SURABAYAPAGI.com - Benarkah “rakyat sedang marah?”. Tentu cara menjawabnya dengan membuka peta peristiwa? Ternyata demo akhir Agustus 2025 ini tidak hanya terjadi di Jakarta saja.
Kota-kota di Indonesia lain juga dilanda demo besar sepanjang Agustus 2025:
Ada Solo, Pati, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, Batam, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Banda Aceh, Gorontalo, dan Bandar Lampung.
Jelas ini bukan demo lokal. Ini koreografi nasional. Dari Sabang sampai Merauke, rakyat terliput menari dalam kemarahan. Bukan joget ala DPR, tapi tarian perlawanan. Apakah rakyat seperti ini dianggap melanggar UU Nomor 9 tahun 1998 terkait Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum?
Telah dipublikasi aksi unjuk rasa di sejumlah titik di Jakarta, seperti depan gedung DPR/MPR telah mengakibatkan dampak kerugian bisnis terutama aktivitas pengangkutan barang dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara ke sejumlah pabrik/industri di Jabodetabek.
Demonstrasi itu seperti merespons kemarahan publik di media sosial .
Tampaknya aksi demo yang terjadi di Jakarta pada Kamis 28 Agustus 2025 berbuntut panjang. Demo yang awalnya dilakukan di depan gedung DPR tersebut memicu kerusuhan hingga menelan korban jiwa.
Pengemudi ojek online (ojol) tewas terlindas rantis Brimob. Tewasnya Affan awalnya memicu gelombang aksi yang lebih besar dari rekan sesama ojol pada Jumat 29 Agustus 2025. Kemudian berkembang diikuti aksi aksi oleh berbagai kelompok mahasiswa, pelajar, emak emak hingga korban PHK.
***
Pertanyaan logisnya, dengan peristiwa yang dialami Affan Kurniawan, cukupkah diperjuangkan hanya melalui penyampaian aspirasi rakyat kepada Kapolri?
Akal sehat saya bilang rakyat sedang marah, itu alasannya setelah mengamati aksi demo dimana mana tanpa takut gas air mata.
Peristiwa rantis melindas driver ojol itu terekam kamera warga dan langsung menyebar luas di internet.
Ini memicu gelombang kemarahan masyarakat. Sejak saat itu, rakyat turun ke lapangan meluapkan kemarahannya kepada institusi Polri.
Dengan peristiwa itu, akal sehat saya berbisik tentu ada perbedaan utama antara rakyat marah dan rakyat menyampaikan aspirasi. Kemarahan rakyat pasca kematian driver ojol terletak pada manifestasi emosi dan cara penyampaiannya.
Rakyat marah menunjukkan emosi negatif yang kuat seperti kemarahan dan ketidakpuasan.
Antara lain melalui protes atau demonstrasi yang lebih eksplisit pada tanggal 29 Agustus. Sementara rakyat menyampaikan aspirasi adalah ekspresi keinginan, harapan, dan tuntutan terjadi tanggal 25 dan 28 Agustus.
proses penyampaian pendapatnya nyaris memenuhi syarat yang berlaku dalam undang-undang yakni UU Nomor 9 tahun 1998 terkait Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
***
Dalam bahasa penguasa ada eskalasi pada demo di beberapa wilayah yang cenderung menunjukkan tindakan anarkis.
Misalnya peristiwa penyerangan markas, pembakaran fasilitas umum, dan tindakan lain.
Cara pandang aparat penegak hukum adalah menakut nakuti. Tapi rakyat masih melakukan aksi lebih berani.
Gedung Grahadi di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, akhirnya dibakar massa, Sabtu (30/8/2025) malam, pukul 22.53 WIB. Sejak malam itu api terlihat membakar gedung di bagian barat.
Asap hitam membumbung tinggi. Di sekitar gedung juga tampak massa yang sedang menonton hingga ke arah Jalan Genteng.
***
Akal sehat saya menyimak rakyat Indonesia sedang marah. Ini tampaknya bukan marah biasa, tapi marah yang sudah diasapi bertahun-tahun oleh janji palsu, joget pejabat, dan survei kepuasan yang entah ditulis pakai tinta atau air mata.
Demo besar-besaran bukan lagi soal tuntutan. Ini sudah jadi ritual kemarahan nasional. Di tengah kobaran itu, muncul parade tokoh-tokoh yang entah sedang berperan sebagai wakil rakyat atau bintang variety show.
Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya, tiga nama yang disebut berulang kali oleh massa demo di depan DPR. Mereka viral bukan karena gagasan brilian, tapi karena ucapan tolol sedunia dan berjoget di Sidang Tahunan MPR 2025.
Mereka jumawa saat rakyat sedang berduka atas tewasnya Affan Kurniawan, driver ojol yang dilindas rantis polisi. “Mana lu Uya Kuya, Eko Patrio, Sahroni?” teriak demonstran, sambil menjebol pagar DPR dan memblokir jalan tol, hari Jumat.
Tentu ini bukan nostalgia 1998. Peristiwa ini 2025, rakyat hingga menerobos pagar tentu bukan sekedar menyampaikan aspirasi.
Akal sehat saya menangkap reflelsi rakyat tidak seolah-olah hanya menyampaikan aspirasi, tapi marah.
Terkesan kehidupan rakyat sedang diganggu. Baik tanah rakyat, air rakyat, dan hidup rakyat. Apakah dengan peristiwa seperti ini wajar seorang legislator menyarankan rakyat “belajar bersyukur”?
Apalagi datang angka ajaib, 78 persen rakyat puas terhadap kinerja pemerintah. Survei Indonesian Social Survey (ISS) menyebut kepuasan publik tinggi karena rasa aman dan kepercayaan terhadap institusi. Pada survei yang sama skor kesejahteraan ekonomi hanya 42,6 dari 100.
Apa membacanya rakyat puas meski miskin? Atau surveinya puas karena tidak menanyakan ke rakyat soal utang dan harga beras?
Celios, lembaga ekonomi bahkan mencatat adanya aksi demo yang berlangsung selama 2 hari berturut-turut ini telah memukul perekonomian Indonesia.
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, (29/8/2025). Pergerakan nilai tukar rupiah tersebut didorong sentimen internal dan eksternal.
Pada perdagangan jelang akhir pekan, rupiah ditutup merosot 147 poin, sebelumnya rupiah melemah 160 poin di posisi 16.499 terhadap dolar AS dari penutupan sebelumnya di posisi 16.352.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, bahkan menuturkan, rupiah berpeluang melemah pada Senin, 1 September 2025. Kata Ibrahim, rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang 16.490-16.520.
***
Masuk akal semakin panasnya kondisi sosial dan politik di Indonesia saat ini ada yang menilai imbas ada korban jiwa pada aksi demonstrasi. Kita penikmat media sosial mengikuti, kabar adanya korban jiwa ini ramai di kalangan masyarakat sejak Jumat malam. Akibatnya kondisi demonstrasi semakin tereskalasi.
Kelihatan rakyat sedang marah. Peristiwa ini
berbeda dengan menyampaikan Aspirasi.
Kemarahan rakyat ini isyarat sedang goyang pemerintahan Presiden Prabowo.
Menyimak narasi aksi-aksi demo, rakyat sedang bertanya dan sedang menuntut.
Dalam pikiran akat sehat saya, penguasa bisa takut kalau kemarahan itu berubah jadi delegitimasi.
Sejarah mencatat kepercayaan masyarakat tidak bisa diminta. Kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui pengakuan kesalahan dan transparansi.
Pelindasan oleh rantis brimob ini bisa dibaca pemerintahan saat ini gagal melindungi warganya. ([email protected])
Editor : Raditya Mohammer Khadaffi