Nurul Berhasil Inovasikan Tiwul Hingga Tembus Pasar Luar Jawa

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Siti Nurul Komariyah dengan produk T-Woel miliknya
Siti Nurul Komariyah dengan produk T-Woel miliknya

i

SURABAYAPAGI.com, Sumenep - Di Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan sangat dikenal sebagai produsen makanan tradisional seperti tiwul maupun gatot. Namun produksi makanan tradisional itu masih diperjual-belikan secara konvensional. Sehingga membuat Siti Nurul Komariyah merubah makanan tradisional tersebut menjadi lebih modern. Ia berhasil menginovasikan dan mengemas tiwul dengan kemasan yang lebih rapi dan kekinian hingga menembus pasar luar Jawa.

Menurut Nurul, dalam membuat tiwul kemasan tidak berbeda jauh dengan pembuatan tiwul-tiwul tradisional. Bedanya, cara penyaringan atau pengayakan itu lebih ketat, sampai serat-serat singkong tersebut tidak terlihat lagi. Sehingga tiwul menjadi lebih berkualitas. Dan, proses itu yang membedakan produksi tiwul tradisional dengan tiwul kemasan. “Garis  besar pembuatan kurang lebih sama, cuma proses pengayakan yang lebih mendetail,” ujar owner produk T-Woel ini. 

Dalam membangun branding T-Woel tersebut butuh waktu 2 tahun lamanya. Sejak 2016, dia mulai membangun tiwul kemasan sedari nol. Dirinya tak memiliki latar sebagai pengusaha, melainkan hanya sempat bekerja di pasar modern. Namun Nurul tak merasa nyaman bekerja ikut orang, sehingga berinisiatif membangun produk sendiri. 

Awalnya Nurul mendapat inspirasi mengemas makanan tradisional bermula dari anggapan masyarakat yang menghargai jajanan itu terlalu murah. Padahal, proses pembuatan tiwul atau gatot itu membutuhkan proses hingga berminggu-minggu.

Dimulai dari perendaman singkong butuh seminggu, penjemuran butuh seminggu, hingga penyaringan. Belum lagi saat cuaca hujan, artinya para pengusaha harus berhenti produksi. “Tipikal pembuatan tiwul bergantung dengan cuaca. Saat cuaca panas, itu memungkinkan untuk produksi. Sebaliknya ketika hujan itu tidak bisa sama sekali,” ujarnya. 

Nurul mengakui, pernah membuang hingga 50 kilogram (Kg) singkong karena salah memprediksi cuaca. Menurutnya, waktu itu cuaca panas, tapi sore hujan. Ditambah lagi keesokan harinya itu juga, sehingga singkong-singkong itu pun tak bisa dibuat untuk tiwul. “Proses penjemuran tidak bisa menggunakan oven, karena kualitasnya bisa turun. Sebenarnya punya oven, tapi akhirnya tidak terpakai,” kata dia. 

Nurul memulai usaha sedari mencari rasa tiwul yang pas dan dapat dinikmati lidah semua orang. Dia pun menambahkan sedikit campuran gula. Awal-awal menjual tiwul modern itu pun tidak dengan kemasan yang cantik, melainkan hanya dibungkus plastik. Seiring waktu atau sekitar 2018, produk tiwul kemasan milik Nurul mulai dikenal masyarakat luas. Alhasil, pemasarannya pun hingga ke luar Jawa, misal Kalimantan. Namun juga banyak dari Jogja. 

“Biasanya tiap pengiriman sekitar 200 bungkus,” ucap wanita kelahiran 1997 ini. Jerih payah Nurul membangun brand produk tiwul kemasan pun berbuah manis. Omzetnya tembus Rp 5 juta per bulan. Untuk mendapatkan tiwul kemasan ini, cukup mengeluarkan Rp 12 ribu per bungkus. 

Ibu 23 tahun itu mengakui usaha tiwul sempat mengalami kelesuan konsumen saat kemunculan pandemi Covid-19. Konsumen lesu mencapai 40 persen. Bahkan, produk-produk yang dipasang di Galeri Gemilang, atau pasar modern juga terbatas. Yang memungkinkan para pengusaha mengalami masa terpuruk akibat dari pandemi. “Sekitar 30 - 40 persen penurunan,” ujarnya.

Selama sekitar 5 tahun menjalankan usaha tiwul kemasan, Nurul mengakui peminat tiwul masih banyak. Indikasinya, penurunan konsumen terjadi ketika kemunculan pandemi. Nurul berharap pandemi ini cepat hilang, tingkat konsumen normal, sehingga perekonomian dapat pulih kembali. Dsy4

 

Berita Terbaru

Hari Koperasi Ke-79, Lamongan Gelar Fun Walk Insan Koperasi bersama Mahasiswa Internasional

Hari Koperasi Ke-79, Lamongan Gelar Fun Walk Insan Koperasi bersama Mahasiswa Internasional

Minggu, 26 Jul 2026 18:40 WIB

Minggu, 26 Jul 2026 18:40 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Puncak peringatan Hari Koperasi Ke-79 Tahun 2026 di Lamongan digelar berbeda. Sebagai wujud syukur atas perjalanan Gerakan…

Bupati Pasarkan Produk Lokal Lamongan pada Mahasiswa Mancanegara

Bupati Pasarkan Produk Lokal Lamongan pada Mahasiswa Mancanegara

Minggu, 26 Jul 2026 18:38 WIB

Minggu, 26 Jul 2026 18:38 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Menerima kunjungan 162 partisipan 6th Summer School 2026 Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga dari 43 negara, Bupati…

Jujitsu Wali Kota Mojokerto Cup 2026 Resmi Ditutup, Bantar Angin Raih Juara Umum

Jujitsu Wali Kota Mojokerto Cup 2026 Resmi Ditutup, Bantar Angin Raih Juara Umum

Minggu, 26 Jul 2026 18:22 WIB

Minggu, 26 Jul 2026 18:22 WIB

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto - Turnamen Jujitsu Wali Kota Mojokerto Cup 2026 resmi ditutup pada Minggu (26/7), setelah berlangsung selama tiga hari, 24–26 Juli 2…

Dosen Komunikasi: Pernyataan Londo Ireng Perlu Jadi Momentum Perbaikan Komunikasi Publik

Dosen Komunikasi: Pernyataan Londo Ireng Perlu Jadi Momentum Perbaikan Komunikasi Publik

Minggu, 26 Jul 2026 15:40 WIB

Minggu, 26 Jul 2026 15:40 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah "Londo Ireng" dalam pidatonya pada puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai K…

Perjuangan Manusia Melawan Kekuasaan Adalah Perjuangan Ingatan Melawan Lupa

Perjuangan Manusia Melawan Kekuasaan Adalah Perjuangan Ingatan Melawan Lupa

Minggu, 26 Jul 2026 15:30 WIB

Minggu, 26 Jul 2026 15:30 WIB

SurabayaPagi, Surabaya - Kalimat Milan Kundera itu terasa semakin penting ketika sebuah bangsa mulai berjarak dari peristiwa-peristiwa yang membentuk…

Tingkatkan Perekonomian, Pemkab Sumenep Kembangkan Pertanian Hidroponik

Tingkatkan Perekonomian, Pemkab Sumenep Kembangkan Pertanian Hidroponik

Minggu, 26 Jul 2026 14:48 WIB

Minggu, 26 Jul 2026 14:48 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sumenep - Sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian warga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur mulai mengembangkan usaha…