KSPI dan Partai Buruh, Rabu Pagi Ini (4/3/2025) Bakal Mengerahkan Ribuan Buruh untuk Berdemonstrasi Membela Buruh Sritex di Istana
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - KSPI dan Partai Buruh bakal mengerahkan ribuan buruh untuk berdemonstrasi membela buruh Sritex. Mereka menuntut kejelasan nasib para pekerja Sritex yang terimbas penutupan pabrik.
Unjuk rasa akan dilaksanakan di Istana Kepresidenan Jakarta dan Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Rabu hari ini (5/3). Pada saat bersamaan, demonstrasi juga digelar di Semarang, Jawa Tengah.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh Said Iqbal menyampaikan enam tuntutan demonstrasi itu. Pertama, bongkar total penyebab penutupan pabrik dan PHK massal buruh Sritex.
Kedua, selamatkan industri nasional dan sektor riil di tengah ancaman badai PHK. Tuntutan ketiga hapus sistem outsourcing yang semakin masif.
Para buruh juga menuntut pembayaran THR tahun ini. Mereka mendesak tak ada pemutusan kontrak dan PHK buruh sebagai cara menghindari pembayaran THR.
Tuntutan kelima pengadilan bagi para koruptor. Keenam, cabut Permendag Nomor 8 Tahun 2023 yang membuka pintu impor secara ugal-ugalan dan menjadi penyebab PHK besar-besaran di sektor tekstil serta impor truk.
Sritex Berutang Rp29,8 triliun
Pabrik tekstil Sritex tutup 1 Maret 2025. Sekitar 10 ribu orang pegawai mengalami PHK.
Penutupan pabrik menjadi buntut dari putusan Pengadilan Niaga Semarang yang menyatakan Sritex pailit melalui putusan Nomor No. 12/ Pdt.Sus-PKPU/2021.PN.Niaga.Smg tanggal 25 Januari 2022.
Mahkamah Agung menegaskan putusan itu lewat penolakan kasasi, 19 Desember 2024. Tim kurator kepailitan Sritex telah menyatakan perusahaan tekstil itu punya utang Rp29,8 triliun.
Dikutip dari Kompas.com, perusahaan harus menanggung utang sebesar 1,597 miliar dollar AS atau dirupiahkan setara Rp 25 triliun (kurs Rp 15.600).
Jumlah utang tersebut lebih besar dari aset yang dimiliki Sritex, yakni hanya 617,33 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,65 triliun.
Dengan kata lain, jumlah aset Sritex tak ada setengah dari jumlah utang perusahaan.
Kondisi ini semakin diperparah dengan kinerja penjualannya yang merosot.
Merujuk pada Laporan Keuangan Konsolidasi Interim 30 Juni 2024 yang dirilis di situs resmi perseroan, operasional Sritex pun boncos, karena beban lebih besar dibandingkan dengan total penjualannya.
Dalam laporan keuangan terbarunya, perusahaan hanya bisa mencatatkan penjualan sebesar 131,73 juta dollar AS pada semester I 2024, turun dibandingkan periode yang sama pada 2023 yakni 166,9 juta dollar AS.
Di sisi lain, beban penjualannya lebih besar yakni 150,24 juta dollar AS. Sepanjang paruh pertama 2024, Sritex praktis mencatat rugi sebesar 25,73 juta dollar AS atau setara dengan Rp 402,66 miliar.
Kerugian yang diderita Sritex bukan terjadi pada tahun 2024 saja.
Pada tahun 2023, Sritex juga menderita kerugian sangat besar yaitu 174,84 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,73 triliun.
Bahkan pada masa pandemi Covid-19, perusahaan mengalami kerugian sangat besar.
Mengutip Laporan Tahunan Sritex pada 2023, sepanjang tahun 2022 perusahaan menanggung rugi sebesar 391,56 juta dollar AS atau Rp 6,12 triliun.
Kerugian yang diderita Sritex pada 2022 bahkan jauh lebih besar yakni 1,07 miliar dollar AS atau nilainya setara dengan Rp 16,81 triliun apabila menggunakan nilai kurs dollar saat ini. Berikutnya pada 2021 Sritex mencatat kerugian 1,06 miliar dollar AS.
Pada tahun 2023, Sritex juga menderita kerugian sangat besar yaitu 174,84 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,73 triliun.
Bahkan pada masa pandemi Covid-19, perusahaan mengalami kerugian sangat besar.
Mengutip Laporan Tahunan Sritex pada 2023, sepanjang tahun 2022 perusahaan menanggung rugi sebesar 391,56 juta dollar AS atau Rp 6,12 triliun.
Kerugian yang diderita Sritex pada 2022 bahkan jauh lebih besar yakni 1,07 miliar dollar AS atau nilainya setara dengan Rp 16,81 triliun apabila menggunakan nilai kurs dollar saat ini. Berikutnya pada 2021 Sritex mencatat kerugian 1,06 miliar dollar AS.
Pada tahun 2020, di mana Sritex sempat mencatatkan laba sebesar 85,33 juta dollar AS. Masih mengutip laporan tahunan Sritex, aset perusahaan juga terus merosot dari tahun demi tahun.
Per Juni 2024, nilai aset perusahaan tercatat 617 juta dollar AS. Nilai aset Sritex ini mengalami penurunan dibanding pada 2023 yakni 648 juta dollar AS.
Pada 2022, aset Sritex tercatat lebih besar yakni 764,55 juta dollar AS.
Sementara pada 2021, aset Sritex masih berada di atas 1 miliar dollar AS, tepatnya 1,23 miliar dollar AS.
Aset pada 2021 ini juga menurun dibanding aset Sritex pada 2020 yang tercatat 1,85 miliar dollar AS.
Pejabat Kementerian Terlibat Penjualan
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal curiga ada pejabat kementerian terlibat rencana beli PT Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex dengan harga murah.
Iqbal meminta semua fakta di balik penutupan pabrik Sritex dibuka. Dia curiga ada permainan oknum pejabat di balik penutupan tersebut.
Kecurigaan ia dasarkan pada mudahnya Sritex 'bubar'.
"Siapa yang sedang bermain? Siapa yang ingin membeli PT Sritex di bawah harga aset perusahaan melalui kurator?" kata Iqbal dalam keterangan tertulis, Senin (3/3).
Iqbal mengatakan penutupan Sritex berdampak besar pada kehidupan rakyat kecil. Maklum, imbas penutupan, puluhan ribu buruh Sritex menjadi korban PHK.
PHK pun dilakukan tanpa kejelasan pesangon dan THR tahun ini.
Dia pun curiga ada campur tangan oknum pejabat kementerian di balik PHK massal Sritex. Dia curiga oknum itu memuluskan PHK puluhan ribu orang buruh tanpa mengambil langkah-langkah penyelamatan.
"Apakah Bapak Presiden Prabowo dilaporkan secara rutin dan berkala terkait penyelamatan buruh Sritex serta supplier yang jumlahnya mencapai ratusan ribu buruh yang terancam ter-PHK?" kata Iqbal.
"Apa langkah Menko Perekonomian, Menaker dan Wamenaker, Menteri Investasi, serta Menteri Perindustrian? Di mana mereka saat sektor riil membutuhkan penyelamatan?" ucapnya. n erc/kmp/jk/rmc
Editor : Moch Ilham