SURABAYAPAGI.com, Tuban - Pada musim panen saat ini, para petani bukannya untung justru buntung dan gigit jari. Pasalnya, di musim kemarau basah ini, harga komoditas tembakau anjlok bebas dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurunnya harga komoditas tersebut lantaran kualitas panen tembakau menurun atau buruk. Penurunan itu diakibatkan karena cuaca tidak menentu atau kemarau basah yang melanda wilayah setempat. Sehingga, musim panen tembakau tahun ini tidak sesuai dengan harapan petani.
Sebab, harga daun tembakau basah saat ini hanya kisaran Rp2.500-Rp3.500 per kilogram. Padahal pada tahun lalu, harga daun tembakau basah bisa menyentuh Rp4.500-Rp5.500 per kilogram.
“Harga daun tembakau basah saat ini hanya Rp2.500-Rp3.500 per kilogram. Kalau tahun lalu bisa sampai Rp5.500 untuk perkilogramnya,” ujar Guno (50), salah satu petani tembakau di Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Kamis (09/10/2025).
Lebih lanjut, menurut Guno, musim kemarau basah saat ini sangat berdampak terhadap kualitas daun tembakau miliknya. Sehingga secara otomatis harga jual tembakau pun juga mengalami penurunan. Selain itu, hasil panen daun tembakau jenis codong miliknya juga menurun drastis.
“Kalau biasanya satu batang tembakau bisa dipanen hingga 5-7 kali, ini hanya 1-2 kali saja,” ungkapnya.
Dengan hasil panen seperti ini, ia harus merugi hingga jutaan rupiah mulai dari penanaman, perawatan hingga tenaga untuk panen. Sedangkan, ketika disinggung soal bantuan pertanian dari pemerintah, Guno hanya bisa pasrah dan mengaku selama ini bantuan justru diberikan kepada pemilik lahan, bukan kepada petani penggarap seperti dirinya.
“Bantuan biasanya hanya untuk pemilik sawah. Padahal, mayoritas petani di sini statusnya penggarap atau penyewa. Pemerintah jarang turun langsung mengecek kondisi sebenarnya di lapangan,” tegasnya. tb-01/dsy
Editor : Desy Ayu