SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Potensi sumber (bahan baku alam) serta penggunaan obat tradisional sebagai warisan budaya bangsa dan banyak digunakan masyarakat untuk pencegahan, pengobatan, perawatan, pemeliharaan kesehatan secara turun temurun, maka potensi obat tradisional ini perlu dilestarikan, dikembangkan, dan dilindungi.
Pemerintah menjamin pengembangan dan pemeliharaan bahan baku tradisional. Sedangkan peran serta masyarakat dan pelaku usaha dalam hal ini diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengolah, memproduksi, mengedarkan, mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan obat tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.
Namun pada perkembangannya, terdapat kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan obat tradisional, yaitu ditemukannya produk obat tradisional yang tidak memenuhi syarat keamanan dan mutu, obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat, obat tradisional yang tidak memiliki ijin edar namun beredar di pasaran, serta adanya ketidaksesuaian ketentuan/persyaratan yang berlaku di sarana produksi obat tradisional.
Untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari risiko peredaran obat tradisional perlu dilakukan keterpaduan pembinaan dan pengawasan obat tradisional baik di tingkat pusat maupun di daerah sesuai dengan tugas fungsinya masing-masing.
Balai Besar POM di Surabaya dalam hal ini melakukan inisiasi program pembinaan dan pengawasan Obat Tradisional dalam satu kesatuan kegiatan Sinergitas pembinaan dan pengawasan Obat Tradisional (SiPPOTra).
Sinergitas pembinaan dan pengawasan Obat Tradisional (SiPPOTra) yang dilakukan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya bersama Pemerintah Daerah di Provinsi Jawa Timur dan stake holder dengan langkah langkah Pelatihan Pengawas Obat tradisional (POTra) dan Pelatihan Fasilitator Obat tradisional (FOTra) pada tanggal 26-27 Oktober 2020, Bimtek CPOTB bagi pelaku usaha dan penanggungjawab teknis 12 Oktober 2020, Fasilitasi pelaku usaha obat tradisional (FaPOTra) yang dilakukan di Kabupaten Banyuwangi pada tanggal 16 Oktober 2020, Herbal to Kampus (HerKam) yaitu Pelatihan bagi calon penangungjawab OT tentang standar keamanan dan regulasi obat tradisional yang sejauh ini telah dilakukan kepada mahasiswa program profesi Apoteker Universitas Surabaya tanggal 8 Oktober 2020, Universitas Widya Mandala Surabaya tanggal 1 Oktober 2020, Universitas Airlangga Surabaya tanggal 14 Oktober 2020, Pemberdayaan Masyarakat melalui KIE tentang Cara memilih OT (CaMOT) yang Baik tanggal 13 Oktober 2020, serta Pertemuan Evaluasi Kegiatan tanggal 10 November 2020. Balai Besar POM di Surabaya juga mengembangkan sistem pembinaan dan pengawasan sarana produksi obat tradisional berbasis elektronik dengan pembuatan Aplikasi berbasis web.
Sebagai upaya bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam pengembangan dan pengawasan Obat Tradisional, Balai Besar POM di Surabaya juga melakukan berbagai kegiatan advokasi diantaranya dengan Wakil Gubernur Jawa Timur, Universitas yang memiliki Fakultas Farmasi, Organisasi Profesi (IAI), Asosiasi Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Gresik, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan Pemerintah Kota Mojokerto.
Dalam kegiatan diskusi program SiPPOTra bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak Emil Elistianto Dardak pada tanggal 9 November 2020, disampaikan oleh Bapak Wakil Gubernur “Pengawasan obat tradisional menjadi komitmen dan sinergi kita bersama, masing-masing instansi agar meningkatkan perannya untuk melindungi masyarakat dari obat tradisional yang tidak memenuhi syarat keamanan dan mutu. Salah satu peran penting BBPOM di Surabaya terkait dengan pengujian produk, pemerintah provinsi mendukung pentingnya laboratorium untuk menjaga kualitas produk.”
Dengan adanya program SiPPOTra ini, Balai Besar POM di Surabaya mengharapkan agar Produk obat tradisional yang dihasilkan oleh pelaku usaha di Jawa Timur merupakan produk Obat Tradisional yang aman, bermanfaat, bermutu, dan berdaya saing sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk obat tradisional. Jul
Editor : Redaksi