SURABAYAPAGI.com, Madiun - Dalam rangka mengantisipasi adanya potensi gangguan akibat kemarau basah, Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun meminta petani tembakau di wilayah setempat untuk tidak tergesa-gesa dan lebih baik menunda masa tanam komoditas tersebut.
Pasalnya, jika pada musim tersebut ditanami komoditas tembakau, maka hujan yang masing sering terjadi meski seharusnya sudah masuk musim kemarau tersebut dapat mengakibatkan gagal panen hingga kerugian.
"Kami sarankan petani tembakau untuk menunda dulu. Kalau dipaksakan tanam saat ini, risikonya tinggi. Tanaman bisa mudah keriting, busuk dan tidak berkembang, hingga membusuk dan gagal panen," jelas Kepala Dispertan Kabupaten Madiun Sumanto, Rabu (11/06/2025).
Hal itu dikarenakan, tanaman tembakau untuk tumbuh maksimal membutuhkan banyak sinar matahari. Kualitas tanaman tembakau sangat ditentukan oleh tingkat kelembapan. Tanaman yang terlalu sering terkena air hujan rentan rusak dan gagal panen.
Lebih lanjut, Dispertan setempat juga terus memantau perkembangan cuaca dan akan memberikan pendampingan teknis bagi petani agar masa tanam tembakau tidak berujung kerugian. Untuk itu, ia mengimbau petani tembakau untuk bersabar sambil terus memantau perkembangan iklim melalui kanal resmi, seperti BMKG sebagai panduan.
Sesuai data, total lahan tanam tembakau di Kabupaten Madiun per 2024 mencapai 280 hektare. Adapun area tanam tembakau yang mencapai 280 hektare tersebut tersebar di sejumlah daerah, di antaranya di Kecamatan Pilangkenceng, Balerejo, Saradan, Gemarang, Kare, dan Dagangan.
Sementara itu, untuk luas tanam tembakau itu terus bertambah sejak 2021 yang awalnya hanya 65 hektare. Kemudian luas tanam tembakau di 2022 terus naik hingga mencapai 120 hektare dan tahun 2023 seluas 160 hektare.
Peningkatan luas lahan tembakau tersebut, lanjut dia, karena beberapa faktor, di antaranya kemudahan pemasaran dan keuntungan yang menjanjikan sehingga minat petani untuk menanam juga tinggi. md-01/dsy
Editor : Desy Ayu