Obat Mahal, di Tengah Dugaan Penyimpangan Indofarma Rp 470 M

author surabayapagi.com

- Pewarta

Rabu, 03 Jul 2024 20:36 WIB

Obat Mahal, di Tengah Dugaan Penyimpangan Indofarma Rp 470 M

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Edisi harian Surabaya, hari Rabu (3/7) memuat berita utama "Jokowi Diajak Pecahkan, Mahalnya Harga Obat".

Sumber utama Hadline harian kita dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang mengaku diajak Presiden Joko Widodo mengikuti rapat di Istana Presiden, Jakarta, terkait mahalnya harga alat kesehatan hingga obat-obatan di Tanah Air.

Baca Juga: Tergerus Kepercayaan Publik, Capim KPK Dilirik Jenderal Polri Lagi

Info harga obat-obatan dan alat kesehatan di Indonesia tergolong sangat mahal, membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) sangat kecewa.

Menkes Budi menyebut harga obat di Indonesia bisa 5 kali lebih tinggi ketimbang di negara tetangga, Malaysia.

Pertanyaannya, obat apa yang dibahas Menkes dan presiden? Obat generik atau patent.

Ini perlu diklarifikasi agar tidak menyesatkan publik.

Mengingat data yang saya peroleh dari beberapa apotik di Surabaya, obat terbanyak yang beredar di masyarakat obat generik.

Akun Farmacare.id menyebut obat yang beredar di pasaran terbagi antara obat generik dan paten. Masyarakat awam tak pernah bertanya ke dokter resep obat dari dokter obat generik atau paten?”.

Kadang masyarakat masih awam dengan perbedaan di antara keduanya. Dan memilih hanya berdasarkan pemikiran, “Oh yang lebih mahal harusnya lebih bagus”.

Akun itu menulis, obat generik adalah obat yang memiliki nama resmi yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia berdasarkan zat aktif yang terkandung di dalamnya. Pada dasarnya, obat generik dulunya juga merupakan obat paten, sebelum hak paten (royalty) dari obat tersebut habis.

Jadi, obat generik punya ekivalensi yang sama dengan obat paten – sesuai standar yang telah ditetapkan di dalam farmakope.

Jadi secara prinsip, obat generik dan paten, bekerja dengan cara yang sama di dalam tubuh manusia. Prinsipnya sama yaitu memberikan manfaat klinis yang sama.

Kini obat generik sudah tidak memiliki hak paten suatu perusahaan farmasi, sehingga boleh diproduksi secara umum dan tidak perlu membayar royalty. Makanya, harga obat generik relatif lebih murah dari obat paten.

Beda dengan obat paten. Obat jenis ini mendapat perlindungan royalty dalam proses produksi dan pemasarannya. Sehingga obat paten dijual dengan harga lebih mahal karena memerlukan penelitian serta biaya hak patennya.

Contohnya, obat Norvask® (amlodipine besylate). Ini obat antihipertensi yang ditemukan oleh Pfizer.

 

***

 

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, hingga tahun 2021, ada 241 industri pembuatan obat-obatan, 17 industri bahan baku obat-obatan, 132 industri obat-obatan tradisional, dan 18 industri ekstraksi produk alami.

Pertanyaannya, siapa yang menentukan harga obat? Regulasi di farmasi, setiap apotek punya kebijakan masing-masing dalam menentukan harga jual obat di apoteknya. Namun, disyaratkan harga jual obat tidak boleh melebihi HET (Harga Eceran Tertinggi) sesuai Permenkes No 98 Tahun 2015.

Dan HET biasanya dicantumkan oleh industri farmasi di label obat pada satuan kemasan terkecil.

Artinya, Apotek tidak boleh menjual obat dengan harga yang melebihi HET.

Hal ini juga sudah diatur dalam Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesial Nomor 98 tahun 2015 tentang tidak diperbolehkan menjual obat melebihi HET .

Laku bagaimana gaji apoteker?

Sebagian besar Apoteker Pengelola Apotek (APA) digaji bulanan yang diperoleh dari margin keuntungan obat yang berkisar antara 5- 20%.

Tak keliru, bisnis apotek jadi salah satu ide usaha menjanjikan. Ini karena tingginya permintaan obat-obatan dari masyarakat terbilang cukup besar.

Terlebih semenjak masa pandemi berlangsung, tumbuh "farmasi online" untuk mencoba peruntungan.

Mengingat dirikan Apotik, wwajib mengajukan izin usaha kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat usaha tersebut didirikan. Dan tembusannya harus disampaikan kepada Menteri, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi serta Kepala Badan POM setempat.

Pertanyaannya, dengan sudah memasyarakatnya obat generik, pakah Indonesia mengekspor obat obatan?

Baca Juga: Kader NU 'Mesra' Pada Israel, 'Abaikan' Konstitusi RI

Menurut Memperin Agus Gumiwang, nilai ekspor Indonesia untuk produk industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional pada tahun 2023 mencapai peningkatan sebesar 8,78 persen dibanding tahun 2022 pada triwulan Direktur Utama Bio Farma Honesti PT Biofarma Basyir mengaku impor bahan baku obat yang dilakukan oleh pemerintah masih tinggi.

"Kalau kita lihat ini memang impor bahan baku obat masih tinggi karena itu harga obat masih mahal," ujar Honesti dalam rapat virtual dengan DPR, Jakarta, Kamis (18/11/2020).

Kata dia, dibutuhkan kepastian dan kesiapan kebijakan pemerintah dalam memprioritaskan penggunaan obat dan bahan baku produksi dalam negeri.

Dia menambahkan saat ini alat kesehatan masih dilakukan impor. Ini untuk penanganan virus Covid-19.

Padahal, menurut Agus, sudah banyak inovasi anak negeri. Sayangnya mereka kalah bersaing dengan produk impor.

bersaing dengan impor karena memang keran impor itu masih dibuka oleh pemerintah.

Sementara, Deputi Bidang Fasilitas Riset dan Inovasi BRIN Agus Haryono mengungkapkan, bahan baku obat-obatan yang diproduksi Indonesia ternyata masih impor dari luar negeri. Akan tetapi, bahan-bahan tersebut berasal dari Indonesia yang kemudian diekspor.

"Sekarang obat kita itu 70 persen diproduksi dalam negeri, hanya bahannya diimpor dari luar, dan ironisnya bahan itu sebenarnya dari Indonesia dikirim keluar, diproses, dan kita beli lagi. Nah ini yang sekarang coba kami perbaiki agar kita bisa memproses sendiri," kata Agus dalam keterangan tertulisnya yang diterima Surabaya Pagi, Selasa (11/10/2022).

Agus, mencontohkan pada produk garam farmasi yang bahan bakunya justru bersumber dari Indonesia. Namun hingga kini, kata dia, Indonesia belum memiliki kemampuan untuk memproses garam tersebut menjadi garam farmasi.

"Kita kan punya banyak garam, tapi kita belum punya kemampuan untuk memproses garam itu menjadi level garam farmasi, nah sekarang peneliti BRIN bekerjasama dengan Kimia Farma menghasilkan garam farmasi," ujarnya.

"Demikian juga dengan obat tradisional yang bisa membantu mengurangi ketergantungan dari obat dari luar. Termasuk jejamuan," sambungnya.

Dia menuturkan, pengembangan obat-obatan menjadi salah satu fokus utama dalam sekma riset Indonesia Maju.

 

***

Baca Juga: Trump Baru Sekali, Soekarno 4 Kali Ditembak

 

Sebelum Menkes tiupkan isu obat di Indonesia lebih mahal 5x dari obat di Malaysia, Wakil Menteri BUMN lebih dulu bocorkan perusahaan BUMN Farmasi PT Indofarma Tbk (INAF), bonyok.

Menurut Wakil Menteri BUMN, PT Indofarma Tbk (INAF) dan anak perusahaan tengah tersangkut kasus indikasi penyimpangan yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp371,8 miliar.

Kasus ini mencuat setelah Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Investigatif atas Pengelolaan Keuangan atas PT Indofarma Tbk. dan anak perusahaan tersebut diserahkan oleh Wakil Ketua BPK, Hendra Susanto kepada Jaksa Agung, ST Burhanuddin di Kejaksaan Agung RI, Senin (20/5/2024).

Pertanyaan yang belum terungkap di publik apakah memanipulasi laporan keuangan sebesar itu by desain para pengurus PT Indofarma Tbk.? Kita tunggu penyidikan dari Kejaksaan Agung.

Ini penting, karena ruang lingkup kegiatan Perusahaan BUMN ini bergerak dalam bidangFarmasi, diagnostik, alat kesehatan, serta industri produk makanan .

PT.Indofarma Tbk, diduga mempunyai masalah keuangan yang peningkatan penggunaan liabilitas yang menyebabkan terjadi peningkatan beban keuangan sehingga PT.Indofarma Tbk yang merugikan keuangan negara.

Kini kondisi Indofarma saat ini sangat berat. Setidaknya permasalahan di perusahaan pelat merah ini mencakup dua aspek.

Pertama, dugaan fraud berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang akan dibawa ke penegak hukum. Kedua, mengenai penyelamatan perusahaan.

Temuan BPKP, seharusnya, Indofarma Global Medika menyetorkan dana Rp470 miliar ke Indofarma. Namun, dana tersebut malah tak kunjung diberikan.

Padahal ada berbagai lini produk yang dihasilkan oleh Indofarma, mulai dari Obat Generik Bermerek (OGB), Over The Counter (OTC) & Makanan, Obat Keras Bermerek (Ethical Branded), Alat Kesehatan, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Non-Alat Kesehatan.

Akal sehat saya berbisik tiupan Menkes soal harga obat di Indonesia mahal di banding harga obat di Malaysia, something.

Menggunakan data fraud Indofarma, akal sehat saya menemukan sebuah misteri yang mesti dibuka oleh Menkes yang dulu pejabat Bank dan Wakil BUMN Erick Thohir.

Kita berharap Kejagung mengungkap kasus ini secara gamblang. Juga berharap pemerintahan Prabowo-Gibran, membuat policy agar kita tidak ada ketergantungan Indonesia akan bahan baku obat impor. Minimal dapat diminimalisir. Apotik dikontrol melaksanakan HET. BUMN jangan bikin pabrik farmasi. Serahkan ke mekanisme pasar baik produk obat generik dan patent!. Ingat kasus fraud Indofarma. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU