Surat Terbuka Sosok Penggagas Vaksin Nusantara (3)

Prof Terawan: Pendapat Profesor Diluar Keahlian saya, Bisa Menyesatkan

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Catatan Wartawan Surabaya Pagi, Raditya Mohammer Khadaffi
Catatan Wartawan Surabaya Pagi, Raditya Mohammer Khadaffi

i

Wawancara Rossi dan Dr. Terawan, Jumat (8/7/2022) lalu ternyata dilakukan di rumah dinas Terawan yang lokasinya berdekatan dengan RSPAD Gatot Soebroto.

Sebagai jurnalis cetak, saya mencatat Rosi,  pewawancara senior, melontarkan pertanyaan-pertanyaan lugas. Menariknya, makna pertanyaannya bisa ditangkap oleh pemirsa, seperti saya.

Wawancara “eksklusif” khas Televisi yang tak hanya menampilkan media audio, tetapi juga penggambaran secara visual. Ada dialog menarik yang bisa disimak pemirsa.

Tentang lokasi wawancara, ruangan tamu yang tampak rapi, ternyata ini ruangan tamu sebuah rumah dengan foto visual penguhinya berpakaian tentara. Terawan mengaku telah menempati rumah dinas ini sejak tahun 2013 silam.

Duduk berhadap hadapan dengan Rosi, Prof. Dr. dr. Terawan, membantah tudingan yang menyebutkan bahwa dirinya menggampangkan persoalan pandemi Covid-19 ketika masin menjabat menkes.

Selama pandemi, Terawan mengaku telah mengupayakan banyak hal mulai dari menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga mengedukasi masyarakat. "Selama impact-nya pada ekonomi itu baik, ya berarti kita berhasil menyelesaikannya semua," tutur dokter kelahiran Jogja.

 

***

 

Mantan Menteri Kesehatan ini mengaku tak pernah merasa gagal selama duduk di Kabinet Indonesia Maju.

Terawan justru mengeklaim, dirinya berhasil menjalankan visi misi yang dicanangkan Presiden Joko Widodo di bidang kesehatan.

"Enggak (pernah merasa gagal). Saya merasa bahwa visi misi presiden telah saya kerjakan. Kan saya paling konsekuen," katanya kepada Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosiana Silalahi dalam program Rosi Kompas TV, Jumat (8/7/2022).

Saat diberi amanah menjabat Menkes, ungkap Terawan, salah satunya ia diminta presiden supaya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak lagi defisit, setidaknya sampai 2024.

Mantan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta itu pun mengeklaim dirinya malah berhasil mencapai misi tersebut lantaran Januari 2021 BPJS profit hingga Rp 18,5 triliun.

Terawan juga mengeklaim, ketika dirinya menjabat menteri kesehatan, harga obat berhasil diturunkan hingga 49 persen.

Selain itu, dia berhasil meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) alat-alat kesehatan dari yang semula kurang dari 10 persen, menjadi 35 persen.

Kemudian, terkait visi misi presiden yaitu menurunkan stunting, dirinya juga telah mengatur pembagian tugas antara Kementerian Kesehatan dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) . Terutama untuk mengendalikan ini.

"Sehingga saya mampu selesaikan ibaratnya empat visi itu dengan baik," klaim suami  Ester Dahlia ini.

Sementara, terkait pandemi Covid-19 di Indonesia, Terawan berpandangan bahwa seluruh dunia mengalami imbas yang sama.

Jadi, kendati dirinya dicopot dari kursi menkes saat pandemi masih berlangsung, Terawan mengatakan, dirinya tak pernah merasa tidak layak menjadi menteri.

Buat Terawan, jabatan hanyalah kewenangan yang diamanahkan pemimpin. Selama diberi kewenangan, Terawan mengaku akan bertanggung jawab sepenuhnya.

"Tidak ada istilahnya karena merasa nggak mampu, merasa lebih mampu, eggak, enggak, itu amanah. Dan saya mengerjakan sesuai tanggung jawab saya dan itu sudah saya wujudkan dengan saya menyelesaikan tugas meskipun hanya setahun lebih tetapi dengan enjoy," kata dia.

 

***

 

Benarkan sosok Dokter Terawan tak lepas dari kontroversi, juga dikupas dalam wawancara saat itu.  Terawan, pernah dinilai melanggar etik, karena metode cuci otak hingga terobosannya lewat Vaksin Nusantara.

Rosi bertanya? “Mengapa Dokter Terawan begitu berani?”

Dr. Terawan menjawab, di dunia kedokteran, termasuk penelitian medik, seorang dokter dalam melakukan sesuatu, kita sudah tahu takaran dan batasannya, mana yang aman dan tidak aman, dan semuanya ada peraturannya. Dalam bidang kesehatan, peraturan tersebut terdapat di jurnal ilmiah.

Jadi jika ada profesor dan guru besar dari bidang saya yang memberikan pendapat tentang penelitian saya, maka jadi ‘apple to apple’. Dan saya akan mengajaknya diskusi.

Berbeda dengan  profesor dan guru besar yang bukan dari bidang keahlian saya dan mengeluarkan opini yang berbeda tentang penelitian saya. Pendapatnya bisa menyesatkan.

Ini karena di dalam kesejawatan harus saling menghargai.

Semua dokter yang tahu etika, paham tentang kolegium radiologi. Dia memberikan saya kewenangan sesuai dengan sertifikat kompetensi yang saya punya.

Dan untuk menentukan sesuatu benar atau tidak, bukan organisasinya yang manilai, melainkan kolegium perhimpunan. Bahasa keilmuannya, tdak boleh sembarangan orang berbicara mengenai ‘Evidence Based Medicine (EBM)’. (radityakhadaffi/bersambung)

Berita Terbaru

19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

Minggu, 05 Apr 2026 16:27 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 16:27 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik - Sebanyak 19 sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Gresik menerima penghargaan atas keberhasilan meningkatkan jumlah peserta didik secara…

Daop 7 Madiun Catat Enam Gangguan Perjalanan KA Selama Angkutan Lebaran 2026

Daop 7 Madiun Catat Enam Gangguan Perjalanan KA Selama Angkutan Lebaran 2026

Minggu, 05 Apr 2026 15:00 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 15:00 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Selama masa Angkutan Lebaran 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mencatat adanya enam kejadian gangguan…

Kurang Waspada! Motor dan Truk Adu Banteng, Pengendara Motor Tewas di TKP

Kurang Waspada! Motor dan Truk Adu Banteng, Pengendara Motor Tewas di TKP

Minggu, 05 Apr 2026 14:55 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:55 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Kecelakaan antara pengendara motor dan Truk Isuzu dengan adu banteng yang terjadi pada Minggu (5 April 2026) dini hari mengejutkan…

Kebijakan Pembatasan Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD Akan Resmi Berlaku Tahun 2027

Kebijakan Pembatasan Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD Akan Resmi Berlaku Tahun 2027

Minggu, 05 Apr 2026 14:23 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:23 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Terkait kebijakan pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD akan resmi diberlakukan tahun 2027. Dimana, postur APBD…

Usai Santap Nasi Berkat Tahlilan, Puluhan Korban Diduga Alami Keracunan Muntah-Diare

Usai Santap Nasi Berkat Tahlilan, Puluhan Korban Diduga Alami Keracunan Muntah-Diare

Minggu, 05 Apr 2026 14:14 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:14 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Baru-baru ini viral, seusai menyantap nasi berkat tahlilan di Jalan Sido Kapasan Gang 10, Simokerto, Surabaya, sebanyak puluhan…

Warga Napis Bojonegoro Akhirnya Miliki Jembatan, Pasca Penantian Puluhan Tahun

Warga Napis Bojonegoro Akhirnya Miliki Jembatan, Pasca Penantian Puluhan Tahun

Minggu, 05 Apr 2026 14:06 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:06 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bojonegoro - Setelah menanti selama puluhan tahun, akhirnya kini warga di perbatasan Bojonegoro dan Ngawi bisa bernapas lega lantaran…