Harga Beras Masih Mahal, Faktor Cuaca dan Akses Jalan Jadi Biang Kerok

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Beras impor dari Vietnam sebanyak 5.000 ton tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Foto: Annasa Rizki Kamalina/ Bisnis
Beras impor dari Vietnam sebanyak 5.000 ton tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Foto: Annasa Rizki Kamalina/ Bisnis

i

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Kenaikan harga komoditas pangan, termasuk harga beras pada awal 2024 masih menjadi polemik dan tak kunjung mereda. Pasalnya, seluruh provinsi di Pulau Jawa dan Bali Nusra disebut mengalami kenaikan harga beras. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, salah satu isu yang menyebabkan tingginya harga beras adalah beberapa negara penghasil beras menahan ekspornya sehingga menyebabkan pasar global relatif naik. Sedangkan faktor pendukung dari dalam negeri lantaran produksi beras terhalang oleh El Nino. 

"Salah satu pendorong kenaikan harga beras antara lain karena kurangnya pasokan di beberapa wilayah terutama akibat dari faktor cuaca fenomena El Nino berkepanjangan dan rusaknya beberapa akses jalan dan hambatan distribusi komoditas pangan," ujar Plt Kepala BPS Amalia A. Widyasanti, Jumat (02/02/2024).

Lebih lanjut, dia menyampaikan tingginya harga beras juga dipengaruhi oleh suplai yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan permintaan yang tinggi.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo akan kembali memberikan bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan kepada sekitar 22 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Bantuan tersebut akan digelontorkan hingga Juni 2024. 

“Yang paling penting bapak ibu, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni diberikan bantuan,” ucap Jokowi beberapa waktu lalu.

Jokowi juga akan menambah lagi bantuan beras tersebut hingga periode yang belum ditentukan. Penambahan bantuan beras akan mengacu pada kesiapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setelah melalui pertimbangan. 

“Sementara sampai Juni. Nanti kalau APBN kita hitung-hitung cekap [cukup], bisa dilanjutkan lagi," kata Jokowi.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pasokan pangan nasional, pemerintah juga mengimpor beras. Adapun, total kuota impor beras yang akan direalisasikan di 2024 sebanyak 2,5 juta ton. Jika diperinci, 2,5 juta ton ini terdiri dari penugasan impor 2 juta ton di 2024 dan 500.000 dari sisa kuota tambahan penugasan di 2023. 

Dari total 2,5 juta ton, sebanyak 600.000 ton rencananya akan didatangkan dari Thailand dan Vietnam secara bertahap. Pemerintah juga membuka opsi untuk mendatangkan beras dari India dan China. jk-01/dsy


Caption: Beras impor dari Vietnam sebanyak 5.000 ton tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Foto: Annasa Rizki Kamalina/ Bisnis


SURABAYAPAGI, Jakarta - Kenaikan harga komoditas pangan, termasuk harga beras pada awal 2024 masih menjadi polemik dan tak kunjung mereda. Pasalnya, seluruh provinsi di Pulau Jawa dan Bali Nusra disebut mengalami kenaikan harga beras. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, salah satu isu yang menyebabkan tingginya harga beras adalah beberapa negara penghasil beras menahan ekspornya sehingga menyebabkan pasar global relatif naik. Sedangkan faktor pendukung dari dalam negeri lantaran produksi beras terhalang oleh El Nino. 

"Salah satu pendorong kenaikan harga beras antara lain karena kurangnya pasokan di beberapa wilayah terutama akibat dari faktor cuaca fenomena El Nino berkepanjangan dan rusaknya beberapa akses jalan dan hambatan distribusi komoditas pangan," ujar Plt Kepala BPS Amalia A. Widyasanti, Jumat (02/02/2024).

Lebih lanjut, dia menyampaikan tingginya harga beras juga dipengaruhi oleh suplai yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan permintaan yang tinggi.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo akan kembali memberikan bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan kepada sekitar 22 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Bantuan tersebut akan digelontorkan hingga Juni 2024. 

“Yang paling penting bapak ibu, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni diberikan bantuan,” ucap Jokowi beberapa waktu lalu.

Jokowi juga akan menambah lagi bantuan beras tersebut hingga periode yang belum ditentukan. Penambahan bantuan beras akan mengacu pada kesiapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setelah melalui pertimbangan. 

“Sementara sampai Juni. Nanti kalau APBN kita hitung-hitung cekap [cukup], bisa dilanjutkan lagi," kata Jokowi.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pasokan pangan nasional, pemerintah juga mengimpor beras. Adapun, total kuota impor beras yang akan direalisasikan di 2024 sebanyak 2,5 juta ton. Jika diperinci, 2,5 juta ton ini terdiri dari penugasan impor 2 juta ton di 2024 dan 500.000 dari sisa kuota tambahan penugasan di 2023. 

Dari total 2,5 juta ton, sebanyak 600.000 ton rencananya akan didatangkan dari Thailand dan Vietnam secara bertahap. Pemerintah juga membuka opsi untuk mendatangkan beras dari India dan China. jk-01/dsy

Berita Terbaru

Titik Temu Kepentingan Komersial dan Berkelanjutan

Titik Temu Kepentingan Komersial dan Berkelanjutan

Senin, 19 Okt 2026 07:52 WIB

Senin, 19 Okt 2026 07:52 WIB

​SURABAYAPAGI.com - Transisi hijau di Asia Tenggara dapat semakin berkembang ketika pilihan yang lebih ramah lingkungan juga menjadi lebih nyaman, mudah di…

Kilang Plaju Produksi 295.263 Barel Avtur hingga September 2026

Kilang Plaju Produksi 295.263 Barel Avtur hingga September 2026

Senin, 19 Okt 2026 07:47 WIB

Senin, 19 Okt 2026 07:47 WIB

SURABAYAPAGI.com - Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Plaju, Sumatera Selatan, mencatat produksi bahan bakar pesawat udara atau avtur sebanyak 295.263 barel…

OJK Soroti Keamanan Siber dan Ketahanan Bisnis untuk Jaga Kepercayaan Digital

OJK Soroti Keamanan Siber dan Ketahanan Bisnis untuk Jaga Kepercayaan Digital

Senin, 19 Okt 2026 07:46 WIB

Senin, 19 Okt 2026 07:46 WIB

SURABAYAPAGI.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya penguatan tata kelola dan keamanan siber untuk menjaga kepercayaan terhadap ekosistem…

Ada 1.324 Pembatalan Penerbangan Akibat Kebakaran Hutan

Ada 1.324 Pembatalan Penerbangan Akibat Kebakaran Hutan

Senin, 19 Okt 2026 07:42 WIB

Senin, 19 Okt 2026 07:42 WIB

SURABAYAPAGI.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat 2.458 penerbangan berjadwal domestik terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak 11…

Tingkatkan Kewaspadaan Modus Penipuan di Era Keuangan Digital

Tingkatkan Kewaspadaan Modus Penipuan di Era Keuangan Digital

Senin, 19 Okt 2026 07:41 WIB

Senin, 19 Okt 2026 07:41 WIB

SURABAYAPAGI.com - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Eko Yunianto mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan…

Mediasi Buntu, Dugaan Penganiayaan Kepala MI Dilaporkan ke Subdenpom Lamongan

Mediasi Buntu, Dugaan Penganiayaan Kepala MI Dilaporkan ke Subdenpom Lamongan

Senin, 19 Okt 2026 07:35 WIB

Senin, 19 Okt 2026 07:35 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan – Dugaan penganiayaan terhadap Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), KH M. Munir Thowil, dilaporkan ke Subdenpom V/2-3 Lamongan. Laporan i…