan Teken Kerjasama  Pembayaran  Retribusi Parkir Pakai Qris dengan Bank Jatim

Dishub Lamongan Teken Kerjasama  Pembayaran  Retribusi Parkir Pakai Qris dengan Bank Jatim

Jumat, 31 Jul 2026 18:14 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 18:14 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan melaksanakan penandatanganan kerjasama dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank…