Home / Opini : Kasih Karunia

Agama Minoritas, Harus Lebih Toleran

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 07 Jul 2024 20:59 WIB

Agama Minoritas, Harus Lebih Toleran

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Sebagai pemeluk agama Kristen, saya mengalami hidup sebagai minoritas di Indonesia . Ini memang tidak mudah. Tidak banyak orang yang mampu merasakan ketidakadilan yang kita terima.

Para pimpinan dan atasan juga tak ambil pusing jika ada hak yang tidak kita terima.

Baca Juga: Puji Tuhan

Padahal, agama Kristen adalah agama terbesar kedua di Indonesia. Dan umatnya hanya menjadi minoritas di Indonesia. Sekitar 10% dari populasi Indonesia terdaftar sebagai umat Kristen. Ini sebuah persentase secara absolut mencakup kira-kira 23,5 juta orang.

Bagi masyarakat Indonesia, istilah Kristen atau Kekristenan biasanya menunjuk pada agama Kristen Protestan.

Jujur, saya pernah mengalami sendiri pahitnya menjadi minoritas di sekolah. Ini membuat saya jadi lebih peka. Saya jadi bisa membayangkan betapa tertekannya siswa-siswi saya yang beragama Kristen di sekolah yang mayoritas guru dan muridnya beragama Islam.

Sehari sebelum Natal, mereka harus tetap masuk untuk mengikuti class meet yang diselenggarakan sekolah. Mereka juga tak mendapat guru agama. Kadang, mereka juga tak punya kesempatan untuk mengajukan diri sebagai ketua kelas apalagi ketua OSIS.

Baca Juga: SYL Ngaku Miskin, Patut Diampuni

Saya amati, dalam lingkup masyarakat yang lebih besar, kesenjangan antara pemeluk agama mayoritas dan minoritas tampak semakin nyata. Seorang kawan saya yang beragama Islam, kebetulan serumah dengan ayah ibunya yang beragama Kristen.

Waktu itu, ibu dan komunitasnya hendak mendirikan gereja di desa tempat mereka tinggal.

Mereka ingin mendirikan gereja di tanah warisan salah satu nenek moyangnya. Secara hukum tentu saja mereka berhak melakukan hal tersebut. Karena, tanah itu milik mereka, dan mereka berhak mempergunakannya sebaik mungkin.

Baca Juga: Abraham, Bapa Orang Beriman

Pada akhirnya, gereja gagal mereka dirikan. Komunitas Kristen itu akhirnya hanya berhasil mendirikan rumah yang difungsikan sebagai tempat berkumpul dan beribadah saja.

Bagi saya yang generasi milineal, bersikap toleran kepada pemeluk agama lain tidak akan mengurangi kadar keimanan kita. Justru hal itu akan memperkuat rasa persaudaraan antar masyarakat kita. Puji Tuhan. (Maria Sari)

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU