Home / Opini : Opini Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Menyoroti Dinamika Kepemimpinan Kepala Desa Bligo

author surabayapagi.com

- Pewarta

Selasa, 09 Jul 2024 12:58 WIB

Menyoroti Dinamika Kepemimpinan Kepala Desa Bligo

i

Atam Yudha Suwito, Mahasiswa Prodi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. SP/Hikmah

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Di tengah ramainya pemberitaan nasional, sering kali kita melupakan peran vital kepemimpinan di tingkat desa. Padahal, desa adalah pondasi pembangunan bangsa, tempat di mana kebijakan negara bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. 

Pemerintah Desa Bligo di bawah kepemimpinan Bapak H. Adi Suwardoyo, SE memberikan gambaran menarik tentang tantangan dan peluang dalam membangun desa di era otonomi daerah.

Baca Juga: SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo Gelar Forum Ta'aruf dan Orientasi Siswa

Selama masa jabatannya, Bapak H. Adi Suwardoyo, SE telah menunjukkan komitmen yang patut diapresiasi dalam upaya memajukan desa. Program-program unggulan yang dijalankan mencerminkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan masyarakat desa. 

Perbaikan infrastruktur jalan, misalnya, bukan sekadar proyek fisik, melainkan pembuka akses ekonomi dan sosial bagi warga. Jalan yang baik memudahkan petani mengangkut hasil panen, anak-anak berangkat sekolah, dan warga mengakses layanan kesehatan. 

Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan langkah strategis menuju kemandirian ekonomi desa. BUMDes tidak hanya berpotensi menjadi sumber pendapatan asli desa, tetapi juga wahana pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui BUMDes, potensi lokal dapat dioptimalkan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan warga.

Pelatihan keterampilan bagi pemuda desa menunjukkan visi jangka panjang dalam mempersiapkan generasi penerus. Di era persaingan global, desa tidak boleh tertinggal dalam pengembangan sumber daya manusia. Pemuda yang terampil adalah aset berharga, baik untuk memajukan desa maupun bersaing di kancah yang lebih luas.

Peningkatan layanan Posyandu Balita mencerminkan kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak, aspek fundamental dalam pembangunan manusia. Posyandu yang berfungsi baik dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi, meningkatkan status gizi ibu dan anak. 

Serta pencegahan stunting dan penanganan stunting yang baik dan benar. Posyandu Lansia juga sangat didukung dengan program-program vital, mulai dari pengecekan kesehatan, pemberian makanan tambahan makanan dan pemberian obat-obatan. Barusan juga telah dibentuk Posyandu Remaja guna meningkatkan kesehatan bagi para remaja. 

Namun, seperti pepatah "tak ada gading yang tak retak", kepemimpinan Bapak H. Adi Suwardoyo, SE juga menghadapi beberapa tantangan yang perlu menjadi catatan untuk perbaikan. Isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, menuntut perhatian serius. Di tengah ancaman krisis ekologi global, desa harus mampu menjadi pionir dalam praktik-praktik ramah lingkungan. 

Baca Juga: Jembatan Kedungpeluk Ambrol, Pendistribusian Hasil Tambak ‘Mocar-macir’

Pengelolaan sampah yang baik bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga peluang ekonomi melalui daur ulang dan pengomposan. Ini adalah tantangan kolektif yang membutuhkan kepemimpinan visioner dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.

Transparansi dalam pengelolaan anggaran desa sudah ada keterbukaan. Di era keterbukaan informasi dan meningkatnya kesadaran publik akan good governance, akuntabilitas finansial bukan lagi sekadar tuntutan administratif, melainkan prasyarat untuk membangun kepercayaan publik. 

Ke depan, diharapkan kepemimpinan desa dapat lebih responsif terhadap dinamika perubahan. Pelibatan aktif generasi muda dalam pembangunan desa krusial untuk menjamin keberlanjutan program dan membuka ruang bagi inovasi. Pemuda tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi subjek yang aktif dalam merancang masa depan desa.

Evaluasi kritis terhadap kepemimpinan desa sejatinya adalah bentuk kepedulian dan dukungan. Tujuannya bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan memberikan masukan konstruktif demi perbaikan berkelanjutan. Bagaimanapun, desa yang kuat, mandiri, dan berdaya saing adalah kunci bagi Indonesia yang maju dan sejahtera.

Baca Juga: Sambut Harkamtibmas, Polresta Sidoarjo Gelar 'Sahabat Curhat' Aman dan Kondusif

Permasalahan Desa Bligo memberikan pelajaran berharga bahwa kepemimpinan desa adalah seni menyeimbangkan antara visi jangka panjang dan kebutuhan jangka pendek, antara pembangunan fisik dan pengembangan kapasitas manusia, antara pelestarian nilai tradisional dan adaptasi terhadap modernitas. Ini adalah tantangan berat yang membutuhkan tidak hanya kecakapan manajerial, tetapi juga kearifan lokal dan empati terhadap aspirasi masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan desa tidak hanya terletak di pundak kepala desa. Ia adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Mari kita dukung dan awasi jalannya pemerintahan desa, berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan, dan bersama-sama mewujudkan cita-cita desa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Sebab, dari desalah Indonesia membangun kekuatannya. atam/Man

 

*) Atam Yudha Suwito, Penulis adalah Mahasiswa Prodi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 

Editor : Desy Ayu

BERITA TERBARU