Film Sexy Killers, Kisahkan Peran Luhut, Berbisnis Batu Bara

author surabayapagi.com

- Pewarta

Senin, 01 Nov 2021 20:40 WIB

Film Sexy Killers, Kisahkan Peran Luhut, Berbisnis Batu Bara

i

Tangkapan layar film Sexy Killer.

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pernah nonton Film Sexy Killers . Ini film yang dalam beberapa hari terakhir ini menjadi film yang sangat ramai diperbincangkan.

Di Youtube, hanya dalam waktu 3 (tiga) hari, Sexy Killers sudah dilihat lebih dari 11 juta kali.

Baca Juga: Ganjar Tuding Wiranto, Luhut dan Agum, Jenderal Mencla-mencle

Film ini mengulas banyak fakta tentang dunia tambang batu bara yang menguak banyak sosok yang yang terkait langsung dengan jaringan bisnis batu bara skala besar di tanah air.

Dari sekian nama yang ikut dibahas dalam film garapan Dandhy Laksono dan kawan-kawannya tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Panjaitan menjadi salah satu sosok yang paling banyak dibahas.

Sexy Killers membuka banyak fakta tentang peran Luhut sebagai salah satu bagian dari rantai bisnis pertambangan batu bara di Indonesia. Ia tercatat punya keterkaitan dengan penguasaan tanah lebih dari 30 ribu hektar untuk lahan tambang dan sawit.

Luhut Panjaitan bukanlah sosok yang asing dalam dunia pemerintahan. Ia pernah ditunjuk menjadi menteri perindustrian dan perdagangan RI tahun 2000-2001. Ia juga pernah masuk dalam pemerintahan jokowi sebagai staf kepresidenan tahun 2014. Di tahun 2015, ia diangkat menjadi Menkopolhukam menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno. Kemudian pada 2016, Luhut resmi ditunjuk menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.

 

Rintisan Bisnis Luhut

Luhut sendiri, merintis bisnis di bidang energi dan pertambangan melalui PT Toba Sehajtera Group yang bergerak di sektor pertambangan batu bara. Ini anak perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas, perkebunan, dan kelistrikan.

Nah, mengingat Luhut adalah seorang tokoh di dalam pemerintahan yang juga terlibat dalam jaringan bisnis batu bara skala besar di tanah air, tentu banyak orang yang penasaran dengan berapa jumlah kekayaannya.

 

Enam Cabang Usaha

Berdasarkan LHKPN yang ia laporkan ada 2015 lalu, Luhut diketahui punya aset berupa tanah dan bangunan dengan nilai sebesar Rp108,8 miliar.

Untuk urusan kendaraan, Luhut punya banyak kendaraan baik mobil dan juga motor. Jika ditotalkan, nilai seluruh aset kendaraannya ini mencapai Rp4,9 miliar.

Luhut juga punya harga berupa logam dan batu mulia, nilainya sebesar Rp2,2 miliar.

Yang cukup besar, ia punya aset berupa surat berharga senilai Rp 114,8 miliar, kemudian giro dan setara kas sebesar Rp31,5 miliar dan $1.672.109.

Baca Juga: Cak Imin dan Tom Lembong Tantang Balik Luhut dan Bahlil: Positif Bagi Publik, Kita Adu Data

Ia juga punya piutang senilai Rp397,6 Miliar dan $190.000.

Jika ditotalkan seluruhnya, maka nilai seluruh aset kekayaannya adalah sebesar Rp660 miliar dan $1.862.019.

Tapi sebagai catatan, Dalam LHKPN ini Luhut tidak mencantumkan kekayaan yang bersumber dari peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pertambangan, dan usaha lainnya. Kalau seandainya dicantumkan, kemungkinan akan jauh lebih besar lagi.

Terungkap dalam berbagai sumber, Luhut adalah seorang pengusaha energi yang memiliki perusahaan Toba Sejahtera Grup. Laporan dari Coalruption “Elite Politik dalam Pusaran Bisnis Batu Bara” mengungkapkan, perusahaan tersebut terbagi menjadi enam cabang, yakni batu bara dan pertambangan, migas, perindustrian, properti, pembangkit listrik, serta kehutanan dan kelapa sawit.

Beberapa anak perusahaannya yang diketahui ada 15, antara lain Kutai Energi dan Toba Bara Sejahtera (TOBA) di cabang batubara; Energi Mineral Langgeng dan Fairfield Indonesia di cabang Migas; Smartias Indo Gemilang, Rakabu Sejahtera, dan Kabil Citranusa di bidang perindustrian.

 

Bisnis di Kalimantan Timur

Kemudian, Toba Pengembang Sejahtra di bidang property; Pusaka Jaya Palu, Kartanegara Energi Prakarsa, Minahasa Cahaya Lestari, Gorontalo Listrik Perdana di bidang pembangkit tenaga listrik; PKUI, Tritunggal Sentara Buana, dan Adimitra Lestari di cabang kehutanan dan kelapa sawit.

Baca Juga: Tekan Polusi Udara, Luhut Wacanakan Kenaikan Pajak Motor BBM

Sepak terjang bisnis Luhut yang diketahui ada di Kalimantan Timur. Luhut diketahui memiliki hubungan dekat dengan Rita Widyasari—Bupati Kutai kertanegara yang ditahan karena tersangka korupsi pada 2017. Ini dibuktikan dari kehadirannya dalam upacara pelantikan Widyasari sebagai Bupati Kartanegara pada 30 Juni 2010.

Meski Luhut tak mendeklarasikan dukungan terhadap Widyasari , tetapi dirinya hadir dalam acara pelantikan adalah sinyal kuat dari hubungan dekat tersebut. Terlebih setelah dilantik, bupati itu menerbitkan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) bagi Trisensa pada tahun 2010, dan memperpanjang izin Indomining pada 2013.

Usaha Luhut pun berkembang pesat. Berawal dari batu bara, perusahaan milik Luhut berkembang dan meluas ke industri minyak dan gas, pembangkit listrik, industri perkebunan dan perhutanan, serta infrastruktur—yang diurai dalam paragraf sebelumnya.

 

Raup untung besar-besaran

Laba pun terus meningkat. Pada 2007, tercatat penghasilan pretama TOBA pertama sebesar 5 juta dolar Amerika Serikat (AS). Penghasilan meningkat di kemudian hari. Tercatat pada 2011, TOBA berhasil mendapatkan pemasukan US 498 juta dolar, sementara laba bersihnya sebesar 58 juta dolar AS. Dan seketika itu pula, kekayaan pribadi Luhut pun naik dari Rp7,1 miliar pada 2001 menjadi Rp660 miliar pada 2015.

Luhut sempat meraup untung besar-besaran, terlebih saat menjual saham perusahaanya ke perusahaan asing.

Laporan Global Witness “Pengaliihan Uang Batu Barat Indonesia” lebih lanjut menjelaskan, Luhut sempat menjual sahamnya ke perusahaan asing. Pada 2016, diketahui Luhut memiliki 99 persen saham perusahaan terbatas bernama Toba Sejahtra. Perusahaan ini memegang 72 persen saham perusahaan tambang batu bara Indonesia berukuran menengah bernama Toba Bara Sejahtera. n er, jk, 07

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU