Editorial Surabaya Pagi

Pejabat Kemendikbudristek Diduga Ada yang Dungu

author Raditya Mohammer Khadaffi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Catatan Budaya, Raditya M Khadaffi, Wartawan Surabaya Pagi
Catatan Budaya, Raditya M Khadaffi, Wartawan Surabaya Pagi

i

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Saya menyimak pernyataan Pelaksana Tugas Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud-Ristek, Tjitjik Tjahjandarie, memperkeruh kegundahan sebagian orang tua dan calon mahasiswa baru.

Mereka risau adanya UKT yang naiknya melompat cukup tinggi. Saat mereka berjuang menurunkan UKT, muncul pejabat Kemendikbud-Ristek yang makin memperkeruh kegudahan mereka.

Pejabat Kemendikbud-Ristek  ini berpendapat pendidikan tinggi sifatnya tersier dan tidak wajib.

Saya yang sudah lulus kuliah di sebuah PTN tertegun. Sepertinya Pejabat Kemendikbud-Ristek, tak merasakan suasana bathin orang tua dan calon mahasiswa baru berekonomi pas-pasan.

Meminjam olok-olok Rocky Gerung, yang gampang menarasikan kata "dungu". Jangan-jangan bila Rocky Gerung diwawancarai akan bilang, itu pejabat dungu.

 

***

 

Pejabat Kemendikbud-Ristek itu menyebarkan opini seolah kuliah itu mewah. Jadi mahal.

Saya tak paham kuliah itu kebutuhan tersier.

Apa mesti anak kuliah mesti dianalogikan berlibur ke luar negeri, membeli koleksi perhiasan, atau membeli barang-barang bermerek dan mewah? Masya Allah!

Apakah semua orang tua yang mau menyekolahkan anaknya ke pendidikan tinggi memiliki banyak uang? Masya Allah.

 

***

 

Saya masih ingat pelajaran Konstitusi Indonesia. Dijelaskan alasan Indonesia didirikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini ada pada undang-undang 1945. Dan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut diajarkan  sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi.

Akal sehat saya berkata, negara dan pemerintah harus berperan untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat di semua tingkatan. Akal sehat saya tak bisa menerima anggapan bahwa pendidikan perguruan tinggi adalah kebutuhan tersier.

Pertanyaan saya, mengapa hal itu sampai bisa disampaikan kepada masyarakat.? Apakah pejabat itu tidak merasa negara wajib mengakomodasi pendidikan bagi seluruh warga negaranya tanpa terkecuali. Apalagi,  sudah ada anggaran sebesar 20 persen dikhususkan untuk membiayai pendidikan.

Saya justru khawatir pernyataan dari pejabat Kemendikbudristek malah mengaburkan kegagalan negara dalam menyediakan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas.

UKT saya kesankan seperti alat mempersulit warga  mengakses kuliah pendidikan tinggi di negerinya sendiri.

 

***

 

Saya pikir berulang ulang titik temunya  pejabat Kemendikbudristek tak paham konstitusi. Dalam UUD 1945, Negara wajib menyediakan pendidikan sebagai hak untuk masyarakat, pendidikan yang terbuka, terjangkau, dan berkualitas.

Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) bukan bentuk komersialisasi pendidikan akibat mahalnya biaya kuliah di Indonesia.

Pernyataan soal pendidikan tinggi sebagai pendidikan tersier memperlihatkan Kemendikbudristek nirempati.  Ya ketika kondisi ekonomi masyarakat sulit.

Kesan saya, UKT di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN), bisa untuk mempersempit anak muda mencerdaskan diri sampai pendidikan tinggi!

Kini mulai bertebaran opini pendidikan tinggi ini adalah tersiery education? Apa pendapat ini dipengaruhi gaya bisnis Nadiem kelola transportasi online Gojek. Sehingga lulusan S1, bukan dimasukan wajib belajar di Indonesia. Pesan kulturalnya, tidak seluruh lulusan SLTA dan SMK di Indonesia wajib masuk perguruan tinggi?. Mereka cukup dilatih jadi tukang ojek?

Apa begitu Pak Jokowi, mengisi cita cita Indonesia merdeka? Founding father NKRI Bung Karno-Bung Hatta, bisa menangis di alam sana. ([email protected])

Berita Terbaru

DPRD Surabaya Dorong Pengadaan Seragam Terpusat

DPRD Surabaya Dorong Pengadaan Seragam Terpusat

Minggu, 27 Sep 2026 16:47 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 16:47 WIB

SURABAYAPAGI, com. Surabaya - Persoalan seragam batik sekolah dikeluhan wali murid menjadi perhatian DPRD Kota Surabaya. Anggota Komisi D DPRD Surabaya  Ajeng …

Gebrakan Demokrat Jatim, Gelar Donor Darah Serentak di 38 Kabupaten/Kota

Gebrakan Demokrat Jatim, Gelar Donor Darah Serentak di 38 Kabupaten/Kota

Minggu, 27 Sep 2026 15:52 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 15:52 WIB

 SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA – DPD Partai Demokrat Jawa Timur menggelar aksi donor darah serentak di 38 kabupaten/kota dalam rangka memperingati Hari Ulang Ta…

Tak Hanya Hidup Sehat, Warga Mojokerto Dibekali Keterampilan Menyelamatkan Nyawa

Tak Hanya Hidup Sehat, Warga Mojokerto Dibekali Keterampilan Menyelamatkan Nyawa

Minggu, 27 Sep 2026 15:35 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 15:35 WIB

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto – Menjaga kesehatan bukan hanya tentang mencegah penyakit, tetapi juga kesiapan menghadapi kondisi darurat yang dapat terjadi kapan …

Kick Off Road HUT IDI, Ning Ita Dorong Kolaborasi Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat

Kick Off Road HUT IDI, Ning Ita Dorong Kolaborasi Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat

Minggu, 27 Sep 2026 15:31 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 15:31 WIB

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto - Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau Ning Ita mendorong penguatan kolaborasi antara Pemerintah Kota Mojokerto dan Ikatan…

Kekeringan Musim Kemarau, Polsek Gandusari bersama Tiga Pilar, Toga dan Tomas Salurkan Bantuan Air Bersih

Kekeringan Musim Kemarau, Polsek Gandusari bersama Tiga Pilar, Toga dan Tomas Salurkan Bantuan Air Bersih

Minggu, 27 Sep 2026 15:28 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 15:28 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Dalam rangka membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di tengah kondisi kekeringan, di musim kemarau yang panjang ini,…

Sumur Mengering saat Kemarau, Puluhan Desa di Trenggalek Krisis Air Bersih

Sumur Mengering saat Kemarau, Puluhan Desa di Trenggalek Krisis Air Bersih

Minggu, 27 Sep 2026 14:50 WIB

Minggu, 27 Sep 2026 14:50 WIB

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Setelah debit sumur warga terus menurun saat musim kemarau panjang, kini sedikitnya 50 desa di 12 kecamatan di Kabupaten…