Viaduct Kertajaya, Salah Satu Kawasan Macet

"Pagi ambek Sore, Mulih Kerjo, Macet!"

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Potret suasana viaduct Kertajaya, hari Minggu sore kemarin, dipadati kendaraan bermotor. Setiap hari kerja, baik pagi dan sore, selalu dipadati sehingga menimbulkan kemacetan.
Potret suasana viaduct Kertajaya, hari Minggu sore kemarin, dipadati kendaraan bermotor. Setiap hari kerja, baik pagi dan sore, selalu dipadati sehingga menimbulkan kemacetan.

i

Harian kita Selasa (20/6/2023) menurunkan reportase salah satu kawasan macet di Surabaya yakni di Viaduct Kertajaya. Reportase ini, terbangunkan Surabaya disebut kota termacet di Indonesia. Ini berdasarkan hasil penelitian Global Traffic Scorecard 2021, bahwa Indonesia peringkat ke-50 dunia dan peringkat pertama di Indonesia, menggeser Jakarta. Benarkah? Wartawan Surabaya Pagi, Raditya M. Khadaffi memotret kawasan macet diantaranya di wilayah Viaduct Kertajaya yang menggabungkan Jalan Kertajaya - Jl. Sulawesi Surabaya. Berikut hasil "potretannya".

 

Jembatan Viaduk Kertajaya yang menghubungkan antara Jalan Kertajaya - Jalan Sulawesi, setiap jam berangkat kerja dan pulang kerja, kerap membuat kemacetan. Apalagi saat musim hujan. Salah satu penyebabnya "kapasitas" bawah jembatan viaduct. Kini dihadapkan keluasannya juga ketinggiannya.

Saat dibangun pemerintah Belanda tahun 1930, Tinggi viaduct Kertajaya mencapai empat meter dan sepanjang 18 meter. luasannya ada lorong kiri-kanan luasan sama, sekitar 2,5 meter. Kemudian jalur tengah sekitar 6 meter. Luasan jalur tengah bisa dua mobil salipan.

Lima-tujuh tahun lalu jembatan ini "memakan" sebuah truk sampah milik Pemkot Surabaya yang nyangkut di jembatan viaduk Kertajaya. Akibatnya, truk ini mengalami pecah kaca depan. Eksesnya kemacetan arus lalu lintas terjadi selama beberapa jam. Baik kendaran dari Jl. Kertajaya maupun kendaraan dari Jl. Biliton dan Jalan Sulawesi.

Tak hanya lima-tujuh tahun lalu, dalam sepekan terakhir, beberapa kali kendaraan yang mengangkut beberapa barang melebih tinggi empat meter, selalu nyangkut. Hal itu diakui oleh Hasan, penjual kopi yang mangkal di pojokan Jalan Gubeng Kertajaya gang I Rel KA. "Wes bolak-balik akeh sing nyangkut, mas. Cuma gak separah dulu iku, truk sampah sing maksakno mlebu," kata Hasan, saat ditemui Surabaya Pagi.

Terkait kemacetan, Hasan yang tinggal di Gubeng Jaya dan berjualan di pojokan gang Rel KA lebih dari 10 tahun itu, menjelaskan, sudah bisa terlihat saat pagi hari dan sore hari.

"Sudah dari dulu sebetulnya, pagi ambek sore. Budhal mbek mulih kerjo. Macet. Opo maneh akeh sing arep lawan arus nang Nias iku mas," lanjutnya.

Memang, dari pantauan Surabaya Pagi, dalam sepekan, pagi dan sore, kawasan Viaduct Kertajaya kemacetannya sudah menjadi langganan. Baik yang dari arah Kertajaya ataupun dari Jalan Sulawesi.

Bahkan, motor roda dua sendiri juga ada yang mencoba melawan arus untuk menyeberang dari Kertajaya ke Jalan Nias ataupun Jalan Nias menyeberang ke jalur berlawanannya. Meskipun kini sudah diberi marka jalan setinggi 30 cm dan diberi pot tanaman.

"Nah itu tuh yang bikin macet, lawan arah-lawan arah kayak gini. Padahal lho yah sudah ada marka jalan ditengah setinggi itu," celetuk salah satu perempuan baru keluar dari toko Prima Buah yang berada di Jalan Sulawesi.

Yah, jalanan dipenuhi sepeda motor maupun mobil yang akan pulang kerja ke arah Surabaya Timur. Beberapa pengguna jalan mengaku terjebak mendekati viaduct. Termasuk di viaduct, kemacetannya menghabiskan banyak waktu.

Warga Surabaya, menurut penelitian seperempat waktu perjalanannya habis di tengah kemacetan. Total kerugian yang diciptakan oleh kemacetan di 28 kota di Indonesia mencapai Rp56 triliun. Jakarta menanggung sekitar Rp36 triliun dari jumlah itu. Sisanya dibagi 27 kota, termasuk Surabaya. Dampak dari kemacetan tidak hanya bensin, stres, penurunan kesehatan, dan meningkatnya polusi udara. rmc

Berita Terbaru

PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

Selasa, 03 Feb 2026 19:07 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:07 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) siap berjuang mati-matian. Menurutnya pernyataan Jokowi itu menjadi dorongan moral dan militansi…

Setelah Lengser dari KSP, Moeldoko Mengeluh

Setelah Lengser dari KSP, Moeldoko Mengeluh

Selasa, 03 Feb 2026 19:06 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:06 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Setelah tak jabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP) dan kini jadi Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia…

Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng

Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng

Selasa, 03 Feb 2026 19:02 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:02 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengundang organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam pada Selasa (3/2) siang. Apa yang akan…

Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk

Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk

Selasa, 03 Feb 2026 18:59 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:59 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Komnas Anak berharap kasus ini tidak berlarut-larut. Sebab, konflik yang terus menerus terekspos di media dikhawatirkan akan…

Kisah Anak-Cucu Almarhum Emilia Contesa : Denada Nangis, Ressa Siap Islah

Kisah Anak-Cucu Almarhum Emilia Contesa : Denada Nangis, Ressa Siap Islah

Selasa, 03 Feb 2026 18:56 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:56 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Drama perseteruan antara pihak Ressa dan Denada memasuki babak baru yang makin panas. Tak main-main, Dino Rossano Hansa selaku Om…

Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Selasa, 03 Feb 2026 18:55 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:55 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saat pidato di Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026), Presiden Prabowo…