"Dosa" Sekjen PDIP Hasto, Diincar dari Harun Masiku

author surabayapagi.com

- Pewarta

Rabu, 12 Jun 2024 20:10 WIB

"Dosa" Sekjen PDIP Hasto, Diincar dari Harun Masiku

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Dalam minggu ini, saya catat ada sedikitnya lima peristiwa yang terkait Sekjen PDIP Hasto. Pertama, penyitaan ponsel dan tas secara tiba-tiba saat Penyidik KPK memeriksa Hasto sebagai saksi kasus dugaan suap yang melibatkan Harun Masiku. Ponsel dan tas itu dibawa stafnya Hasto Kristiyanto, Kusnadi.

Kedua, ia diperiksa penyidik KPK 1,5 jam tapi dibiarkan di ruangan berAC 4 jam, sampai kedinginan. Ketiga, ada pernyataan dari Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata yang menargetkan dalam satu minggu ke depan sudah bisa menangkap buronan sekaligus Politikus PDI Perjuangan atau PDIP Harun Masiku. Keempat beredar salinan putusan Pengadilan Tipikor, yang Sebut Nama Hasto Kristiyanto. Kelima, sebelum ada kejadian di KPK, Hasto Kristiyanto, dipanggil Polda Metro Jaya, terkait suatu wawancara di sebuah TV swasta nasional.

Baca Juga: Makan Bergizi Gratis Rp 7.500, Saingan Nasi Kucing

Apa lima peristiwa ini saling terkait? Akal sehat saya berbisik ada dugaan campur tangan suatu "kekuasaan". Lawyer Hasto yang juga politisi PDIP, Ronny Talapessy, sudah menciumnya.

 

***

 

Apa pemeriksaan terhadap Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto ada muatan politisnya?.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata, menepisnya.

Sebagai wartawan hukum dan politik, saya tidak 100% percaya dengan penjelasan Alexander Marwata. Dari beberapa kasus hukum yang melibatkan seorang tokoh, acapkali ada sentuhan invisible hand. Contoh kasus mantan Ketua KPK Firli Bahuri, yang awal awal penanganannya kayak bom, tiba tiba meredup tak jelas juntrungannya.

Apa Hasto, punya kaitan dengan Harun Masiku, tersangka kasus dugaan suap terkait penetapan anggota DPR periode 2019-2024.

Bisa jadi Hasto, dibidik tahu persembunyian Harun, tapi tidak melaporkan ke KPK.

Harun Masiku, telah lebih dari empat tahun masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO), yakni sejak awal 2020 lalu.

Catatan jurnalistik saya, menulis kasus yang menjerat Harun Masiku ini berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK terkait suap untuk PAW Anggota DPR 2019-2024.

KPK kemudian menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus ini, termasuk mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan dan Harun Masiku.

Wahyu Setiawan telah diadili dan dinyatakan bersalah menerima suap. Wahyu dinyatakan menerima suap SGD 19 ribu dan SGD 38.350 atau setara Rp 600 juta bersama Agustiani Tio Fridelina. Suap itu diberikan lewat seorang bernama Saeful Bahri agar Wahyu dapat mengupayakan KPU menyetujui permohonan PAN anggota DPR RI Dapil Sumatera Selatan I kepada Harun Masiku.

Wahyu telah dijatuhi hukuman 7 tahun penjara pada tahun 2020 dan sudah bebas bersyarat sejak tahun 2023. Namun, Harun Masiku justru masih menjadi buron selama kurang lebih 4 tahun.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata berjanji minggu ke depan sudah bisa menangkap buronan sekaligus Politikus PDI Perjuangan atau PDIP Harun Masiku.

Menurut dia, penyidik sudah mendeteksi lokasi keberadaan Harun Masiku.

 

***

 

Dalam laporan persidangan, terungkap bahwa Harun disetujui oleh rapat pleno PDIP untuk menggantikan posisi anggota DPR yang meninggal dunia. Tapi upaya ini terbentur aturan yang ada. Di sinilah diduga ada upaya menyogok komisioner KPU.

Awal 2020, KPK menetapkan empat tersangka, termasuk Harun, namun dia kabur dan buron sampai sekarang.

Sejak awal sudah ada kecurigaan bahwa Harun sengaja dilindungi dan diamankan oleh pihak tertentu. Siapa gerangan pihak tertentu itu? Apa Hasto Kristiyanto?

 

***

Baca Juga: Mengerikan! Amburadulnya Cara Kerja Hakim MA, Dibeber Disidang

 

Penyitaan HP dan tas Hasto dari Kusnadi, oleh penyidik KPK menurut analisis hukum saya, bagian dari pembuktian alat bukti petunjuk.

Di dalam KUHAP, terdapat aspek penting yang dibutuhkan untuk mengukur dan menilai suatu kebenaran dari alat bukti yang sah. Jenis-jenis alat bukti yang sah tersebut tertuang di dalam KUHAP ada petunjuk. Alat bukti petunjuk dijelaskan dalam Pasal 184 ayat (1) huruf d KUHAP.

Petunjuk yang dimaksud bisa diperoleh dari keterangan saksi, surat, dan keterangan terdakwa.

Dan penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim.

Praktik yang saya ketahui, sebuah alat bukti petunjuk bisa digunakan ketika hakim yang mengadili perkara mencermati adanya alat bukti petunjuk dengan hati nuraninya. Praktis penggunaan alat bukti petunjuk mesti disesuaikan dengan Pasal 188 ayat (3) KUHAP.

Artinya, sebuah alat bukti petunjuk bisa digunakan ketika hakim yang mengadili perkara mencermati adanya alat bukti petunjuk dengan hati nurani serta menghendaki penggunaan alat bukti petunjuk tersebut yang sesuai dengan Pasal 188 ayat (3) KUHAP.

Praktik dalam perkara pidana, nilai kekuatan pembuktian alat bukti petunjuk adalah adanya perbuatan, adanya persesuaian, adanya persesuaian yang menandakan adanya dua hal kejadian atau keadaan. Dan ini hanya dapat dibentuk dengan menggunakan keterangan saksi, surat, dan keterangan terdakwa.

Secara hukum, alat bukti petunjuk mesti dibentuk melalui minimal dari dua alat bukti yang telah digunakan oleh penyidik. Adakah suara atau narasi WA percakapan antara buron Harun Masiku dengan Hasto, menggunakan nomor HP Sekjen PDIP itu. Pembuktian materialnya domain penyidik KPK. Penasihat hukum Hasto, bisa mempersoalkan di tingkat praperadilan dan pledoinya.

 

***

 

Minggu ini, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto telah diperiksa di Gedung KPK sebagai saksi dalam kasus suap pergantian antarwaktu dengan tersangka Harun Masiku. Dengan bukti petunjuk dari HP, bisa jadi Hasto dikenakan pasal ringan "menyembunyikan" atau tidak melapor buronan Harun ke KPK.

Baca Juga: Bad News or Good News, Erick Thohir Minta Rp44,24 triliun

Akal sehat saya menebak pengakuan Hasto mengaku kedinginan saat diperiksa penyidik KPK adalah taktik penyidikan.

Apalagi bagi Hasto, pemeriksaan kali ini bukan kali pertama dia diperiksa penyidik KPK terkait perkara yang melibatkan Harun Masiku. Hasto sebelumnya telah diperiksa KPK pada Januari dan Februari 2020..

Hasto diperiksa KPK kurang lebih selama empat jam. Hasto selesai diperiksa pada pukul 14.29 WIB. Hasto mengatakan pemeriksaannya berlangsung di ruang dingin. Dia sempat berhadapan langsung dengan penyidik selama 1,5 jam.

"Saya di dalam ruangan yang sangat dingin hampir sekitar 4 jam dan bersama penyidik face to face paling lama 1,5 jam sisanya ditinggal kedinginan," ujar Hasto.

Pernyataan Hasto diluruskan KPK. "Terkait pernyataan saksi yang dibiarkan kedinginan di ruangan pemeriksaan, kami luruskan saksi H pada saat itu diberikan kesempatan untuk membaca BAP dan mengoreksi BAP yang disodorkan oleh penyidik," kata Tim Jubir KPK, Budi Prasetyo, di gedung KPK, kemarin.

Budi mengatakan KPK tidak sengaja meninggalkan Hasto sendirian di ruang pemeriksaan. Penyidik, kata Budi, juga kembali ke ruang pemeriksaan setelah Hasto selesai membaca hasil BAP-nya.

"Penyidik memberikan kesempatan dan kebebasan saksi H untuk membaca BAP tersebut. Oleh karenanya, penyidik meninggalkan ruangan dan kemudian kembali lagi," jelas Budi.

Hasto juga ditanya soal saksi bernama Simon Petrus. Simon merupakan seorang advokat yang pada akhir Mei 2024 pernah diperiksa KPK terkait kasus Harun Masiku.

"Nanti ke penyidik, tanya ke penyidik," jawab Hasto.

Bisa jadi urusan Hasto ada kemasan isu politik yang seksi menyantol dari buronan Harun Masiku.

Apa penanganan Hasto, terkait Harun Masiku, bisa seperti skandal Bank Century yang merugikan negara Rp6,7 triliun?

Skandal ini hingga kini tak jelas ujung pangkalnya. Aktor utama sampai detik ini tak terjamah karena memiliki akses kekuasaan. ? Akal sehat saya menyerap, Hasto saat pilpres 2024 terlalu kritis terhadap kekuasaan yaitu saat partainya tak berkuasa lagi.

Apalagi kini juga ramai isu pembungkaman kebebasan berekspresi. Bisakah kasus Harun Masiku, menjadi propaganda politik menjatuhkan kredibilitas dan integritas Sekjen PDIP yang amat kritis itu? Wait and see ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU