Menteri Jangan Pakai Patwal

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

Empat Menteri Bereaksi Didorong naik Transportasi Publik

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Saat ini muncul dorongan agar menteri dan pejabat pemerintahan tak melulu pakai kendaraan pelat khusus sampai dikawal patroli (Patwal). Pejabat disarankan beralih naik transportasi umum. Saran itu disampaikan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat. Disampaikan  bahwa patwal sebagai fasilitas semestinya hanya diberikan kepada Presiden dan Wakil Presiden.

"Perhitungkan, sekarang setiap hari lebih dari 100-an kendaraan harus dikawal polisi menuju tempat beraktivitas, jalan-jalan di Jakarta akan semakin macet dan membikin pengguna jalan menjadi stress dengan bunyi-bunyian sirene kendaraan patwal. Jalan yang dibangun melalui pungutan pajak digunakan oleh masyarakat umum," ujar Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah MTI Pusat Djoko Setijowarno dalam keterangannya, Senin.

"Tentunya semua masyarakat berhak menikmatinya, kecuali ada kekhususan bagi kendaraan tertentu seusai Pasal 134 Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan," ingat Djoko.

 

Pejabat Beri Contoh Masyarakat

Djoko berharap sebagai pejabat semestinya bisa menjadi contoh masyarakat untuk penggunaan transportasi publik. Khususnya bagi pejabat yang sering melintas di Jakarta, apakah memiliki kemauan untuk ikut berdesak-desakan bersama masyarakat biasa?

"Artinya, ketersediaan layanan angkutan umum di Jakarta sudah sedemikian merata tidak jauh berbeda dengan kota dunia lainnya yang masyarakat dan pejabat sudah terbiasa menggunakan angkutan umum. Angkutan umum yang tersedia di Jakarta sudah beragam, seperti ojek, bajaj, mikrolet, bus, KRL, LRT hingga MRT," jelas dia.

"Untuk kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia dikhususkan cukup bagi Presiden dan Wakil Presiden," sambung Djoko.

 

Minimalisir Penggunaan Patwal

Ketum MTI, Tory Damantoro, menilai sudah semestinya pejabat meminimalisir penggunaan patwal di jalan raya.

"Filosofinya hidup di kota itu adalah hidup bersama, karena orangnya banyak. Kalau semuanya meminta diprioritaskan akan terjadi kecemburuan sosial," kata Tory beberapa waktu yang lalu.

MTI sepakat agar patwal hanya dibatasi untuk pejabat seperti Presiden dan Wakil Presiden.

 

Muhadjir Effendy Naik MRT

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, kebiasaan berjalan kaki ke kantor.

Dia mengungkapkan, kebiasaan ini sudah dijalaninya sejak zaman masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

Hal itu diungkapkannya saat menjadi narasumber dalam program "Diari: Dialog Bersama Marti", yang diadakan oleh MRT Jakarta secara daring, pada Kamis lalu.

"Sebetulnya hobi saya adalah jalan kaki. Semula hobi saya berlari. Kemudian mengikuti anjuran dokter sekarang baiknya perbanyak jalan kaki bukan lari karena usianya sudah kepala enam (60 tahun -red). Kemudian dulu waktu saya masih Mendikbud, dari rumah dinas ke kantor relatif dekat. Kira-kira dua kilometer," ujarnya.

 Hobi tersebut pun masih dibawanya saat dia menjabat sebagai Menko PMK. Tetapi dia tidak sepenuhnya berjalan kaki, karena jarak kantor saat ini lebih jauh, Muhadjir memadukannya dengan menumpangi transportasi umum yakni Moda Raya Terpadu atau MRT menuju kantornya di Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 3, Gambir, Jakarta Pusat.

 

Nusron Wahid, Pilih Motor

Sementara Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, merespons munculnya permintaan agar pejabat negara menggunakan transportasi umum. Nusron menilai permintaan ini tidak bersifat substansif.

"Soal naik apa itu, bagi saya tidak substansi. Itu hanya karikatif (sukarela) soal naik angkutan umum. Bisa jadi dalam situasi kondisi terdesak dan cepat, naik kendaraan umum bisa lebih mahal daripada naik mobil dan sepeda motor. Ya kan?," terang Nusron kepada wartawan di The Highland Park Resort, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/2/2025).

Nusron menyebut kalau permintaan ini muncul untuk menghilangkan pengawal bagi pejabat, maka dia lebih memilih menggunakan sepeda motor.

 

Bahlil Minta tak Diajari

Berbeda dengan Menteri ESDM yang juga Ketum Golkar, Bahlil Lahadalia.  Bahlil, mengatakan dia tak perlu diajari untuk naik angkutan umum karena pernah menjadi sopir angkot.

"Yang menyampaikan ide itu siapa? Tolong kasih tahu kepada pengamat itu, kalau menteri, saya Bahlil, jangan ajari saya naik angkutan umum karena saya kondektur angkot 3 tahun di terminal, jadi sopir angkot 2 tahun waktu sekolah SMA. Kuliah juga bawa angkot," kata Bahlil di The Highland Park Resort, Bogor, Jawa Barat, Minggu (2/2).

Bahlil mengatakan dia sudah tahu cara naik angkot. Dia meminta tak diajari soal naik angkutan umum.

"Jadi nanti gue jelasin bagaimana cara naik angkot yang benar. Bagi saya, jangan diajarin dengan itu. Karena memang itu ilmu saya," jelas Bahlil.

Dia mengaku tak masalah jika diminta untuk naik angkutan umum.

 

Meutya Hafid, akan Bersepeda

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, tertarik menggunakan sepeda untuk berangkat ke kantornya.

"Tertarik naik sepeda sesekali. Semoga masih kuat," kata Menkomdigi, Meutya Hafid, kepada wartawan, Minggu (2/2/2025).

Meutya mengatakan menuju kantor Komdigi dari kediamannya sejauh 15 Km. Meutya beberapa waktu lalu terbiasa bersepeda road bike 40-50 Km, dalam sebulan sekali dapat bersepeda sejauh 100 Km.

"Nanti kita coba dulu ya, sudah lama nggak sepedaan semoga masih kuat he-he," ujarnya.

Selain itu, Meutya bercerita saat rutin bersepeda kerap gowes bersama Gubernur terpilih Jakarta Pramono Anung, seminggu 3 kali. Meutya berencana kembali menggunakan sepeda ke kantor sesekali. n jk, erc, rmc

Berita Terbaru

Dinas Perkim Kabupaten Kediri Jelaskan Status Konflik Fasum Fasos Perum Griya Keraton Sambirejo

Dinas Perkim Kabupaten Kediri Jelaskan Status Konflik Fasum Fasos Perum Griya Keraton Sambirejo

Kamis, 05 Feb 2026 21:35 WIB

Kamis, 05 Feb 2026 21:35 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Kediri - Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Kediri memberikan penjelasan berkaitan dengan masalah fasilitas umum…

Dugaan Penjualan Aset Hibah Gedung Sekolah, DPMD Turun Tangan

Dugaan Penjualan Aset Hibah Gedung Sekolah, DPMD Turun Tangan

Kamis, 05 Feb 2026 20:28 WIB

Kamis, 05 Feb 2026 20:28 WIB

SURABAYA PAGI, ‎Madiun — Dugaan penyelewengan aset hibah terus berlanjut, bangunan SD Negeri Tiron 3 yang merupakan aset hibah pemerintah Kabupaten Madiun dib…

Aniaya Istri hingga Tewas, Suami di Blitar Jadi Tersangka

Aniaya Istri hingga Tewas, Suami di Blitar Jadi Tersangka

Kamis, 05 Feb 2026 17:48 WIB

Kamis, 05 Feb 2026 17:48 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Blitar - Setelah dilakukan pemeriksaan P warga Desa mBoro Kec.Selorerjo Kabupaten Blitar, yang telah membunuh SN istrinya, dengan beberapa…

Pohon Pisang Jadi "Monumen Kekecewaan" Jalan Rusak di Madiun Viral

Pohon Pisang Jadi "Monumen Kekecewaan" Jalan Rusak di Madiun Viral

Kamis, 05 Feb 2026 16:40 WIB

Kamis, 05 Feb 2026 16:40 WIB

SURABAYA PAGI, Madiun- ‎Sebuah foto jalan berlubang yang ditanami pohon pisang di RT 3 Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, viral di media s…

Jabat Ketum IKBA UNTAG Dorong Kaum Intelektual Bangun Negeri Lebih Baik

Jabat Ketum IKBA UNTAG Dorong Kaum Intelektual Bangun Negeri Lebih Baik

Kamis, 05 Feb 2026 15:33 WIB

Kamis, 05 Feb 2026 15:33 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Sidoarjo - Anggota Komisi B DPRD Sidoarjo Kusumo Adi Nugroho, S.E, yang juga politisi PDI Perjuangan ini, berjibaku menggerakkan kaum…

Gelapkan Uang Ratusan Juta, Admin Toko Keramik Mojokerto Terancam 2 tahun Kurungan

Gelapkan Uang Ratusan Juta, Admin Toko Keramik Mojokerto Terancam 2 tahun Kurungan

Kamis, 05 Feb 2026 15:15 WIB

Kamis, 05 Feb 2026 15:15 WIB

SURABAYA PAGI.COM, Mojokerto- Sidang putusan kasus dugaan penggelapan dengan terdakwa Laili Dwi Anggraini Binti M. Amanu di Pengadilan Negeri Mojokerto ditunda…