Haji Lansia Masih 40 Ribu, Tahun Lalu 36 Meninggal

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 12 Mei 2024 21:06 WIB

Haji Lansia Masih 40 Ribu, Tahun Lalu 36 Meninggal

i

Calon jamaah haji (CJH) asal Embarkasi Surabaya, Minggu (12/5/2024) saat diberangkatkan menuju Madinah, Arab Saudi. Mereka yang tergabung dalam kloter pertama di Haji 2024 ini, dilepas oleh Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono dan pejabat Kemenag Jatim. SP/Nur

Embarkasi Surabaya Berangkatkan 5.400 CJH Lansia

 

Baca Juga: Makkah Route: Imigrasi Surabaya Datangkan Langsung Petugas dari Arab Saudi ke Juanda

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Jumlah calon jemaah haji (CJH) Indonesia tahun 1445 H/2024 M sebanyak 241.000 jemaah. Sejumlah 221.000 kuota normal dan 20 ribu kuota tambahan. Mereka terbagi dalam alokasi kuota Haji Reguler sebanyak 213.320 orang dan kuota Haji Khusus sebanyak 27.680 jemaah.

Tahun ini, Asrama Haji Embarkasi Surabaya melayani sekitar 5.400 calon jemaah haji (Cahaj) lanjut usia (lansia). Sebagian dari jemaah lansia itu bakal mendapatkan afirmasi pelayanan khusus.

Kemenag berpesan para petugas haji untuk memiliki komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada jemaah. Khususnya lansia. Mengingat, jumlah jemaah lansia pada 2024 masih cukup besar, lebih dari 40 ribu lebih dari total kuota haji Indonesia.

Maka itu,tema penyelenggaraan haji 2024 juga masih 'Haji Ramah Lansia' seperti tahun sebelumnya.

 

Lansia Jangan Paksakan diri

Kepada para jemaah haji lansia agar tidak terlalu memaksakan diri untuk menunaikan ibadah-ibadah sunnah, seperti umrah berkali-kali. "Sebaiknya mari kita simpan energi dan tenaga untuk persiapan wukuf di Arafah, di Muzdalifah, dan mabit serta lempar jumrah di Mina yang memerlukan tenaga ekstra," tutur Menag, kemarin.

Menag menyebut, berdasarkan data yang didapat, tahun PK lalu sebanyak 752 jemaah haji reguler dinyatakan meninggal dunia.

Jemaah lansia dengan usia 65 tahun ke atas pada operasional haji 1444 H/2023 M jumlahnya sangat banyak, lebih dari 60 ribu jemaah.

Berdasarkan data Siskohatkes-Kemenkes yang dipublikasika, jemaah risti yang meninggal dunia ada 64 orang. Dari jumlah tersebut, 36 di antaranya adalah lansia (65 tahun ke atas).

Menurut WHO, usia lebih dari 60 tahun disebut lansia. Sementara Kementerian Agama RI mendefinisikan lansia usia yang lebih dari 65 tahun. Secara epidemologi, jemaah haji lansia mempunyai risiko 7,1 kali lebih besar meninggal dibandingkan Jemaah haji bukan lansia (Anwar Musadat, 2023).

Baca Juga: Gantikan Ayahnya, Abdul Aziz, Siswa SMK 18 Tahun jadi CJH Termuda di Surabaya

Tingginya kematian jemaah bisa jadi merupakan fenomena gunung es buruknya manajemen haji tahun 2023.

 

Dihimbau Sering Minum Air

Mayoritas jemaah haji Indonesia tahun ini berusia lanjut usia (lansia) atau 65 tahun ke atas. Banyaknya jemaah dengan usia non-produktif serta kondisi suhu yang ekstrem di Arab Saudi, menjadi faktor pendorong tingginya jemaah haji yang meninggal di Tanah Suci.

DPR-RI meminta kerjasama dan pengertiannya terutama terkait pelayanan dalam menghadapi para jemaah lansia. Pasalnya, kepada para jemaah lansia diperlukan upaya pelayanan ekstra dengan tidak memaksakan kepada mereka untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat memforsir energi.

"Kepada para jemaah haji, untuk diketahui musim haji tahun ini juga bertepatan dengan musim panas, yang suhunya di Mekkah bisa mencapai suhu ekstrem, lebih dari 40 derajat celcius. Untuk itu, para Jemaah dihimbau untuk sering minum air agar tidak mengalami dehidrasi. Air zamzam tersedia banyak di sana," ungkap Ace, dari Golkar.

Dia mengingatkan, bahwa sering minum berbeda dengan banyak minum. Sering minum harus dilakukan berkali-kali meskpun minum sedikit, sedangkan banyak minum dilakukan minum sekali atau dua kali dengan meminum air yang banyak.

Baca Juga: CJH Embarkasi Surabaya, Disambut Fast Track Mecca Route

"Hal yang dianjurkan adalah sering minum, sehingga kita tidak mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh yang akan menyebabkan lupa ingatan dan menjadi penyebab banyak jemaah lupa arah pulang ke pemondokan atau terpisah dari rombongan," ungkap Kang Ace.

 

Layanan Fast Track

Kini ada layanan fast track di bandara. Layanan ini sangat memudahkan para jamaah saat memasuki Arab Saudi. "Pertama kami menyampaikan apresiasi yang dilakukan kementerian agama dengan menggunakan layanan fast track bandara ini. Biasanya jemaah seperti tahun-tahun sebelumnya jika tidak digunakan fastek proses imigrasi harus menunggu 4 sampai 5 jam saat sampaisi Arab Saudi, sekarang begitu turun dari pesawat bisa langsung menuju bis mereka masing-masing," kata Kang Ace dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/5/2024).

menambah layanan jalur cepat (fast track) bagi jamaah haji Indonesia.

Ini ikhtiar bersama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi dalam memudahkan jamaah,

Fasilitas yang dinamakan Makkah Route tersebut, ungkap dia, pada tahun ini disiapkan bagi jamaah yang berangkat dari Jakarta, Solo, dan Surabaya, di mana pada tahun sebelumnya hanya tersedia di Jakarta saja. n erc/jk/c2/op/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU